Rela

Menunggu adalah hal yang paling mengesalkan. Apalagi jika sedang jatuh cinta. Menunggu menjadi kegiatan yang mematikan, membuat kaki lemas (kalo nunggunya sambil berdiri), membuat pantat tepos (kalo nunggunya sambil duduk), membuat kelaparan (kalo nunggunya sampe malam dan belum makan siang), membuat badan bau asep knalpot (kalo nunggunya sambil ngecenk di halte bis). Belum lagi ditambah dengan segala pikiran tentang dia yang membuatmu bertanya-tanya apakah yang sedang dilakukannya sampai membuatmu lama menunggu.

Seperti kejadian (pasaran) seperti ini:

Janji ketemu di halte bis, jam 5 sore. Dari kantor jam 4:30 sore dengan perhitungan jalan kaki dulu lalu nyambung naik metromini maka akan tiba di tempat janjian sedikit lebih cepat atau sedikit lebih lambat. Kenyataannya memang selalu sedikit terlambat, lewat 5 menit dari yang disepakati. Namun dirinya pun juga masih belum tiba. Tak mengapa, justru memang kodratnya adalah pria yang harus menunggu duluan. Lega deh.

Mencari posisi yang nikmat buat menunggu, terpaksa harus berdiri karena tempat duduknya sudah terisi oleh seorang wanita ber-bumper besar, seorang ibu dengan 3 plastik belanjaan, seorang pria sok kece yang sedang asik merokok dan di paling ujung sebenarnya ada tempat tapi sudah dipepet dengan gerobak roti, jadi duduknya ga bakalan nikmat. Ga masalah lah berdiri, paling 5 menit lagi sudah ketemu. Hati berbunga, senyum mengembang kala mengisi waktu tambahan dengan khayalan indah tentang wajahnya yang rupawan.

Sekonyong-konyong telepon selular bergetar tanda ada pesan eletronik yang masuk. Dibuka dan dibacanya : “Aku masih harus mengirim e-mail nih, tunggu ya 10 menit lagi. Maaf ya…”.  Agak kaget tapi tak mengapa, apalah arti 10 menit tambahan dibanding dengan beberapa jam kebahagiaan yang akan dirasakan saat nanti berjalan dan makan-makan bersama. Lagian juga banyak hal yang bisa dilakukan dalam penantian, seperti memandangi orang-orang yang berlalu lalang, ngecenk di depan cewek-cewek yang bersliweran (zzz…zzzzz….zzz…), menikmati aroma olahan nasi goreng dan asap sate yang nongkrong tidak jauh dari tempat berdiri walopun kuatir semua itu akan menghilangkan aroma parfum yang sampai saat itu maih menempel di baju. Apa boleh buat, masih mending wangi nasi goreng atau sate ayam, masih bikin selera makan. Kali aja pas nanti ketemu dirinya akan jadi gemes dan pengen gigit-gigit, duh mesranya… Nah, pikiran seperti itulah yang membuat penantian ini terasa menyenangkan. Tapi kalau dipikir-pikir ya, sudah 15 menit lewat berada dalam penantian dan waktu terus berputar.

Merasa mulai tidak sabar, beberapa kali mata memandang jam tangan dan ternyata sudah lewat dari 10 menit perpanjangan waktu. Sudah masuk 15 menit. Ga apa-apa lah ya, kan dia pasti butuh waktu untuk mematikan computer, membereskan meja, lalu menunggu lift yang akan membawanya turun dan dalam perjalanannya harus berhenti di beberapa lantai, lalu jalan kaki keluar dari lift menuju lobi, lalu dari lobi menuju halte. At least  itu membutuhkan 10 menit deh ya ,jadi perpanjangan waktu 10 menit dari 10 menit yang disebutnya tetap masih terasa wajar. Tidak keberatan lah untuk menambah 10 menit lagi waktu tunggu. Berarti 20 menit ya… Untungnya semakin malam suasana halte semakin ramai dengan manusia lalu lalang dilengkapi dengan pemandangan kemacetan jalan, dipenuhi manusia-manusia tidak sabar dan beberapa kali hampir terjadi kecelakaan. Ya, semua itu jadi hiburan kala kaki mulai penat dan jantung mulai berdetak lebih cepat. Sejujurnya, hal itu mulai membangkitkan siksa dalam hati. Mulai muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang sedang dia lakukan, kenapa lama sekali, emangnya seberapa jauh sih halte ini dari kantornya, dlsb. Mulai parno – istilahnya. Tapi, yang namanya jatuh hati ya, tetep aja otak ini selalu membawa pemikiran yang lebih positip. Bayangin senyum manisnya aja deh, niscaya hati ini jadi lebih tenang walau tidak mampu untuk menahan keinginan untuk kembali melihat jam, ternyata sudah 30 menit waktu penantian di dalam berdiri…

Sekonyong-konyong dari kejauhan terlihatlah wujud sebuah bis yang seharusnya membawa kami pergi dari halte itu. Berkali-kali menengok ke arah seharusnya pujaan hatimu datang, berharap dia mempercepat langkah supaya bisa naik bis yang dimaksud. Bis mendekat dan terlihat bahwa cukup kosong, banyak bangku yang bisa diduduki. Namun apa daya, pujaan hati belum juga tiba… Berlalulah bis idola itu dengan angkuhnya…. Sementara waktu menunggu telah diperpanjang selama 40 menit dan belum juga nampak sosok pujaan hati dari arah sebelahsana…Ada apakah gerangan?

Menit ke 41,  sudah tidak ada lagi hal yang bisa jadi penghibur. Pikiran mulai diisi segala macam pemikiran negatip. Antara kesal, mau marah atau apapun. Terpikir untuk segera mengirimkan pesan elektonik tapi tidak mau membuat pujaan hati menjadi tidak nyaman, nanti dia malah jadi kesal dan pergi lagi. Kasus deh… Tapi tak pelak, pikiran ini mulai menduga-duga apa sebenarnya yang sedang dilakukannya, jangan-jangan ada apa-apa di jalan, hal yang membuatnya “celaka”, tak akan bisa memaafkan diri sendiri jika hal itu terjadi! Sungguh hati tidak tenang, jantung berdetak makin kencang, tubuh terasa lemas, Untungnya sudah duduk ya, namun keringat mulai mengucur akibat gugup dan membuat pantat jadi keringatan. Mencari-cari kertas untuk dijadikan kipas walaupun angin berhembus cukup keras. Ah, sungguh menyiksa…

Duduk tertunduk bagai orang mengantuk, wajah semakin dalam ditekuk. Sesak nafas semakin menyerang. Bukan karena kelamaan berada di pinggir jalan dan menghisap gas beracun dari knalpot dan kentut orang di sebelah, tetapi lebih karena jantung yang berdegup terlalu cepat. Membuat selera makan hilang walau semerbak bawang putih menyerang… Kesal, bingung, marah dan berbagai kekalutan lainnya mendera-dera hati yang tadinya berbunga-bunga. Namun apa yang bisa dilakukan? Meninggalkannya? Sangatlah tidak mungkin! Masa iya sih waktu bisa mengalahkan besarnya cinta yang ada di dalam jiwa?

Dan sekonyong-konyong dia muncul, bagaikan jawaban doa yang bahkan belum sempat terucap. Berdiri, meninggalkan tempat duduk untuk bergegas menemuinya…

Wajah yang tertekuk bagai dibelai lembut ketika pujaan hati tersenyum manis dengan gerak lembut bibir yang mengucapkan “Maaf… Aku tadi dis u  r   u    h     o    l…. …. …” kata-kata selanjutnya tidak terdengar lagi karena perhatian tertuju bukan lagi pada apa yang dikatakannya, namun pada kecantikan yang terpampang di hadapan, pemberi kelegaan. Ketenangan. Bukan mata yang memandang, namun cinta…

“Kamu cape ya menunggu”

Tidak perlu dijawab, senyum dan rengkuhan pada tangannya adalah cara paling bijaksana untuk mengungkapkan betapa semua penantian itu tidak sebanding dengan besarnya rasa bahagia saat bersamanya.

Dan penantian itu berlanjut lagi selama hampir 30 menit, menanti kedatangan bis idola selanjutnya. Namun kali itu tanpa gerutu, tanpa kesal, tanpa muram, tanpa ketekuk…. Kenyamanan telah ditemukan – berada dalam pribadi sang pujaan hati…Menanti sampai jam 12 malem juga dijabanin! Hahahahahaha….

Itulah jatuh cinta.

Kau rela didera hal yang paling mengesalkan.  

Karena Cinta yang melihat dan merasakan…

That’s the way love goes…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s