Temu Kangen – Bagian 2

Sekarang saatnya saya menceritakan acara Temu Kangen bagian kedua.

Setelah selesai temu kangen dengan teman-teman SD yang diadakan di Satay House Salemba, saya mengambil keputusan untuk meneruskan perjalanan penuh kenangan ini dengan mengunjungi daerah masa kecil saya: Salemba Tengah. Berjalan kaki walaupun saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 20:40. Hampir ragu saya melangkah namun rasa rindu yang menggebu membuat saya membulatkan tekad untuk mengadakan napak tilas masa lalu saya dan keluarga. Saat itu saya memakai kaos hitam bertuliskan “LOOSERZ” (always feel the Mario presence), bercelana pendek cargo hitam, sandal crocs reject yang membuat saya terlihat seperti  orang blo’on, memakai earphone dan memasang lagu metal sebagai soundtrack perjalanan ini. Cukup cadas kan? Malam, gelap, orang kulit hitam, pakaian serba hitam berjalan kaki. I believe I look cool! Hahahahahaha…

Di antara RS Carolus dan Satay House ada sebuah jalan yang tidak terlalu besar namun muat untuk dua mobil walaupun akan dempeeeet banget bernama Gang Bluntas. Biasa juga disebut Salemba Bluntas. Gang itu telihat gelap awalnya, namun kemudian cahaya lampu dari rumah sekitar mulai menghiasnya. Pemandangan pertama yang saya lihat di jalan gelap itu adalah segerombolan anak kecil yang mengerubungi bajaj yang sedang berputar. Bajaj berjalan pelan sambil terkadang nge-gas dan membuat asap mengebul dan knalpotnya bersuara berisik. Anak-anak itu teruuuus saja mengerubungi bajaj dan nampaknya ada seorang anak yang bicara dengan si supir – entah bicara apa – sampai akhirnya saya melihat anak-anak itu kesenangan. Ada yang naik bajaj duduk di bagian penumpang namun ada seorang yang naik dan duduk di bagian si supir. Lucunya lagi, ada dua anak yang memanjat “bumper” belakang bajaj dan berdiri di situ sementara ada 2 anak lagi yang berlarian di belakang bajai sambil berteriak-teriak dan tak memperdulikan kepulan asap yang mendera wajah dan tubuh mereka. Ada beberapa bapak yang duduk di sekitar situ, memperhatikan namun juga tidak melarang anak-anak itu melakukan hal yang sebenarnya cukup membahayakan. Well, perlu diakui bahwa “anak singkong” lebih kuat, berani dan tangguh daripada “anak keju”. Setuju?

Saya berjalan kaki menyusuri gang itu sambil terus berusaha mengingat setiap sudutnya yang ternyata sudah banyak berubah. Bahkan di gang itu sudah ada wisma penginapan yang dihiasi tulisan “Terima Kost”, lalu semakin ramai dengan banyaknya warung/tenda penjual makanan macam pecel lele, siomay atau bahkan tukang jus/es buah. Perubahan drastis seperti itu membuat saya lupa sebuah gang kecil yang sebenarnya bisa langsung menuju rumah, akhirnya saya memilih untuk terus berjalan dan menempuh gang lain untuk masuk ke daerah gang saya dulu. Semakin jauh saya melangkah semakin kagum rasanya melihat perubahan yang terjadi. Kagum ketika melewati sebuah SD negeri yang dulu menjadi tempat saya bermain game watch yang diikat dengan tali (supaya ga dibwa kabur) bersama dengan teman-teman saya. Hanya bayar Rp.50 maka kalian berhak memainkannya sampai “nyawa” jagoannya habis. Kalau ingin memperpanjang ya bayar Rp.50 lagi. Sekolah itu sedang direnovasi, dicat ulang membuatnya terlihat berkilau akibat cahaya lampu yang terang. Ah, saya jadi ingat betapa senangnya saat orang tua memberi uang jajan untuk bermain, kami segera berlari ke sekolah “dekil” itu dan rebutan konsol game watch  demi menikmati mainan kesukaan kami.

Berjalan sedikit lagi, saya tiba di ujung gang Bluntas yang langsung memaparkan suasana persimpangan Salemba Tengah – Paseban dan Percetakan Negara. Ada taman berbentuk segitiga di sana, ada masjid yang yang berada di pojok sana, ada lampu lalu lintas yang menjadi penanda maju atau berhenti. Dan yang saya ingat persis, ada kios Jamu Mentjos di sana yang sekarang telah berubah wujudnya menjadi semakin modern dengan adanya meja kasir. Itu adalah tempat di mana waktu kecil (sekitar umur 1 – 3 tahun) saya sering dibawa oleh orang tua yang ingin minum jamu, kemudian saya didudukkan di atas meja dan sangking sudah menjadi langganan, saya pun mejadi kesayangan sang peracik jamu. Lucu dan gendut – katanya. Hahahahahaha…

Akhirnya saya melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam gang kecil yang rasanya menjadi semakin kecil dibandingkan dengan apa yang dapat saya ingat. Musik saya matikan demi menajamkan indera pendengaran saya mengingat gelapnya gang, ramai dan takutnya saya jadi ga awas jika ada hal yang bisa membahayakan, seperti klakson motor dari belakang dlsb.

Gang kecil itu bernama Gang IX. Mungkin dulu terlihat besar dalam pandangan saya yang masih kecil, walau sebesar apapun tetap saja hanya bisa motor yang masuk. Pernah dulu ada bajaj yang masuk tapi gitu deh, harus dengan perjuangan besar untuk bisa keluar lagi. Langsung saya disambut oleh anak-anak kecil yang berlarian di dalam gang sempit, hampir menabrak namun saya sama sekali tidak marah karena ingatan bahwa dulu pun saya seperti itu, bersama dengan teman-teman kami bermain tap jongkok, tak umpet , tap benteng dlsb. Tidak peduli bagaimana sempit dan ramainya gang, tidak peduli bagaimana orang lain yang melewati gang itu akan kesulitan melintas akibat ulah kami. Yang penting kami senang, kami puas. Seru sekali.

Berjalan lurus saya melihat lapangan besar yang dulu suka dipakai untuk mengadakan berbagai macam keriaan seperti acara pertandingan liga sepakbola anak-anak salemba, lomba-lomba agustusan dan panggung gembira sebagai puncak acaranya. Selain itu lapangan suka dipakai untuk menjadi tempat makan tamu/para undangan apabila ada warga sekitar yang mengadakan kondangan. Sementara yang tidak diundang ya tetap bisa menikmati acara itu dari rumahnya aja, tokh terbuka koq… anak-anak kecil pun lebih suka berada di sekitar acara kondangan itu aja, berlari-larian di sekeliling lapangan. Lucu sekali. Di lapangan itu juga orang tua saya sempat memasang ring basket. Saat hari sabtu pagi adalah jadwal kami main basket namun harus berhati-hati dengan jemuran warga yang sering ditaruh di sekeliling lapangan. Salah-salah lempar malah baju-baju bersih yang baru selesai dicuci itu yang jadi korban. Jika demikian, si pemilik baju akan ngamuk dan mengejar kami . kami hanya bisa lari sambil tertawa saja… Lagian kan lapangan emang buat olah raga, bukan buat jemur pakaian. Hahahahahaha… Namun lapangan itu udah hilang digantikan dengan mushola. Sayang sekali…

Dari lapangan kaki ini berbelok ke kiri, berjalan lurus sedikit lagi dan kemudian tibalah saya di gang depan persis  (dulunya) rumah saya. Sudah banyak yang berubah… tidak ada lagi halaman kecil yang menghias, tembok rumah benar-benar dimajukan membuatnya terlihat besar namun kaku. Ingin banget rasanya masuk dan melihat bagaimana bagian dalamnya, ingin membandingkannya dengan apa yang masih tersimpan di dalam ingatan. Kamar depan dengan dinding anyaman bambu dengan jendela kayu berukuran besar yang menjadi tempat saya dan adik tidur dan terkadang bermain tenda-tendaan. Jendela kayu yang besar itu beberapa kali menjadi jalan keluar saya untuk melepaskan diri dari kekangan kewajiban tidur siang – sebelum akhirnya ketahuan Mama yang menghadiahi cubitan keras di perut.

Di sebelah kamar kami terletak kamar Mama dan Papa, dengan jendela kayu besar yang menghadap ke bagian samping rumah – tanah lebih yang menjadi tempat menjemur pakaian.

Ruang tamu dan ruang keluarga yang cukup besar, lalu ada satu kamar lagi yang kami isi dengan barang-barang saja, ada ruang makan yang besar dan ada kamar mandi yang terpisah dengan WC, ada gudang, ada dapur yang besar… sungguh, rumah itu amat besar! Jika berada di komplek perumahan saya yakin saat ini harganya bisa mencapai lebih dari 500 juta. Sayangnya berada di dalam gang sempit, tapi saya tetap yakin harganya bisa mencapai – paling tidak – 250-300 juta. Besar banget sih! Namun keinginan itu harus saya pendam. Hanya saja saya sempat melihat pemilik rumah itu keluar untuk membeli siomay yang dijajakan menggunakan sepeda. Jadi ingat betapa dulu kami sekeluarga juga suka jajan makanan yang lewat, dari ketoprak, siomay, sate, bakmi tektek, sate kikil dan lain sebagainya. Menyenangkan sekali.

Setelah puas memandangi rumah itu saya segera menuju jalan keluar dari gang, sambil tetap melihat-lihat ke kiri dan kanan, pasti banyak yang mengira saya adalah seorang turis karbitan yang nyasar. Hampir sampai di ujung gang, saya mengambil keputusan untuk balik lagi dan mengunjungi rumah seorang wanita yang begitu berjasa dalam membantu keluarga kami sehari-hari. Dialah Mbak Tina, orang yang hampir setiap hari mencuci dan menyetrika pakaian kami. Berbekal penjelasan yang diberikan Papa saat beberapa bulan yang lalu sempat berkunjung ke rumahnya, dengan percaya diri saya mencoba untuk menemukan rumahnya. Dulu Mbak Tina tinggal di depan rumah kami persis bersama dengan suami yang bernama Bang Mama’ dan dua anak cowok bernama Rizal dan Roy dalam sebuah rumah yang sangat sederhana. Namun Papa bilang sekarang dia sudah pindah dan menempati sebuah rumah yang jauh lebih besar dan “layak” untuk ditinggali. Berdasarkan hal itu saya memutuskan untuk mengetuk salah satu pintu dari beberapa rumah yang nampaknya sesuai dengan deskripsi yang diberikan oleh Papa. Ternyata yang keluar adalah seorang perempuan yang masih muda – mungkin 1 atau 2 tahun lebih tua dari saya – mengatakan bahwa saya salah alamat dan memberikan arahan yang lebih tepat. Berdasarkan arahan itu saya mencoba untuk mencari rumah Mbak Tina namun daripada mengulang kesalahan lagi saya mengambil keputusan untuk bertanya pada seorang pria yang lagi duduk-duduk dan akhirnya berjalan bersama untuk mengantar saya ke rumah Mbak Tina. Tiba di depan rumah Mbak Tina saya melihat dua orang anak muda yang sedang membetulkan motornya. Setelah saling berpandangan beberapa detik salah seorang dari dua anak muda itu langsung menegur saya,” Eeeehhhhhh!!!! Bang Yos! Waaaahhhh”. Ternyata mereka itu adalah Rizal dan Roy, anak-anak Mbak Tina! Kami bersalaman sambil saling menanyakan kabar sebelum kemudian Mbak Tina keluar dari rumah dan langsung memanggil saya dengan suara yang keras dan menyuruh saya masuk ke rumahnya….

Ketika sudah di dalam rumah, saya segera menyalami Mbak Tina yang nampaknya kaget dengan kedatangan saya ini. Iya lah, udah malam juga (saat itu udah jam 21:15). Mbak Tina menyubit-nyubit lengan daaaaaan pipi saya, katanya sekarang badan saya besar banget dan keliatan “ganteng”… hahahahahahahahaha…. Katanya wajah saya jadi mirip banget sama Mama, dominan bataknya,  ga mirip sama Papa. Maka kami saling bertukar cerita, Mbak Tina sungguh membuat saya kagum dengan rumah yang telah berhasil dibangunnya sebagai hasil dari kerja kerasnya menjadi pembantu rumah tangga harian dan bagian kebersihan di rumah sakit atau sekolah, hasil kerjanya dari pagi sampai malam selama bertahun-tahun.  Rumahnya saat ini memiliki 1 ruang tamu, 3 kamar tidur, 1 kamar mandi dan 1 dapur. Hebat sekali! Satu bukti nyata bahwa Tuhan itu Maha Adil, DIA akan membuka pintu berkat bagi setiap orang yang mau kerja keras. Rijal dan Roy sudah bekerja juga. Rijal bekerja di perusahaan ekspedisi dan Roy sudah beberapa kali berpindah tempat kerja, sekarang bekerja di perusahaan konsultan manajemen. Roy sendiri pun sudah memiliki sebuah rumah kecil berlokasi dekat sekali dengan rumah Mbak Tina dan dikontrakan kepada orang lain. Lumayan banget kan dapat pemasukan dari sewa? Betapa hebatnya mereka. Maka kami terus saling bertukar cerita, bernostalgia. Rasanya seperti baru kemarin saja kami berpisah karena semua masih ingat banyak cerita lucu dan kejadian menyenangkan  yang terjadi tahunan yang lalu. Namun serunya cerita itu sempat terpotong dengan kesedihan yang saya rasakan setelah mendengar kabar bahwa banyak teman masa kecil yang telah meninggal dunia dan sebagian besar akibat narkoba. Sedih rasanya karena mereka harus menyia-nyiakan hidup yang merupakan anugerah terindah dari Tuhan. Sedih karena mereka akhirnya harus pergi selama-lamanya dalam kebodohan… Sampai akhirnya cerita-cerita itu harus berakhir karena waktu yang semakin larut. Jam 22:00 saya pamit karena masih ingin berjalan kaki menyusuri jalan raya Salemba Tengah dan mengenang banyak hal di sana. Jabat tangan terakhir dengan Mbak Tina begitu erat, dia menitipkan salam hangat untuk Mama dan Papa dan berjanji bahwa Natal nanti mau mampir ke rumah Mama Papa dan juga rumah saya. Mbak Tina juga mendoakan supaya Mama Papa dan Saya selalu sehat, bahagia dan sukses. Doa tulus seperti itu sungguh tak ternilai.

Lalu saya melanjutkan perjalanan. Keluar dari Gang Sembilan belok ke kiri, melihat begitu banyak perubahan yang terjadi. Toko Roti Merbaboe sudah tidak ada dan diganti keberadaannya dengan sebuah kampus – saya lupa apa namanya. Banyak tempat makan sekaligus nongkrong seperti Steak Obong, Burger Blenger dan semuanya ramaaai sekali. Namun tetap ada beberapa tempat yang tidak berubah, yaitu Apotik Galuh dan Bakso Idola Remaja. RS MH Thamrin pun masih ada namun sekarang sudah begitu besar dan bahkan menjadi rumah sakit internasional. Wah, hebat banget deh… Laju pertumbuhan di salemba tengah begitu pesat! Sekolah Trisula juga masih berdiri dengan megah walau tertutup pagar yang cukup tinggi dan gelapnya malam membuat saya tidak bisa melihatnya dengan jelas. Sesaat saya seperti melihat bayangan saya dan almarhum Mario, berbalutkan seragam batik, berlarian masuk ke dalam sekolah… Ah, saya jadi demikian kangen dengan Iyo… Saya yang dahulu selalu berjalan kaki berdua dengan Iyo dari rumah menuju sekolah… Saya yang bertugas untuk menjaganya… Namun sekarang semuanya sudah menjadi kenangan indah saja. Kenangan yang sangat indah…

Mengingat waktu yang semakin malam maka saya tidak bisa berlama-lama termenung di depan sekolah, lanjut jalan kaki saya melihat ada sebuah tempat tongkrongan yang saat ini lagi ngetren di kalangan abege: 711. Sayangnya lokasi yang dipakai adalah lokasi bekas toko bersejarah: Benson. Toko tempat kami beli keperluan sekolah, salah satunya adalah Crayon. Apa boleh buat, toko seperti itu sekarang sudah tidak memiliki pasar lagi, kalah bersaing dengan toko yang menyediakan makanan dan tempat nongkrong… apa boleh buat… 711 berada di ujung jalan raya Salemba Tengah dan di situ pula saya menunggu lewatnya mikrolet yang mengantar saya ke Kampung Melayu sebelum akhirnya naik taxi sampai rumah.

Perjalanan pulang itu tetap diisi dengan semua pemandangan yang barusan saya liat, tempat saya bertumbuh, kampung halaman. Bahkan ketika tidur saya kembali bermimpi mengenai keadaan kampung halaman tercinta itu… Ah, saya bahagia sekali pernah diberi kesempatan untuk menikmati hidup di gang kecil yang penuh dengan ketulusan dan keakraban…

Semoga suatu saat nanti saya bisa datang lagi ke gang kecil Salemba Tengah bersama dengan Mama, Papa dan Istri.

 

Yang cinta sama gang sempit bernama Gang IX – Salemba Tengah,

Aries Boi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s