Bengong

Roda dua dan empat bersliweran
Klakson dan knalpot bersahutan
Bising
Polusi bertebaran
Tubuh orang mengeluarkan bebauan
Gas buang dan hawa mulut begitu memabukkan
Para kondektur berteriakan
Supir kendaraan umum ngepot-ngepotan
Tersendat di depan
Macet

Tidak ada lagi yang saling mendahului
Yang ada hanya saling mencaci
Memaki
Dan beradu terampil
Tak bisa tinggal diam melihat celah sempit
Maju sedikit
Sampai tersisa 2 senti di pinggir parit

Siapa yang peduli?

Aku sedang bengong
Mataku melihat semua namun otak ku kosong
Kopong melompong
Karena aku berusaha untuk jujur
Tidak seperti mereka yang berusaha menghibur
atasannya di kantor yang adalah koleganya di kasur

Aku jujur, paling tidak pada diriku sendiri
Tidak pernah bisa aku menaruh diri terlalu tinggi
Karena aku takut jatuh dan kemudian mati
Tetapi bukan mati seperti itu yang aku takuti
Tetapi mati hati dan nurani
Sayangnya yang seperti itu yang laku
Bukan yang kaku seperti diriku
Yang lebih memilih untuk diam membisu

Aku bengong
Di depan komputer tatapan mataku kosong
Namun otak ku tidak kopong
Sebab aku masih berpikir
Mencari makna setiap detik yang mengalir
Antara waktu yang telah tertuang melawan waktu yang telah kubuang
Oleh karenanya aku bengong
Supaya pandangan yang terlihat di depan mata
dan suara yang terngiang di gendang telinga
tidak membuatku berpaling dari apa yang ku percaya

Bahwa aku tidak terlahir sebagai Penjilat

Mari kita bengong

B      e          n             g                  o                     n                       g

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s