“Pesta Rakyat” Sekarang Ini…

Dikarenakan tanggal 17 Agustus berada di pertengahan bulan puasa, maka beberapa lokasi perumahan sudah mulai mengadakan keramaian dengan berbagai perlombaan menyambut hari kemerdekaan negara yang masih dijajah oleh rakyatnya sendiri dalam bentuk korupsi dan pembodohan tingkat nasional. Di komplek dekat rumah saya pun demikian, acara dilakukan di lapangan dan terlihat cukup meriah dan diminati banyak penghuni komplek. sempat saya melihat ada lomba lempar gelang kayu, bawa gundu dengan cara menaruhnya di sendok yang digigit, lomba ketepatan melengkapi gambar dan beberapa lomba lainnya. Lumayan beragam deh.

Nah, karena ada bawaan orok berupa usil maka yang menyita perhatian saya justru bukan perlombaan atau kemeriahannya, ada hal lain yang lebih menarik otak rese saya ini yaitu betapa banyak mobil yang parkir di sekitar lokasi perlombaan. Daerah itu bukanlah lokasi yang sehari-hari disinggahi mobil parkir, bukan pula ada yang jual makanan di dekat sana, jadi semua kecurigaan saya itu langsung tertuju pada para penghuni komplek. Ya, itu adalah mobil-mobil para penghuni komplek yang sedang asik beradu tangkas satu dengan yang lain. Kecurigaan saya semakin kuat saat melihat seorang anak berusia tanggung (belasan tahun – belum 17) keluar dari bagian pengemudi dan segera bergabung dengan para rakyat komplek setelah sebelumnya mengunci pintu sedan tersebut.  Agak kaget saya melihat pemandangan itu, bukan karena melihat anak belia nyetir mobil sendiri – itu mah sekarang bukan hal yang istimewa, namun kaget karena ngapain juga musti pake mobil hanya untuk ke lokasi pertandingan. Sama halnya dengan peserta lainnya – yang adalah orang-orang komplek itu sendiri – ngapaiiiiiin juga harus pakai mobil… Begitu jauh kah lokasinya?

Komplek perumahan itu luasnya tidak seberapa, kalau saya tarik garis lurus dari gerbang  terdepan komplek sampai ke ujung paling jauh hanya sekitar 500 meter ajah, artinya kalau jalan kaki paling lama hanya 20 menit, itu pun mungkin sambil ngesot ya…. Kalau naik mobil ya sekitar 5 menit saja, pintu mobilnya ga usah ditutup aja udah harus turun padahal baru aja naik. Deket banget buuuuuuu… Ngapain juga ya harus bawa mobil? Apakah sekarang manusia semakin malas untuk bergerak? Kalau mau dibilang panas ya ga terlalu juga laaaaaah, seterik-teriknya sinar matahari jam 8:30 ga akan bisa mengalahkan panasnya kompor kan? Lagian juga paling lama rangkaian lomba itu selesai jam 11:00, saat matahari benar-benar mulai menunjukkan keangkuhannya – saya rasa panitia penyelenggara pun cukup aware akan hal itu dan ga akan mau ambil resiko tetap bersikeras mengadakan lomba namun tidak ada pesertanya.

Saya jadi teringat waktu masih tinggal di gang sempit – Salemba Tengah. Saat itu memang memiliki motor saja sudah bisa dibilang orang kaya, apalagi punya mobil. Mungkin memang kondisinya sudah jauuuhh berbeda ya, namun masih teringat betapa serunya saat para penghuni rumah di sepanjang gang berjalan berbarengan menuju lokasi perlombaan, terlihat seperti rombogan lenong yang berisi para bapak dan para ibu yang seru bertukar cerita (sambil jalan lhow) dan anak-anak yang saling berlarian, kejar-kejaran. Semua tertawa, semua terlihat antusias. Saat berjalan terlihat begitu kompak walau nanti saat bertanding mereka semua akan bersaing satu dengan yang lain. Seru sekali. Yang lebih seru sih biasanya para ibu – saling membanggakan “jagoannya” sambil berusaha menjatuhkan mental para saingan. Nah, kadang-kadang hal itu ga bisa dihindari bisa mengakibatkan sedikit perselisihan, masing-masing terbawa emosi sesaat yang nantinya akan berakhir saat pertandingan usai, atau paling lama keesokan harinya lah. Hal-hal seperti itu terjadi dengan spontan dan saya amat menikmatinya. Seru sekali dan benar-benar sesuai dengan istilah Pesta Rakyat.

Lalu dibandingkan dengan keadaan jaman sekarang …

Sehari-hari sibuk dengan kerjaan / bisnis masing-masing berakibat jarangnya terjadi interaksi antar penghuni, eeeeeehhh sekalinya ngumpul juga malah jalan masing-masing menggunakan mobil… ga seru ah… mustinya pengurus RW/RT bisa mengimbau agar warga berjalan kaki saja dari rumahnya demi menjalin kebersamaan, pasti esensi dari pesta rakyat itu bisa lebih tercapai deh. Lagian apa ga bosen ya bawa mobil melulu? Hehehehhee…. (curcol orang yang ga punya mobil…)

Kesimpulannya, saya kangen dengan suasana Pesta Rakyat seperti yang jaman dahulu saya nikmati di gang kecil. Masih bisa saya ingat betapa serunya riuh rendah teriakan para peserta lomba dan para pendukungnya. Yang paling saya ingat adalah adanya pertandingan disko antar kelompok warga, biasanya latihan koreo sudah dilakukan minimal sebulan sebelum pelaksanaannya. Lomba disko itu sendiri diadakan seminggu setelah rangkaian pertandingan fisik lainnya usai, jadi seperti pertandingan penutupan yang dilaksanakan di atas panggung hiburan, langsung dinilai oleh juri dan langsung diumumkan saat itu juga. Jadi pemberian hadiah kepada para pemenang lomba fisik yang dilaksanakan seminggu sebelumnya dan kepada para pemenang lomba disko menjadi puncak acara perayaan  kemerdekaan. Semua senang, semua terhibur dengan rangkaian acara. Sebagai penutup biasanya ada orkes dangdut yang akan meleburkan para juara dengan yang tidak juara ke dalam satu kesatuan Joged Dangdut Massal….

Ah, saya kangen dengan suasana gang sempit….

Yang lagi kangen,

Aries Boi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s