Sebentar Lagi Pindahan

Waktu pindahan saya sudah semakin dekat dan retouch sedikit akan dimulai hari ini, biasa deh, cat ulang hampir di semua ruangan sebagai resiko membeli rumah bekas yang dulunya ditinggali oleh pasangan suami istri cukup sibuk dan memiliki dua anak perempuan yang masih kecil. Dekil, boi… Untungnya ada barang-barang yang memang ditinggal oleh mereka, jadi lumayan lah sebagai substitusi uang keluar. Lucunya lagi, ada satu kamar yang berwanra pink dengan plafon dicat motif awan dan langit biru. Sudah bisa dipastikan itu adalah kamar anak-anak yang sebentar lagi akan berubah nuansanya menjadi kamar alat musik, dengan dekorasi foto penuh memori yang akan membuat tamu kamar merasa berada di studio foto (eh…).

Jujur saya merasa agak sedih karena akan meninggalkan daerah yang lokasinya sudah cukup nyaman dan udah beradaptasi dengan baik dengan semua keadaannya. Walopun saya tidak begitu banyak menjalin komunikasi dengan tetangga (palingan hanya ucap Hai aja)  karena saya memang ga suka basa-basi dan kami adalah satu-satunya pasangan muda yang tinggal di deret blok maka rasanya “akan sulit” untuk bisa ajak interaksi dalam “level” yang sama, mereka udah mikir bagai bapak-bapak sementara saya masih suka bicara ngalor-ngidul. Entah mereka yang ketuaan atau saya yang ga tau diri, lupa usia. Maka kondisi berangkat pagi pulang malam adalah paksaan strategi yang baik.
Kesedihan saya sebenarnya karena harus berpisah dengan Abang Tukang Bakmi Dogdog (ATBD) dan Abang Tukang Roti (ATR), dua sosok pekerja keras yang sopan dan jujur. Beneran deh, rasanya sedih banget kertika nanti saya akan ngasih tau bahwa dalam hitungan beberapa hari ke depan ini saya tidak menjadi pelanggan mereka lagi. Sedihnya lagi karena di lokasi yang baru nanti saya belum tentu bisa menemukan penjual yang jujur dan sopan seperti mereka dan dengan produk jualan yang enak.
Hari Sabtu kemarin, Mbok Jamu langganan Sang Istri datang untuk kembali menawarkan produknya, sayangnya tidak bisa bertemu langsung. Mbok Jamu datang tepat ketika Sang Istri baru saja pergi ke rumah ayahnya, kira-kira selisih 5 menit aja. Saya sendiri sudah memprediksi akan didatangi oleh Mbok Jamu jadi sudah siap dengan pesanan Sang Istri untuk beli saja, tak perlu bilang apa jenis jamunya, Mbok Jamu udah tau koq apa yang harus disiapkannya. Maka saya pun mengatakan bahwa sabtu besok kami akan mulai memindahkan barang-barang. Mbok Jamu terkejut dan bertanya mengapa pindah yang saya jawab hanya dengan senyum saja. Namun dengarlah apa katanya,”Wah Mas, rasane sedih lhow bakal kehilangan saudara. Bilang ya ke Mbak-nya hari sabtu besok saya mau datang lagi, tungguin ya…”
Miris saya mendengar hal itu.

Kami berdua tidak pernah show off materi atau hal apapun lainnya demi bisa menjalin hubungan dengan banyak orang, selain karena memang tidak punya materi berlebih untuk disombongkan, ngapain juga melakukan hal yang dibenci oleh negara dan agama sepertu itu. Kami berdua hanya berusaha untuk selalu bersikap tulus dan mencoba menghargai orang lain – terutama para pekerja keras yang baik dan jujur. Mereka yang kalo dalam teori antropologi digolongkan sebagai masyarakat lapis kedua pun berhak mendapat hormat dari kita semua. Sekedar kata terima kasih sambil senyum saja sudah membuat mereka balik mengucap terima kasih berkali-kali.

Tapi kesedihan itu bisa sedikit terobati dikarenakan – ternyata – di lokasi baru nanti ada seorang tukang siomay yang sopan dan tentunya membawa siomay dagangan yang cukup enak. Saya bertemu di hari minggu kemarin, saat keluarga besar datang untuk melihat kondisi rumah. Karena belum ada barang apapun maka semuanya duduk selonjoran di lantai bersandar pada dinding. Waktu demi waktu berlalu, rasa lapar mulai mengganggu, sekonyong-konyong lewatlah sang tukang siomay berbaju ungu dan langsung saya panggil dengan suara merdu. Tukang siomay segera beraksi dan kami pun menikmati siomay dengan rasa cukup enak apalagi Sang Istri memberi informasi bahwa si tukang siomay menggunakan Kecap Benteng sebagai campuran bumbu kacangnya. Enak banget deh… Selama beraksi, saya mengajaknya sedikit bincang-bincang dan melihat bahwa tutur kata si abang sopan. Menyenangkan, bisa kembali menemukan “pengganti” para tukang jualan langganan saya…
Ya, saya siap pindah rumah.

Salam kepanasan,

Aries Boi

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s