Pertandingan VG Bapak-bapak

Tiada terasa udah lebih dari 1,5 minggu saya ga nulis karena otak ini memang lagi tersita perhatiannya untuk banyak hal yang tak lain adalah latihan, latihan dan latihan. Ya, saya lagi sibuk dalam mempersiapkan musik untuk beberapa acara ibadah gerejawi, sibuk latihan sama The Carnival dalam proyek “Cari Duit Akustik” yang dalam waktu dekat akan segera dipertontonkan. Terakhir – yang dalam beberapa minggu terakhir amat menyita perhatian – adalah latihan vokal grup bapak-bapak di gereja. Apah? Bapak-bapak? Maksudnyaaaaah?

Bumi terus berputar tanpa bisa dihentikan. Waktu terus berjalan tanpa bisa dicegah. Usia terus bertambah tanpa bisa dikurangi. Orang-orang bertambah cerdas tanpa bisa dibohongi. Saya sudah bertambah tua, sudah menikah maka lengkaplah sudah saya memenuhi kriteria “Bapak”, walopun terkadang masih suka diembel-embeli “Muda”. Heheheheehheehe. Saya sudah berada di luar kriteria “Pemuda” yang untuk beberapa tahun terakhir saya intens latihan bersama mereka (sebelum akhirnya mengundurkan diri). Apa boleh buat yah… Tapi untuk beberapa saat saya memang tetap bersikeras untuk tidak mau gabung dengan kelompok bapak-bapak itu karena merasa bahwa cara bicara dan becanda saya tidak cocok dengan mereka. Saya sulit untuk bisa jaim, kalopun becanda omongannya udah lain banget dah. Materi lawakannya ga bisa yang caur jungkir balik gitu. Heheheehehehehehe. Sampai akhirnya papa memaksa saya untuk turut ambil bagian dalam pertandingan vokal grup para bapak antar gereja di bekasi. Hiks… Sulitnya menolak ajakan papa karena saya ga mau jadi malin kundang versi ambon batak. Dengan penuh keterpaksaan saya menerima ajakannya… Maka bergabunglah saya dengan para bapak yang biasanya dipanggil dengan julukan “Oom”. Lucunya kehidupan ini…

Awal-awal latihan saya merasa kesal yang amat besar dikarenakan sikap para bapak yang keliatan santai dan agak mengentengkan jadwal latihan yang sudah ditentukan. Dua kali saya sudah hadir dalam jadwal latihan dan tiba-tiba dibatalkan saja karena kuota anggota yang tidak cukup untuk latihan. Betapa saya kesal karena waktu yang penting justru disia-siakan begitu saja. Alasan sibuk? Well, semua juga sibuk. Bagi saya tidak ada alasan. Saya emang terkenal disiplin banget dalam hal waktu kalo lagi latihan, sampe saya dicap galak oleh banyak orang. Padahal bukan begitu, kalo mau bagus ya harus pegang komitmen tinggi. Kalo ga bisa komitmen ya jangan berharap dapat hasil maksimal dan jangan nyusahin orang lain. Mudah kan? Akhirnya, sangking kesalnya, saya balas kelakuan semena-mena mereka itu dengan cara tidak ikut latihan beberapa kali, tokh saya hanya bantu dalam hal musik saja. Maka saya suruh aja mereka memantapkan harmonisasi vokal dulu baru setelah itu musiknya gabung. Tinggal ikut saja, ga buang-buang waktu. Terdengar sombong ya? Terserah penilaian kalian aja.
Melihat gelagat yang mulai “hilang kesabaran”, papa segera turun tangan untuk kembali membujuk saya untuk segera gabung dalam latihan. Menurut beliau saya juga dibutuhkan dalam hal pembentukan vokal dan arasemen musik, jadi bukan sekedar main aja. Strategi yang jitu, menyerahlah saya pada bujukan papa.

Selama latihan saya melihat bahwa komitmen waktu memang merupakan hal terberat. Entah apa yang menjadi alasan, baik yang beneran atau yang dibuat-buat saja. Namun saya sempat merasa sangat kesal saat waktu sudah molor selama 1,5 jam dari kesepakatan awal untuk berlatih jam 8 malam. Saya, yang sudah buru-buru pulang kantor demi bisa tepat waktu harus merasa dongkol karena beberapa anggota yang telat hadir dikarenakan nonton siaran Moto GP di tipi. Ga beres banget kan? Entah apa yang ada dalam pikiran mereka sehingga bisa aja tuh menyepelekan orang lain. Atas hal-hal mendongkolkan seperti itulah maka saya “mematikan” jiwa kompetisi dalam latihan ini. Saya sama sekali tidak peduli mengenai pertandingan, mau menang keq, kalah keq, masa bodoh. Ga penting. Hal seperti itu terus terbawa sampai dengan saat pertandingan dilaksanakan. Sungguh, saya ga peduli dengan hasilnya. Ga ngaruh banget. Selama hidup saya termasuk sering ikut pertandingan paduan suara maupun vokal grup baik sebagai anggota maupun sebagai pelatih. Tak bermaksud sombong, menjadi juara 1 cukup sering saya rasakan, paling tidak 3 besar lah. Namun pernah juga saya tidak mendapatkan juara sama sekali. Kalah total, bahkan tidak bisa mencapai predikat juara harapan 3.
Lucunya, pertandingan vokal grup ini tidak sedikitpun membuat saya “gentar”, “kuatir” akan apa yang menjadi hasilnya. Sangat berbeda dengan pengalaman saya yang sebelum-sebelumnya, bisa-bisa saya tidak tidur karena ga tenang dalam menghadapi hari pertandingan. Andrenalin yang dulunya terpacu dengan cepat justru seperti menghilang begitu saja. Ga ada sensasi apapun.

Maka saat pertandingan dilaksanakan pun saya menghadapinya dengan maha santai. Berdasarkan info hanya ada 17 vokal grup yang akan menjadi peserta, pada kenyataannya hanya 11 saja dan VG saya mendapat nomor undian 11. Mendapat giliran terakhir bisa dibilang menyenangkan sekaligus mengesalkan. Menyenangkan karena bisa melihat semua peserta yang maju duluan, bisa mengevaluasi mereka sekaligus belajar hal-hal yang baik. Mengesalkan karena kelamaan aja menunggunya, terlebih karena rasa ketidakpedulian ini. Saya hanya ingin cepat tampil, selesai dan pulang. Gitu aja. Maka menanti semua grup menyelesaikan penampilan mereka adalah hal yang amat membosankan. Terlebih lagi saya melihat bahwa kualitas perlombaan ini tidak bagus, panitia yang tidak siap, bahkan saat technical meeting juri yang akan melakukan penilaian tidak diikut sertakan, padahal ada kriteria-kriteria khusus yang seharusnya disepakati oleh juri dan panitia sebelum akhirnya dituangkan ke dalam bentuk skor. Semakin tidak respect lah saya dengan acara ini, sedari awal sudah sungguuuuuuuh males. Dan kecurigaan saya atas masalah penilaian juri sudah dimulai sejak awal karena banyak sekali vokal grup yang melakukan “pelanggaran” kriteria, apakah benar nilai yang mereka dapat akan dikurangi dengan signifikan? Saya ga yakin.

Menit demi menit, tak terasa sudah 1,5 jam saya menunggu giliran tampil dan akhirnya tibalah saatnya. Grup kami berdiri di belakang panggung dan baru lah saat itu saya berdoa. Ya. Saya tidak pernah mendoakan acara ini. Saya tidak punya target apapun dari acara ini. Jujur, saya udah muak dengan segala kepura-puraan rohani, mentang-mentang ini adalah pertandingan vokal grup lagu rohani maka semuanya harus dilakukan buat Tuhan, gitu kan? Kenyataannya apa? Hanya pengen ngejar juara kan? Jujur, saya sudah tidak tertarik sama sekali buat ikut pertandingan lagu rohani. Targetnya ga kena ama apa yang saya imani. Kalo memang – katanya – pertandingan lagu rohani ini yang penting adalah untuk memuliakan Tuhan, terus kenapa kalo latihan ga pernah sungguh-sungguh? Terus kenapa aransemen-aransemen lagu banyak yang dibuat seenak-enaknya aja? I’m tellin’ you, people, kalian boleh jago main musik tapi ketika main lagu rohani itu adalah hal yang sangat istimewa. Lagi rohani yang benar tidak bisa diutak-atik terlalu banyak, ada pakem yang harus dipatuhi. Apalagi lagu-lagu hymnal bernuansa mars, ga bisa dimacem-macemin. Kalian boleh jago improvisasi tapi dalam lagu rohani improvisasi yang kalian lakukan itu tidak boleh menjadi perhatian utama. Tuhanlah yang seharusnya mendapat pujian atas permainan kalian, bukan dengan sengaja mencari nama. Gile, bahasa saya kasar banget yak? Biarin aja ya. Maka saya sedih sekali ketika harus berkompromi dengan segala macam ketidak konsistenan, ketidak disipilinan dan segala prilaku anggap enteng. People, kalo memang kalian bertanding untuk memuliakan nama Tuhan, mengapa tidak serius dalam latihan? Mengapa yang dipikirin hanya penampilannya saja? Mengapa tidak bertanya dulu apa yang Tuhan mau kita lakukan dalam pertandingan ini?

Namun, sejenak sebelum kami naik panggung saya menundukkan kepala sebentar, berdoa mohon ampun pada Tuhan atas sikap negatif saya ini. Saya menyerahkan diri saya yang sangat tidak semangat ini untuk boleh diberi kesempatan memuji Tuhan dengan baik. Bukan untuk mencari peringkat juara, semata-mata hanya untuk memuliakan Tuhan. Ya, mungkin akan terlihat mudah ya karena saya memang udah ga pasang target sejak awal, kenyataannya sangat tidak mudah karena – bagaimanapun – saya juga orang yang amat senang “berlomba” namun saat ini semua hal itu sudah saya kubur dalam-dalam. Nothing loose, semua yang saya lakukan hanyalah untuk Tuhan. Kalo kalah itu wajar dan menang itu hanya bonus. Setelah selesai berdoa saya merasa mantap untuk maju dan ikut dalam lomba.

Posisi saya di dalam grup adalah sebagai pemain jimbe (gendang afrika) – sang penjaga tempo sekaligus pemberi nuansa lagu. Kami membawakan dua lagu yang bernuansa amat jauh, yang satu mars murni dan satu lagi irama latin. Kalo masalah gitar mah ga usah diragukan lagi deh, ada dua orang, papa saya sebagai pemain melodi yang sangat ahli dalam memainkan irama latin dan satu lagi adalah seorang bapak yang memainkan gitar 12 senar. Mantaf banget. Tinggal saya yang bertugas memberi hook dan sinkop dalam beberapa part. Maka kami bernyanyi, saya pribadi merasa sangat santai, tidak ada beban sama sekali, hanya ada perasaan haru atas lirik yang kami nyanyikan, bahwa sesungguhnya semua yang kami lakukan dalam hidup harus menjadi persembahan yang indah buat Tuhan. Kami pun selesai bernyanyi dan acara pertandingan selesai, tinggal menunggu juri menghitung nilai dan melakukan pengumuman.

Menunggu adalah hal yang amat membosankan, ditambah lagi dengan para pengisi waktu kosong itu yang menyanyikan lagu-lagu bernuansa sama, slow dan membosankan. Satu-satunya pengisi acara yang membawakan lagu riang hanyalah vokal grup saya. Ditambah dengan seorang anggota yang bermain harmonika VG saya ini bernyanyi dengan amat riang. Hadirin pun senang. Tapi saya ga ikut ketika bernyanyi lagu itu karena emang saya ga ada bagiannya dalam lagu itu. Heheheehheheehe…

Akhirnya saat pengumuman pun tiba. Hasil penilaian dibacakan oleh sang MC karena semua juri sudah pulang dengan alasan ada acara lagi. Dari 3 juri satu pun tidak ada yang tersisa. Semua pulang. Penonton kecewa. Sang MC pun cengar-cengir dan harus menegaskan bahwa bagaimana pun keputusan juri sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat. Tepuk tangan semuanyaaaaaa.
Ketika akhirnya nomor kami disebut sebagai peraih peringkat harapan kedua, saya hanya tertawa saja. Terlihat ada beberapa reaksi sedih di dalam anggota VG saya ini, ada yang jelas-jelas sudah menargetkan minimal mendapat peringkat 3, ada juga mungkin yang merasa bahwa juara harapan itu memang bukan juara. Hahahahaahahaha. Dalam hati saya berkata, hei, masih bagus Tuhan kasih kita mendapat peringkat kelima dari sebelas peserta. Bayangkan, dari sebelas peserta hanya terpilih 6 grup untuk mendapat peringkat, dari juara harapan tiga sampai juara pertama. Berarti ada 5 grup yang “tidak mendapat apa-apa”. Betapa beruntungnya kami. Mengapa beruntung? Ya karena semata-mata kami memang belum maksimal dalam berlatih. Masih banyak kesembarangan dan ketidakdisiplinan, lalu mau berharap jadi juara? Hahahaahhahaa. Belum lagi “kompetitor” kami yang lainnya adalah para peserta yang memang sudah senior dalam urusan vokal grup, jam terbang sudah tinggi banget dan – mungkin juga – sudah sering bertanding. Dari yang bisa saya lihat mereka begitu kompak, khususnya dalam melakukan sinkop lagu – ciri khas vokal grup. Sementara grup saya? Sampai saat tampil aja masih ada yang lupa dengan liriknya. Juga ini merupakan pengalaman pertama vokal grup kami untuk bertanding, jadi mendapat peringkat kelima itu sungguh merupakan kemurahan Tuhan semata. Kami tidak layak sama sekali koq.

Dari hasil yang kami terima itu seharusnya membuat kami semakin sadar bahwa jika ingin mendapat hasil maksimal maka harus dicapai melalui proses yang taat, konsisten, memegang disiplin. Apalagi yang dilakukan ini berada dalam ranah rohani, kepada siapakah semua yang dilakukan? Hanya kepada Tuhan saja. Jadi kalo mau dilakukan untuk memuliakan Tuhan ya memang harus yang terbaik dong. Setuju kan?
Semoga pengalaman ini tetap menjadi hal yang indah buat saya dan semua anggota vokal grup. Tidak menjadi patah semangat namun terus mengevaluasi diri dan kemudian meningkatkan semua hal yang masih harus ditingkatkan. Tuhan patut menerima yang terbaik dari kita semua.

Sekian.

Sang Juara Lima,
Aries Boi!

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s