Guitar Knight alias Ksatria Bergitar

image

Menjadi musisi ternama adalah impian saya sejak bisa bermain gitar. Mimpi yang membuat saya melupakan tujuan utama belajar gitar: Ngejar Cewek. Alih-alih sekedar membuat cewek inceran bertekuk lutut di hadapan sambil meraung-raung mengharapkan pembagian jatah cinta saya, ternyata keinginan untuk bisa bermain sepanggung dengan Stone Temple Pilots menjadi obsesi seumur hidup. Betapa sering saya membayangkan suatu saat menonton STP manggung dan tiba-tiba mereka memanggil salah seorang dari fans-nya untuk naik ke atas panggung dan mengajaknya memainkan satu lagu bersama. Atau paling jelek tiba-tiba gitaris atau bassist-nya jatuh sakit dan pertunjukan nyaris dihentikan, untung saja ada seorang fans-nya yang berani dan mampu menggantikan posisi sang gitaris atau bassist dalam konser itu. Tentunya yang dimaksud dengan fan itu adalah Saya. Ya, saya hapal mati guitar chords and bass line dari hampir seluruh lagu STP. Kalo pun ga terlalu sama chord-nya yang penting kedengerannya mirip lah. Hehehehehehee… Namun ternyata STP telah manggung di Jakarta, saya menontonnya, dan kejadian yang saya “impikan” itu tidak terjadi – untungnya. Dengan demikian kandaslah mimpi saya untuk menjadi orang beken.

Tetapi sebenarnya tanpa harus sepanggung dengan STP pun saya tetap pengeeeeen banget dikenal sebagai musisi yang canggih. Makanya saya sangat bahagia saat masih aktif nge-band dulu, beberapa kali ditegursapa oleh anak-anak kampus yang saya tidak kenal namanya, ternyata mereka baru aja melihat saya manggung beberapa hari yang lalu dan – mungkin – agak-agak tertarik dengan permainan band kami. Lumayan deh jadi berasa agak-agak kece. Hehehehehe. Oh iya, asal kalian tau aja, jaman dulu itu jadi anak band emang agak istimewa karena masih jarang banget grup band muncul, ga kaya sekarang yang setiap belok dikit udah ketemu ama anak band. Di sekolahan banyak banget orang bergaya anak band, pergi ke mol keliatan banget gayanya anak band, pergi ke gereja keliatan banget gaya anak band yang lagi tobat, antri di atm keliatan banget gaya anak band yang keabisan duit, pergi ke pasar keliatan banget gaya anak band yang disuruh ama nyokapnya beli jahe ama ketumbar. Pokoknya jaman sekarang di mana-mana ada anak band. Pasaran.

Posisi utama saya di dalam band adalah sebagai bassist dan backing vocal, namun dikarenakan punya band sampingan, maka juga merangkap sebagai gitaris, baik melodi maupun ritem. Pernah juga menjalani tugas sebagai lead vocal-gitaris. Namun sungguh saat itu sebenarnya saya lebih suka sebagai bassist karena alatnya yang keren dan bisa lebih maksimal kalo mau bergaya di atas panggung. Ga perlu mikir lirik, hanya perlu konsisten dalam menjaga ketukan walau sedang lompat-lompat. Istilahnya, saya ga mau kalah dengan lead vocalist yang biasanya menjadi frontman dalam sebuah band. Saya harus (bisa sama) eksis! Jadi saya amat menikmati tugas sebagai personil yang bukan terdepan namun memiliki tugas mulia dalam sebuah band. Hey, main gitar masih boleh salah dikit tapi kalo main bass, jangan coba-coba kalian salah main walopun sedikit, bisa ancur tuh lagu. Ga percaya? Silahkan tanya ke Robert Trujilo sang bassist-nya Metallica yang sekarang.

Namun berkat adanya acara tipi yang disiarkan tidak melalui saluran tipi nasional didukung dengan bertebarannya DVD bajakan, otomatis cakrawala berpikir ini menjadi semakin luas, pengetahuan jadi semakin kaya dan pemahaman jadi semakin dalam. Terima kasih untuk acara-acara yang banyak mengetengahkan pertunjukan kemampuan individual seperti American Idol bahkan Glee yang sering menampilkan orang dengan kemampuan bernyanyi sambil bermain alat musik yang baik. Ya, saya ga peduli dibilang nonton acara gay seperti itu. Tiada acara yang terlalu buruk asal bukan kampungan dan acara memuja setan. Selama masih normal (dalam cara pandang saya) maka acara-acara itu layak untuk ditonton. Glee pun menjadi acara yang sangat berpengaruh untuk semakin mengasah kemampuan saya dalam bernyanyi dan bermusik, juga dalam seni pertunjukan. Ya, acara itu sering memperlihatkan orang yang mampu bernyanyi dengan baik sambil bergitar. Saya iri melihat mereka yang mampu mengalunkan lagu dengan baik hanya dengan diiringi satu alat musik saja. Bukan piano lhow, tapi gitar. Kesannya lebih macho walopun yang nyanyi agak-agak aneh gayanya. Terhenyak oleh kenyataan bahwa sudah lama saya menjadi pelatih paduan suara yang suka cerewet dalam memberikan pengarahan bagaimana bernyanyi dengan baik dan menikmati irama, akhirnya setelah mendalami dengan seksama berbagai perasaan dan keinginan di dalam jiwa, keputusan pun diambil, saya ingin menjadi seorang penyanyi bergitar. Betapa saya ingin mempraktekan segala ilmu dan kemampuan yang sudah saya dapatkan dan latih selama bertahun-tahun namun selalu berakhir dengan menjadi “orang di belakang layar” saja. Bukan. Bukan berarti saya pengen dianggap pahlawan atau pengen beken tapi ini lebih ke arah tuntutan jiwa untuk mengekspresikan diri lebih jauh lagi, mengembangkan kemampuan yang merupakan anugerah Tuhan YME, siapa tau bisa berguna bagi nusa dan bangsa. Kalopun suatu saat nanti bisa ngetop, itu hanya bonus. Heheeheehhe. Sebenarnya juga karena sekarang saya sedang konsentrasi dalam proyek band akustik cari duit dengan konsep fun tapi menghasilkan. Mengapa tidak? Talenta pun harus berguna bagi diri kita sendiri, setuju? Lagian kan juga enak ya bisa mendapatkan penghasilan dari melakukan hobi. Puasnya dobel.

Maka pada suatu sore saat masih terjebak dalam ekting sibuk demi memenuhi kuota jam kerja akibat keterlambatan ngantor setiap hari, sekonyong-konyong mata saya tertuju pada sebuah video clip jadul berjudul Terbaik Untukmu yang dibawakan oleh TIC Band. Lagu yang diluncurkan sekitar tahun 2000 atau 2001 (semoga ga salah) itu terdengar sangat nikmat dan memiliki aura cinta yang dalam. Hati saya tergerak untuk mengaransemennya dengan format one man show bergitar. Selama perjalanan pulang kantor, otak saya membayangkan bagaimana harmoni, dinamika dan chord yang akan saya pilih untuk memainkan lagu itu, sendirian tapi harus mampu menguasai lingkungan tempat lagu itu akan saya tampilkan nantinya. Setibanya di rumah saya segera mengambil gitar dan langsung memetiknya, membayangkan menjadi seorang pria yang berusaha meyakinkan sang kekasih untuk tidak pernah pergi dari sisinya karena dia akan berusaha untuk selalu melakukan yang terbaik untuk hubungan mereka. Ternyata untuk bisa membangun/menciptakan sebuah mood lagu yang akan dibawakan sendirian itu amat sulit. Saya harus bisa memberikan emosi mendalam, membangun dinamika, mengatur keselarasan chord dan menjaga kualitas vokal yang prima, tidak boleh pitchy atau malah fals. Sulit banget! Terlebih karena sudah sedemikian lama saya “tidak membiarkan” diri ini untuk mengeluarkan ekspresi yang sesungguhnya. Apa yang biasa saya lakukan selama ini hanyalah untuk sebuah band atau grup, bukan untuk saya pribadi. Dalam band saya terbiasa bekerja sama dengan 3 orang atau lebih demi membawakan lagu-lagu dengan baik. Harmoni bisa dengan lebih mudah dicapai karena menggunakan banyak instrumen. Demikian juga dalam Vokal Grup atau Paduan Suara, otomatis pembentukan harmoni dan dinamika bisa lebih mudah. Namun kali ini saya harus sendirian membangunnya. Tanpa ada bantuan orang lain. Sungguh menjadi tantangan terbesar bagi “karir” bermusik saya.

Sampai saat ini pun saya masih belajar untuk bisa menjadi solo performer dan dalam prosesnya beberapa kali saya merasa ingin mengundurkan diri. Ga jadi aja. Beberapa kali juga lagu-lagu yang sudah disiapkan untuk dibawakan sendiri justru saya alihkan menjadi materi latihan band. Untungnya ada acara Glee Project (yeaaaah, that gay program, rite?). Walaupun acara itu – menurut saya – jauh tingkatannya di bawah Glee tetapi justru di dalamnya lah saya melihat ada dua orang anak muda cowok yang mampu bernyanyi sambil bergitar dengan asiknya. Cenderung memiliki gaya tampil sederhana yang aneh namun justru di dalamnya saya melihat ada kejujuran. Emosi yang dibangun justru selaras dengan penampilannya. Itulah yang kembali membakar semangat dalam jiwa. Selama ini saya selalu “jaim”, tidak ingin orang lain mengetahui sisi “melankolik introvert” yang pernah dikatakan oleh seorang psikolog, saya lebih suka menguburnya dalam-dalam dan mengeluarkan sisi “hardcoremetal” yang terlihat dari keseharian saya berpakaian dan bergitar. Namun kalo disadari hal ini justru merupakan kekayaan pribadi yang sebenarnya amat baik untuk dikembangkan. Jadi inilah saya, yang telah mengambil keputusan untuk semakin mengembangkan kemampuan pribadi.

Maka, bersiaplah hai Ka Rhoma Irama, selama ini saya selalu iri dengan predikat Ksatria Bergitar yang kakak emban. Hanya dengan naik kuda sambil menggantungkan gitar di punggung dan menolong perempuan cantik dari perilaku jahat pria-pria tengil tidak semerta-merta membuatmu menjadi seorang ksatria. Saya lebih setuju kalo kakak disebut sebagai Ksatria Pencak Silat karena nampaknya ilmu silat yang kakak miliki sudah mencapai tingkat tertinggi, ibaratnya Tiger Wong saat ilmu Sembilan Mataharinya telah membuka sempurna chi-nya. Ksatria Bergitar haruslah seseorang yang memang menggunakan alat musik sebagai senjatanya saat berada di atas panggung. Ksatria Bergitar harus mampu meluluhlantakkan emosi para penikmat musik yang rela memberikan waktu untuk melihat penampilan tunggalmu. Lagian juga kakak sudah punya grup soneta yang notabene berskala internasional karena sudah pernah pergi ke luar negeri dengan kostum dan aksi panggung yang cukup mumpuni. Jadi, biarkanlah saya memupuk cita-cita untuk bisa menjadi pengganti kakak, sebagai seorang Ksatria Bergitar, penampil tunggal, penebar rasa cinta kepada para penikmat musik di seluruh dunia…

Hey, ngapain juga saya minta ijin ke Ka Rhoma? Ini kan blog saya! Pffft!!!

Yang Lagi Belajar,
Aries Boi.

…semoga tanggal 15 oktober 2011 nanti bisa menjadi ajang perdana saya untuk tampil sebagai Ksatria Bergitar di sela-sela kehebohan penampilan band akusitik The Carnival… amin yaaaahhh….

 

 

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s