Temu Kangen – Bagian 1

Kemarin malam saya mengalami dua acara temu kangen. Dua-duanya begitu berkesan, memunculkan lagi banyak kenangan masa kecil yang sudah sekitar dua puluh dua tahun saya tinggalkan.

Pertama  adalah acara temu kangen dengan teman-teman SD.  Terima kasih atas terciptanya jejaring sosial macam pesbuk yang memungkinkan orang yang telah lama berpisah untuk kembali bersua walopun mungkin terbatas di dunia maya, namuntentunya bisa saja dibawa ke tindakan lanjutnya. Seperti misalnya yang saya alami. Sekitar dua tahun yang lalu saya menemukan lagi teman-teman lama, teman SD yang ternyata adalah teman fesbuk teman saya yang lainnya. Hehehehe, berantai gitu ya… Betapa bahagia rasanya bisa bertemu teman yang udah lama banget ga ketemu yang kemudian berlanjut saling liat daftar teman akhirnya menemukan lagi link ke teman lama lainnya. Maka berkumpullah kami semua – sebagian aja sih – di dunia maya yang kemudian dikelompokkan oleh seorang teman ke dalam satu grup “Alumni SD Trisula lulusan 1989”. 1989! Itu berarti sudah 22 tahun – betapa waktu begitu cepat berlalu.

Dari sekitar 39 orang yang tergabung dalam grup (sedikit banget yak, hehehehe) kami memutuskan untuk membuat acara temu kangen. Tadinya mau bikin reuni akbar namun rasanya terlalu berlebihan. Semasa kami SD dulu, kelas 6 hanya terbagi dua saja: kelas 6A dan 6B. Nah jumlah 39 orang dalam grup itu sudah mencakup alumni dari dua kelas itu. Bayangkan, betapa sedikitnya kami… Belum lagi tidak akan mungkin ke-39 orang itu hadir dalam acara “reuni akbar”, karena beberapa ada yang sudah tidak tinggal di jakarta lagi, jadi rasanya terlalu muluk-muluk lah untuk bikin acara besar. Maka kami merancang acara temu kangen aja, sekedar ngobrol-ngobrol  di suatu tempat namun sebisa mungkin mencari tempat yang dekat dengan sekolah kami dulu, di bilangan salemba tengah. Tadinya mau bikin di sekolah, bernostalgia sekalian bertemu dengan para mantan guru, namun apa daya, kesibukan masing-masing kami membuat agak sulit untuk melakukan konfirmasi dengan pihak-pihak terkait.

Sempat saya memberi ide untuk bikin acara siang hari di sebuah kafe/restoran yang disinyalir begitu menjamur di daerah salemba tengah, setelah itu dilanjutkan dengan jalan ke sekolah sekedar untuk berfoto-foto – syukur-syukur bisa ketemu para guru dan dilanjutkan dengan “napak tilas” daerah sekitar sekolah kami, sekaligus menghampiri rumah beberapa teman (yang tidak bergabung dalam grup pesbuk kami) yang memang berada di sekitar daerah sekolah. Apa daya, rencana itu pun gagal karena  pengadaan acaranya dilakukan di bulan puasa, tidak memungkinkan untuk membuat kegiatan di siang hari nan panas seperti sekarang ini. Akhirnya keputusan diambil untuk mengadakan acara buka puasa saja, tetap di sebuah kafe/restoran yang dekat dengan sekolah. Tadinya ada teman mengusulkan untuk diadakan di 711, namun karena adanya pertimbangan bahwa di sana pasti rame banget oleh abege yang doyan ngecenk maka kami memutuskan untuk memilih satay house salemba – di samping RS Carolus. Memang agak jauh sih dari sekolah, namun itulah pertimbangan yang terbaik karena kami pun memikirkan faktor kenyamanan berkumpul dan bincang-bincang – satu hal yang tidak mungkin kami dapatkan di 711.

Maka acara tersebut dilakukan pada hari Sabtu 27 Agustus 2011 kemarin. Koordinator acara sudah datang di TKP dari jam 17:00 bersama dengan 2 orang teman yang lain. Saya sendiri baru tiba sekitar jam 19:15 dan saat itu sudah ada sekitar 6 orang saja ditambah saya jadi 7. Sedikit banget yaaaaa… hahahaha… Beruntung saya masih ingat semua wajah mereka, jadi tidak canggung-canggung lagi untuk ngobrol. Wajah tidak banyak yang berubah namun kalo postur tidak bisa dibohongin! Hahahahahhaa…. hanya satu saja yang masih terlihat muda banget, kalo kata teman-teman dia masih cocok kalo ngaku baru lulus SMA. Memang, teman saya itu dari dulu postur tubuhnya kecil aja didukung dengan wajah yang tetep imut-imut. Cocok banget dah. Setelah salaman dan basa-basi mengajukan pertanyaan-pertanyaan standar seperti “rumah lo di mana?” atau “lo sekarang kerja di mana?” juga “udah merit? anak udah berapa?” , maka saya segera nimbrung dalam pembicaraan penuh nostalgia. Masing-masing kami mengeluarkan segenap ingatan mengenai lucu, lugu dan “ngaco”nya kami saat SD.

Kami saling “timpal” saat mengingat kegiatan yang sering terjadi kala SD, sebagai berikut:

Pembagian Segelas Susu Gratis

Saat pelajaran sedang berlangsung tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa di lapangan ada pembagian segelas susu gratis, merk M*lo atau Ov*ltine, gratis! Maka kami segera berbaris di lapangan demi menikmati secangkir kecil minuman susu coklat dingin. Rasanya ga puas deh, beberapa kali kami mencoba untuk “mengelabui” para guru, namun apa daya, otak lugu kami tentunya kalah jauh lah dengan para guru yang udah banyak makan asam garam. Hanya sekali saja saya ingat bahwa kami boleh menikmati gelas kedua, dengan syarat harus kembali berbaris. Ga masalah, apa lagi buat saya yang adalah penggemar berat susu coklat. Hahahaha… Apakah sekarang acara seperti itu masih ada ya di sekolah-sekolah?

Nonton Film Gratis

Naaaahhh…. ini dia favorit kami! Biasanya ada pemberitahuan satu atau dua hari sebelumnya mengenai akan diadakannya pemutaran film gratis. Nah, selama rentang hari itu kami sebagai anak-anak SD yang – kala itu – bioskop masih merupakan hiburan “wah” akan mengalami sedikit gangguan konsentrasi karena udah ga sabar banget pengen nonton. Maka ketika tiba harinya, kami akan berbaris menuju tempat pemutaran film yang biasanya diadakan di dua buah ruangan yang dapat dilepas partisinya sehingga menjadi satu ruang besar. Jendela-jendela ditutup dengan kain hitam dan film dipancarkan dari proyektor ke layar putih yang terbentang meutupi papan tulis. Betapa seru! Saya masih ingat ketika ada adegan seorang anak yang telah berpisah dengan orang tuanya beberapa tahun, hampiiiir saja bertemu dengan ayahnya yang ternyata saling membelakangi, walhasil mereka tidak jadi bertemu! Kala itu kami berteriak seperti ingin memberi informasi kepada si anak, “Itu! Itu! Di belakang kamu!”… Apa daya, teriakan sebanyak itu tidak mampu membuat si anak yang dalam film memutar badan demi melihat ayahnya…. Tragis…

Main Kasti

Sebagai anak kecil, sebagian besar dari kami sangat senang pelajaran olah raga karena seru dan lebih seperti bermain. Walau kami paling kesal kalau disuruh senam dengan iringan musik propaganda orde baru “SKJ 1988”. Tapi kami akan sangat senang kalau disuruh balap lari atau main kasti! Yup! Main kasti adalah favorit kami. Seperti baseball tapi jauh lebih simpel. Tinggal suruh seorang pelempar bola mengarahkan bolanya kepada seorang pemukul yang bertugas memukul bola itu sejauh-jauhnya supaya teman-teman yang bertugas jaga kesulitan untuk menangkap dan teman-teman yang ada di pos lain bisa lari masuk “home” dan mencetak angka kemenangan. Begitu favoritnya permainan kasti sehingga kami rela disuruh guru pengajar olah raga untuk mengeringkan lapangan basah akibat hujan. Dengan cekatan kami bekerja sama dan akhirnya lapanganpun kering juga. Maka bermainlah kami. Serunya!

 

Imunisasi

Ya, dulu sekolah kami pun sempat mengadakan acara imunisasi. Dokter akan datang dengan membawa perlengkapan suntik dan itu cukup untuk membuat kami hampir menangis. Bahkan seorang teman yang saat itu berbaris di depan saya persis tiba-tiba melarikan diri dan kabur secepat-cepatnya sambil menangis… Terciptalah pemandangan kejar mengejar seorang guru pria dengan badan agak tambun yang sedikit kewalahan menangkap teman saya yang berbadan kecil, yang berlari ngepot-ngepotan sambil nangis dan berteriak-teriak…. Jangan pikir pemandangan itu menjadi pertunjukan lucu karena – ternyata – membuat kami semua yang melihat merasa prihatin, empati berlebih yang berujung pada menangis masal… Bayangkan, Boi! Hanya sedikit dari antara kami yang berani menghadapi jarum tipis yang mengkilat terkena cahaya matahari dan membiarkannya menembus kulit kami. Menjadi pembicaraan dalam saat reuni kemarin, seingat kami jarum itu tidak diganti-ganti, entah benar atau salah. Seingat kami setelah menyuntik teman kami yang di depan, maka dokter akan segera mengambil botol berisi imunisasi dan mengisapnya menggunakan jarum yang sama kemudian menyuntikkannya ke kami. Semua dengan jarum yang sama. Semoga tidak salah lihat ya… tapi kami berkesimpulan, saat itu kan penyakit belum separah sekarang dan HIV/AIDS pun belum terdengar. Mungkin juga prosedur standar pengobatan belum sedetail sekarang. Bersyukur aja deh kami semua saat ini sehat-sehat, ga ada yang mengidap penyakit bawaan masa kecil. Hahahahahaha…

Dan masih banyak lagi hal yang kami bicarakan, tentang teman yang cengeng dan selalu mengadu ke guru, tentang pertandingan main karet antara anak cewek dengan cowok, kejahilan-kejahilan anak kecil yang kadang bikin keki namun menggemaskan dan lain sebagainya. Tidak mungkin saya ceritakan di sini karena akan membuat blog ini menjadi amat panjang dan menghabiskan ribuan kata… Yang pasti acara temu kangen itu berjalan dengan sukses walau hanya – akhirnya – dihadiri dengan 9 orang saja, namun bertukar cerita sambil mengenang masa lalu adalah hal yang amat menyenangkan… Precious moment…

Jam 20:30 kami menyudahi acara temu kangen itu, bertukar nomor HP dan PIN BB menjadi penutupan yang lazim. Bersalaman dan pelukan menandakan bahwa waktu boleh berlalu namun pertemanan adalah tetap… Maka kami berpisah, namun saya meneruskan perjalanan – jalan kaki – ke daerah masa kecil saya, Salemba Tengah… dan itu akan saya ceritakan dalam blog yang terpisah….

 Terima kasih untuk semua nostalgia itu, kawan-kawan… Take care…

Aries Boi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s