Final Sepakbola Indonesia – Malaysia

Dalam nuansa ikut-ikutan perhatian sama perhelatan Sea Games yang dibuka dengan acara gembar-gembor hambur-hamburan uang namun ternyata cukup membuahkan hasil yaitu Indonesia hampir bisa dipastikan keluar sebagai juara umun, saya mau ikut memberikan komentar tentang satu ganjalan yang membuat rasanya predikat juara umum sea games jadi kurang afdol karena kekalahan timnas U-23 dalam final pertandingan sepakbola melawan malaysia kemarin malam. Komentar dalam bentuk tulisan ini mohon dianggap sebagai sekian banyak rangkaian kalimat yang dikeluarkan oleh seorang pria BUKAN penggemar bola, bahkan kaga bisa main bola. Kalimat-kalimat ini tertulis berdasarkan apa yang saya bisa liat dan bisa mengerti saja, mohon maklum kalo ga ada istilah teknis atau malah menggunakan istilah yang saya ngerti sendiri.

Setelah yakin bahwa kerjaan sudah selesai dan tidak ada sesuatu atau seseorang yang perlu dinantikan, sekitar pukul 5 sore saya berbegas pulang dari kantor dengan langkah gontai biar disangka cape kerja. Lalu lintas cukup padat mungkin karena banyak yang buru-buru pulang untuk bisa nonton final sepakbola melalui siaran tipi atau malah datang langsung ke GBK. Saya juga termasuk salah satu dari mereka yang memilih untuk nonton via tipi rumah. Maka sekitar jam 7 malam saya tiba di rumah, segera berganti pakaian dengan gaya kesukaan: celana pendek bertelanjang dada (ngerasa atletis) kemudian memasang tipi dan mencari saluran yang menyiarkan siaran langsung pertandingan tersebut. Setelah melewati beberapa kali kehilangan jejak (ga apal nomor berapa salurannya) yang membawa saya pada acara AMA 2011 atau pertunjukkan sinetron ga penting, akhirnya pada kali keempat pencarian saya mendapatkan saluran yang tepat. Para pemain sepakbola sudah berbaris dan lagu kebangsaan dari dua negara sudah diputar saya pun bergegas mencari posisi duduk kece. Yak, saya siap untuk nonton.

Ditemani dengan sekotak buah mangga potongan sebagai menu makan malam pengenyang cacing perut dan sekaleng beer merk “Diteken” (nama samaran-red) yang berguna untuk membuang gas perut dan melancarkan pencernaan maka saya menikmati pertandingan itu dari awal. Asal kalian tau aja, ini adalah kali pertama saya nonton sepakbola dari amat awal, saya kan ga suka sepakbola. Ga peduli juga. Jadi kemarin itu saya nonton supaya ga kalah set sama teman-teman yang pasti hari ini pada ngomongin bola, juga biar ga kalah set ikutan komentar di twitter. Begitu mulia niat saya.

Pertandingan pun dimulai. Indonesia mulai melakukan serangan-serangan berbahaya, penekanan-penekanan yang cukup memusingkan bagian belakang malaysia. Cukup intens dan berlapis serangan yang diberikan oleh para pemain Indonesia namun jangan pernah anggap remeh serangan malaysia yang juga mematikan. Pokoknya seru deh. Sampai akhirnya pada menit kesekian (masih belasan lah) terciptalah gol pertama dalam pertandingan itu. Gol dari indonesia melalui sundulan kepala seorang pria berambut di-skin samping kiri kanan bernama Gunawan (itu doang taunya) setelah memanfaatkan tendangan sudut yang diberikan oleh Okto (sama, taunya itu doang). Sundulan yang indah berhasil membobol gawang Fahmi sang kiper malaysia yang terkenal alot banget. Sontak GBK yang didominasi warna merah terlihat begitu semarak oleh joget para penonton dan riuhnya teriakan kebahagiaan yang dikeluarkan para pendukung. Hebaaaaat!!! Saya pun hampir melakukan joget erotis namun tidak jadi mengingat melanggar etika moral dan  kaidah agama. Saya hanya menelan 5 potongan mangga secara bersamaan sebagai kepuasan melihat gol indah itu. Hebat!

Namun seperti biasa, jika sudah berhasil pasti jadi agak terlena. Seperti itulah yang saya lihat dari permainan tim indonesia, beberapa kali kehilangan kontrol bola dan barisan pertahanan yang terlihat seperti “tidak siap” menyambut tekanan dari malaysia dan beberapa kali tendangan berbahaya hampir menjebol gawang. Komunikasi antar pemain kurang berjalan dengan baik, terlihat gugup atau apa ya, pokoknya jadi kurang macho deh. Untungnya kiper Indonesia yang saya lupa namanya cukup lincah dan cekatan. Reflek yang bagus memang sangat dibutuhkan ketika pemain belakang sudah tidak mampu menjalankan tugasnya. Sampai akhirnya di menit-menit lanjut usia babak pertama terciptalah gol penyeimbang skor oleh pemain malaysia. Betapa bahagianya suporter malaysia yang berjumlah segelintir di tengah puluhan ribu suporter indonesia. Betapa bangganya ketika melihat pemain kecintaan mereka berhasil menjebol gawang indonesia. Terlihat kekecewaan di wajah pemain indonesia, seperti tidak percaya bahwa skor mereka berhasil disamakan. Begitulah, kawan, bola itu bundar. Kalo kotak namanya bukan bola, tapi kotak amal. Akhirnya babak pertama selesai dengan skor 1-1.

Saat turun istirahat, saya menyempatkan diri untuk nyuci kaos kaki supaya kaki ini tidak mengeluarkan bau yang kurang sedep. Sekian. Abaikan.

Masuk babak kedua, saya masih ditemani oleh sekotak mangga potongan juga sekaleng beer yang keduanya sudah berkurang volumenya. Terlihat mulai menurunnya stamina pemain indonesia, tidak se-intens awal-awal pertandingan yang dengan gagah berani langsung mengobrak-abrik pertahanan lawan. Kali ini saya melihat banyak terjadi kesalahan kontrol bola dan salah umpan. Oke, saya tau bahwa hal itu tidaklah mudah, namun kan mereka udah latihan ya jadi seharusnya kontrol bola bisa lebih baik dilakukan. Kemudian saya juga menyayangkan betapa seorang Okto hobi banget utak-atik bola, seperti ingin membuktikan bahwa dia bisa melewati beberapa pemain malaysia sekaligus sehingga akhirnya bola terlepas dari kaki padahal ada beberapa pemain lain yang – sebenarnya menurut saya – siap untuk menerima operan bola sebelum akhirnya mengeksekusi gawang malaysia. Mau membuahkan gol atau tidak itu belakangan yang penting – kembali menurut saya – ciptakanlah peluang untuk pemain lain, ciptakanlah peluang untuk membuat gol, jangan diolah sendiri. Kan ini main tim ya… Sayang sekali Okto… Namun tetap saja Indonesia berhasil mendapatkan beberapa peluang emas yang benar-benar emas (bukan sepuhan) – sayangnya tidak bisa diselesaikan dengan baik. Saya salut melihat betapa peluang-peluang itu bisa diperoleh dan dieksekusi secara lugas walau belum berhasil membuahkan gol. Tapi usahanya udah amat bagus! Salut koq. Eh, jangan lupa ya, si Fahmi itu, sang kiper malaysia, emang terkenal jago banget! Saya melihat dia seperti spiderman yang dengan memakai jaring bisa menyeret bola ke tangannya. Seperti lengket. Refleknya emang bagus dan begitu cekatan. Padahal tingginya kalo menurut saya masih kurang ya. Bandingkan deh ama Markus, kiper indonesia berkepala botak yang kebanyakan gaya, Fahmi mah jelas tingkatannya di atas Markus. Angkat topi buat Fahmi. Angkat kaki buat Markus. Perjuangan indonesia belum selesai, disela-sela menurunnya stamina akibat kurangnya istirahat tetap saja hampir membuahkan gol-gol indah, bahkan Tibo (ga tau juga lengkapnya) hampir menambah angka untuk kemenangan Indonesia jika gol-nya tidak dianulir karena dianggap offside. Ya sudahlah. Namun juga malaysia tampil menggila. Indonesia cukup diobrak-abrik dan seringnya sih akibat kurang sigapnya mereka melihat “bahaya” yang mengancam. Terlihat beberapa kali striker malaysia dibiarkan “bebas” tanpa ancaman. Untung aja tendangan mereka masih melenceng dan permainan kiper Indonesia yang cukup cekatan. Maka babak kedua pun selesai dengan skor 1-1 memaksa untuk dilakukannya babak tambahan.

Saat istirahat menuju babak tambahan saya memutuskan untuk menjemur dulu kaos kaki yang telah saya cuci dan rendam pake pewangi. Sempat koq. Harus pake pewangi ya biar kalo ada yang mau cium kaos kaki bisa merasakan bahwa ada semilir wangi bunga. Sekian. Abaikan.

Masuk babak tambahan permainan tidak terlalu berubah. Kedua tim sama-sama terlihat menurun staminanya namun tetap masih berusaha keras untuk menjebol gawang lawan. Dan karena kegalauan yang tidak berujung sampai akhir babak tambahan, memaksa harus dilakukan adu penalti. Saat itulah firasat saya mengatakan bahwa hal ini akan berbahaya bagi Indonesia. Kiper malaysia jago bangeeeet. Tapi kan bola itu bunder ya, kalo segitiga mah namanya celana kolor, maka apapun bisa terjadi. Maka dimulailah ajang eksekusi tendangan penalti dan show off para kiper. Begini kira-lira gambarannya:
– tendangan pertama indonesia berhasil menjebol gawang namun dengan kiper yang bisa menebak arah bola
– tendangan pertama malaysia berhasil menjebol gawang dengan kiper yang terkecoh arahnya
– tendangan kedua indonesia berhasil menjebol gawang namun kembali dengan kiper yang bisa menebak arah bola
– tendangan kedua malaysia berhasil menjebol gawang dengan kiper yang kembali terkecoh arahnya
– tendangan ketiga indonesia gagal menjebol gawang karena mengenai tiang gawang
– tendangan ketiga malaysia pun gagal menjebol gawang karena kiper indonesia berhasil menghalau bola dengan gemilang
– tendangan keempat indonesia berhasil menjebol gawang dengan kiper yang terkecoh arahnya
– tendangan keempat malaysia berhasil menjebol gawang namun kiper berhasil menebak arahnya
– tendangan kelima indonesia gagal. Tidak cukup keras dan dapat dengan mudah ditangkap oleh kiper
– tendangan kelima mayasia berhasil menjebol gawang walaupun sempat menyentuh kaki kiper, namun bola bergulir masuk ke arah gawang

Mimpi buruk pun terjawab sudah… Indonesia kalah.

Ya, Indonesia kalah dalam final sepakbola. Kalah di kandang sendiri dengan lawan bebuyutannya. Puluhan ribu harapan suporter yang hadir di GBK dan harapan jutaan warga negara yang nonton melalui siaran tipi agar indonesia bisa melengkapi predikat juara umum sea games dengan menjadi juara sepak bola pun terpaksa kandas. Kenyataan pahit harus diterima. Malaysia juara 1 dan Indonesia juara 2.

Namun apakah kita semua harus menyalahkan para pemain Indonesia dengan alih-alih kekecewaan atas penantian 20 tahun yang kandas? Sama sekali tidak. Saya melihat bahwa para pemain Indonesia berusaha dengan semaksimal mungkin, sampai titik darah penghabisan. Terbukti mereka mampu melayani kegarangan malaysia dan memaksa mereka sampai ke babak adu penalti bahkan kalahnya pun hanya 1 bola saja. Bayangkan, Boi, dengan pemain yang udah kehabisan tenaga tetap mereka mampu memberikan yang terbaik dan sama sekali tidak memalukan. Justru membanggakan! Pemain Indonesia itu kemarin seperti pejuang tahun 1945 yang merindukan kemenangan dan berusaha mati-matian. Ya! Saya dengan segala keawaman dan ketidakmengertian mengenai persepakbolaan begitu bangga melihat permainan mereka. Terjadinya kesalahan teknis dalam pertahanan atau kontrol bola adalah hal yang menjadi PR bagi para pemain, pelatih dan juga pengurus persepakbolaan negara ini. Lalu saya kaget ketika kegagalan penalti dijadikan hujatan via twitter. Eh, apakah mereka tidak bisa merasakan betapa beratnya beban yang diusung sang eksekutor? Apakah mereka lupa bahwa pemain kelas dunia Roberto Baggio pun pernah mengalami hal yang sama? Bahkan lebih parah! Bola yang ditembaknya terlontar ke atas tiang gawang, kalo pemain indonesia kemarin malah masih mengarah ke gawang walopun berhasil ditangkap dengan sempurna. Intinya adalah hal itu jangan dijadikan “celaan”. Bayangkan jika itu kalian yang mendapatkan kesempatan itu, pasti ga lebih baik juga kan? Hahahahahaha. Demikian juga dengan kegagalan kiper indonesia dalam mengantisipasi bola yang harus bergulir setelah terkena kakinya. Lihatlah, Boi, kiper itu sudah berusaha keras untuk menghalau bola, tapi sekali lagi, karena bola itu bulat maka bisa bergulir dengan pelan namun pasti untuk menambah angka bagi kemenangan malaysia. Yang perlu dilihat adalah betapa kiper sudah berusaha maksimal. Hargailah. Jangan dihujat. Namun sejujurnya saya pun pernah menghujat permainan tim indonesia saat sebelumnya melawan malaysia dan kalah 0-1. Kenapa saya menghujat? Karena saat itu permainan yang mereka tunjukkan benar-benar bukan kelas pemain nasional, itu  mah cocoknya disebut permainan tarkam alias antar kampung. Menyedihkan banget. Mau apapun alasannya, jangan pernah menganggap remeh. Tetap keluarkan permainan yang ciamik walopun dengan dalih yang diturunkan adalah pemain lapis kedua. Nah, kualitas yang saat itu mah seperti lapis kesepuluh, alias kualitas para pengelap bola yang tiba-tiba disuruh main karena tim ga lengkap. Gitu deh.

Begitulah hasil pengamatan saya atas pertandingan sepakbola kemarin. Indonesia memang gagal dalam melengkapi predikat juara umum dengan predikat cabang olahraga terfavorit dan paling bergengsi di negara ini, tapi percayalah ada harapan yang jauh lebih besar yang bisa kita pupuk terus saat melihat permainan indah yang didemonstrasikan para pemain Indonesia kemarin malam. Yang penting adalah bagaimana proses pembentukan dan pengarahan mereka supaya bintang-bintang muda lapangan itu bisa makin bersinar dan akhirnya dari 11 sinar yang berkilau di lapangan hijau bisa membuat negara ini berkilau di kancah persepakbolaan Internasional. Jangan korupsi. Jangan dipolitisir. Lakukan yang terbaik untuk terus membina semua cabang olah raga indonesia, karena mereka lah yang akan memberikan kebanggaan bagi negara ini, bukan presiden, antek-anteknya juga keseluruhan pemerintah yang udah rusak otaknya oleh kolusi dan korupsi.

Atlet Indonesia adalah pahlawan masa kini.

Eh, busyet. Koq saya jadi patriot gini ya? Halaaaaaaaahhh… Tenang aja, saya tetap rela koq gajinya dipotong pajak. Semoga pajak itu bisa jadi salah satu sumber dana untuk pengembangan para atlet – kalo ga dikorupsi.

Indonesia Bisa!!!

Bigbangjoe

Posted from WordPress for Android

Advertisements

6 thoughts on “Final Sepakbola Indonesia – Malaysia

  1. Analisa yg tajam dan akurat bung Joe, apalagi yg soal si Markus ihhhh bener bgt! Gw jg salut dan bangga sama tim u23 kita, ga nyangka mrk bsa ks umpan2 yg seakang bola-nya lengket di kaki, gocekannya jg bs ngecoh lawan. Kereenn…

  2. Terima kasih atas komentar Bung..kusan!
    Yup, ga bisa instan jika memang ingin jadi juara, namun apa yang kemarin ditampilan oleh U23 itu udah luar biasa, hanya perlu diasah terus. Jangan keburu puas dan besar kepala. Mendingan besarin betis aja biar latrinya makin kuat.

    Gue setuju banget, overall demonstrasi yg dilakukan oleh U23 kemarin KEREN.

  3. Manteppp kak josh,,,,salute gue sama smua tulisan lo yg ada di blog ini,,,ga cuma ngebuat org yg ngebaca nya terkesima (apalagi di bagian yg nelen mangga 5 biji sekaligus!!!!!ckckck..hebat jg yahhh)hahahaha)tp secara keseluruhan,,tulisan lo ini gue amat sangat setuju….krn betul apa yg lo blg,,mrk udh bertarung abis2an smp udh abis napas kmrn,,,tp ttp aje kalah…cuma gue jg salute buat perjuangannyeee..mantepp dehh…anyway,,blog lo keren bgt dan gue suka sekaligus lucu buat baca nya…besok2 kata nya si alan mau tuh kak cium kaos kaki lo yg harumnya semilir bunga gituh..hahahahahaha..good luck kak josh…mantapppp!!!! \m/ \m/ \m/

  4. Hahahaha…. Thx ya Irvan. Ginilah kalo orang awam sepakbola mau kasih komentar tentang sepakbola, ya jadinya ngaco dan ga penting ye…
    Yup, salut gue ama tim U23. Musti terus kaya gitu ya biar persepakbolaan negara ini makin maju.
    Untuk Alan, sampaikan saja bahwa saya menantikan kedatangannya bila mau mencium kaos kaki. Ada beberapa opsi:
    1. benar2 baru selesai cuci
    2. udah dipake sehari
    3. udah dipake seminggu.
    Silahkan dipilih mau cium yang mana. Terima kasih.

    \m/ \m/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s