Narsis Merajalela

Cinta yang berlebihan pada diri sendiri
Merekayasa obrolan bertema diri sendiri saat berinteraksi
Menggunakan gadget yang memiliki kamera untuk mengabadikan foto diri sendiri
Standar segala sesuatu adalah diri sendiri
Cinta mati hanya pada diri sendiri

Narsis

Sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja secara sadar atau tidak sadar karena memang manusia membutuhkan pengakuan akan keberadaan dirinya di tengah lingkungan. Maka berbagai cara pun dilakukan demi mengangkat “derajat” diri supaya bisa berada di atas dan merasa “menang”. Seperti kompetisi, sebenarnya, namun dalam bentuk informal, kasat penjelasan. Dan kita semua setuju bahwa kompetisi itu bagus demi merangsang diri bertransformasi menjadi semakin baik. Namun segala sesuatu yang berlebih pasti berujung ga baik. Contohnya: berpikir terlalu positip justru menghilangkan hakekat sebagai pribadi dengan rasio, semua dipukul rata. Kasarnya sih: bikin diri jadi bego. Kompetisi pun seperti itu, pada awalnya memang dia ga mau terlihat bersaing lalu akhirnya menanamkan pendapat “ga perlu bersaing, tokh setiap orang punya kelebihan dan kekurangan” kemudian seakin meningkat kala menghadapi tantangan menjadi “ga perlu bersaing, apa yang saya bisa belum tentu dia bisa”. Semakin bertubi tantangan menghadang, semakin dalam jiwa mengimbau “ga perlu bersaing, saya masih lebih baik daripada yang lain”. Terus berlanjut, akumulatif, sampai akhirnya dengan sebulat hati jiwa mengeluarkan pernyataan “Absolutely Better Than Y’all”.

Itulah narsis

Maka tak heran ketika sedang kumpul adaaaaaaa aja orang yang mendominasi pembicaraan namun isinya tentang dirinya sendiri, atau interest-nya dia sendiri dan semua orang harus tau, harus mendengar, mungkin juga harus paham dan akhirnya memberi peryataan bahwa dirinya oke banget. Saat itulah Si Narsis merasa berhasil, menang, berkuasa. Puas lahir batin.
Hobinya memotret diri sendiri. Entahlah, koq bisa ya orang senang banget nget nget nget difoto. Well, mungkin kalo di-compare dengan saya sih emang langit dan bumi banget deh karena saya kurang suka dijepret kamera apalagi dijepret karet kolor. Setiap sudut ada dirinya, seakan-akan sudut-sudut itu kehilangan keindahan tanpa kehadirannya. Padahal dia ga tau bahwa keindahan yang dipaksakan justru membuat jengah. Perlu contoh? Banci. Siapa yang tidak jengah melihat gayanya presenter kebanci-bancian? Segala yang dilakukan membuat kita geleng kepala walau sampai pada akhirnya dibuat tertawa.

Tapi sebenarnya saya pun mau sedikit membeberkan fakta bahwa kita semua telah terjebak NARSIS. Apalagi mereka yang berpredikat penggiat dunia maya.

Jaman jejaring sosial sedang berlaku dan rasanya kurang afdol jika tidak ikut berkutat di dalamnya karena sudah terlalu banyak kenalan yang menjalin hubungan pertemanan virtual dengan dunia luar. Di samping itu, segala sesuatu dalam jejaring sosial dibuat dengan tema untuk “memasarkan” diri sendiri, eksistensi, makanya ada kolom “Status” yang perlu untuk diperbaharui setiap kali ada hal yang sedang dialami. Sekali update, maka jutaan penikmat jejaring sosial bisa tau siapa anda, apa yang sedang anda lakukan. Pertanyaannya, pentingkah bagi seluruh dunia untuk mengetahui eksistensi anda?

Saya sendiri juga narsis, dalam bentuk yang berbeda, tulisan.

Saya sangat suka menulis dan kemudian menaruhnya di buku harian virtual, membagikan link-nya via jejaring sosial agar banyak orang yang penasaran dan kemudian memilih untuk mengacu pada link tersebut. Dalam setiap tulisan saya ingin semua (yang membaca) tau apa yang menjadi pikiran, pendapat dan statement saya. Tidak penting bagi orang lain, tapi penting banget buat saya.

Hal yang sama yang mungkin dirasakan oleh para Narsiswan dan Narsiswati lainnya, ga penting banget kan buat kita melihat lenggak-lenggok geyal-geyol ulah mereka? Tapi pastinya itu penting banget buat mereka karena itulah cara mereka menikmati hidup. Hak asasi. Bedanya adalaaaaaaaah, kalo saya kan cuma kasih link dengan kata lain opsi boleh liat kalau mau aja, ga dipaksakan untuk melihatnya. Hahahahahahaahaha…

But seriously, narsis bisa membahayakan diri sendiri jika tidak dikontrol. Terimalah kenyataan bahwa banyak yang lebih hebat dan cantik daripada diri sendiri, maka mata kalian bisa melihat keindahan dunia dan diri anda adalah salah satu elemen pelengkapnya. Pusatnya bukan anda, tapi semesta. Narsis dapat membuat pria menjadi metroseksual, cinta berlebih pada dirinya yang “indah”, cikal bakal penyuka sama jenis. Hiiiiiiiiii…

Ga penting banget.

Salam manis,

Aries Boi.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s