Jengkol Geyal Geyol

Bahwa urban legend itu bisa berekses negatip, terbukti melalui pengalaman yang baru saja saya alami.
Dalam perjalanan menuju kantor rekan yang berjarak tidak terlalu jauh dari kantor saya sehingga memungkinkan untuk berjalan kaki – yang sudah sering saya lakukan terutama jika sudah mendekati persiapan Natal dalam rangka latihan bareng karyawan kantor sana – dengan rute melewati jalan kecil, cukup sempit, bisa bikin kejepit, tibalah pada ujung jalan yang berupa pertigaan. Sebelum mengambil langkah menikung ke kanan, sekitar 50 meter dari tikungan semerta-merta tercium bebauan yang agak kencang, walau tidak bikin tegang namun cukup menantang. Bebauan itu bernuansa “berat, gelap, pekat, dalam dan oldskool banget”, mampu membuat pikiran saya terbagi dua dalam memilih space kosong untuk berjalan di ruang sempit sekaligus berkelana ke suasana warteg dari triplek dan anyaman bambu, duduk sambil angkat kaki di atas sebilah kursi kayu panjang sambil menikmati sebungkus nasi dengan lauk pauk – tanpa menggunakan sendok dan garpu – ditemani segelas teh manis hangat atau kopi kental.

Sambil berjalan dengan muka tegang demi menghindari kendaraan-kendaraan genit yang berusaha menjepit, saya juga teringat beberapa tahun yang lalu saat masih tinggal di gang sempit Salemba Tengah, pergi ke warteg untuk beli makan siang sebelum sekolah dan saat itulah saya pertama kali mengendus bebauan oldskool itu. Lalu saya mendengar seorang pilot becak mengajukan request ke Mbak Warteg:
“Mbak, bungkusin nasi pake telor dadar, bihun dan jengkol ya”
Maka bergegas lah Mbak Warteg untuk menyiapkan pesanan pilot tersebut. Nasi ditaruh, telur dadar ditaruh, bihun ditaruh dan kemudian sebutir “sayur” agak bulat yang terendam dalam kuah berwarna warna coklat tua ditaruh juga. Ternyata dari “sayur” itulah bebauan oldskool berasal. Ternyata “sayur” itulah yang disebut Jengkol. Ternyata jengkol itulah yang memiliki bau oldskool.

… dan bebauan itulah yang saya endus di ujung belokan pertigaan, suatu jalan sempit penghubung kawasan elit perkantoran dengan salah satu ruas jalan utama kota metropolitan… Jengkol

Saya tersenyum, harus jujur juga merasa terhibur, bebauan itu lebih nikmat dari beras kencur… Ada nuansa eksotis yang tersimpan di dalamnya, sensual, semok, seksi namun tidak bisa dibandingkan dengan wewangian merk airmata duyung nomor 13 a.k.a minyak nyongnyong. Sama-sama menyengat tapi kalo minyak nyongnyong itu terkesan murahan, sementara bebauan jengkol terasa lebih mengenyangkan. Seketika saya kangen dengan dapur di rumah…

Ah, sungguh konyol…
Agak lepas kontrol…
Jengkol membuat perut saya geyal geyol…

Hidup Oldskool Warteg!!!

Aries Boi.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s