Dua Kisah Nyata

image

Pagi ini saya berjalan kaki berdua dengan Sang Istri untuk mengurus beberapa keperluan. Jarak tempuh lumayan dekat tapi karena kami berdua memiliki niat yang sama untuk berjalan kaki maka sebenarnya terasa cukup jauh, hehehehehe… Namun kami berdua memang termasuk kalangan pencinta jalan kaki karena selain sehat juga hemat. Lagian juga tidak ada target waktu yang harus dipenuhi koq, maka kami berjalan dengan santai saja. Matahari yang sekarang agak redup, tadi bersinar dengan cukup terik dilengkapi dengan hembus angin pagi yang cukup sejuk membuat tubuh berkeringat walau tidak sampai lepek. Enak deh, seperti olah raga saja.

Di tengah perjalanan kami melihat seorang ibu tua berjalan agak bungkuk karena pundaknya memanggul keranjang dan tangannya memegang kardus. Ternyata ibu itu berjualan rempeyek hasil karya sendiri, kami ketahui setelah dia berseru menyuarakan yell marketing ciptaannya. Saat berpapasan saya sempat memandangi wajah si Ibu, terlihat sorot mata lelah dan raut wajah penuh harapan besar supaya ada pembeli yang mau menikmati rempeyeknya itu. Ternyata Sang Istri pun demikian, dia juga memperhatikan si Ibu. Setelah kami melewati sedikit, Sang Istri berkeputusan untuk membeli rempeyek – sebelumnya bertanya apakah saya mau makan rempeyek dan saya jawab tidak karena memang bukan makanan favorit. Namun jawaban saya itu tidak menghalangi niatnya untuk membeli rempeyek. Maka kami pun berbalik badan kemudian memanggil si Ibu. Beberapa kali kami panggil, si Ibu tetap berjalan. Sampai akhirnya kami bisa semakin dekat posisinya sambil terus berseru memanggil namanya barulah si Ibu berhenti. Katanya dia mendengar ada suara yang memanggil tapi melihat orangnya. Hehehehehehe…

Akhirnya Sang Istri membeli 3 bungkus rempeyek dengan harga Rp.5.000/bungkus. Rupanya kardus yang dipegang si Ibu berisi kantong plastik hitam untuk menaruh bungkusan rempeyek. Sambil memilih-milih saya memperhatikan si Ibu sambil mencoba mengabadikan proses jual beli tersebut. Saya merasa “iba” dengan kondisinya, setua itu masih harus berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saya juga yakin bahwa sebenarnya Sang Istri membeli rempeyek pun karena merasa iba dan ia ingin membantunya. Akhirnya, setelah usai membayar, kami pun berpisah. Sang Istri mengucapkan “terima kasih” dan “hati-hati jalannya ya Bu…” dan si Ibu pun membalasnya “Alhamdulilah. Terima kasih ya Nak… Banyak rejeki ya…“.

Tidak ada yang lebih indah dibandingkan dengan mendengar orang lain yang memberikan doa-nya buat kita, seperti apa yang sudah diucapkan si Ibu. Berbeda iman dan keyakinan bukan berarti membuat kita tidak bisa saling mendoakan, karena cinta kasih Tuhan itu salah satunya bersifat universal, DIA memelihara semua mahluk ciptaanNya. Saya pribadi sering mengucapkan doa spontan (tidak dalam “posisi berdoa” yang formal) agar Tuhan memberkati dan memenuhi semua kebutuhan hidup orang-orang yang mau berusaha keras seperti Ibu itu. Doa adalah sesuatu yang gratis namun besar kuasanya dan hanya itu yang dapat saya berikan sebagai bukti dukungan dan salut atas kerja keras mereka.

Tuhan memelihara semua ciptaanNya namun juga mengarahkan kita untuk menebarkan pandangan dan melihat seluruh kondisi kehidupan di sekeling agar kita semakin dewasa dan berpikiran luas, mensyukuri apa yang telah dimiliki dan menjaga hati untuk tidak menjadi rakus.
Banyak orang yang perlu dibantu…
Jangan korupsi…
Jangan berbuat curang…
Jangan semena-mena…
Jangan memikirkan diri sendiri…
Tuhan sudah begitu baik, mengapa kita tidak meneladaniNya?

Satu cerita lagi sebelum blog hari ini saya akhiri.
Kemarin saya ke toko buku bersama dengan seorang teman wanita, setelah mendapatkan buku yang dicari maka kami antri untuk membayar buku. Di depan saya ada dua anak kecil (kakaknya wanita dan adiknya pria) yang mau membeli sebuah buku berjudul “Cinta Rasul”, sebuah buku pelajaran anak-anak dengan banyak gambar seperti yang tercermin dari sampulnya. Tiba-tiba sang kasir berkata pada mereka, “Tukar saja sama yang lain, di tempat yang tadi juga. Ada koq yang sama tapi lebih murah”. Buku dikembalikan dan dua anak itu segera beranjak pergi.
Tiba giliran untuk membayar, saya bertanya kepada kasir ada “masalah” apa dengan kedua anak itu dan jawabnya mereka mau beli buku namun uangnya kurang.
Saya langsung merasa terharu… Lalu saya sampaikan kepada teman saya itu dan dia pun merasa terharu lalu minta supaya saya mencari dua anak tadi, dia mau membayari buku yang tidak jadi dibeli itu. Selesai bayar saya segera beranjak dan mengira-ngira lokasi rak buku tempat kedua anak itu mengambilnya, sementara giliran teman saya sedang bayar di kasir. Akhirnya saya menemukan kedua anak itu dan mereka sedang memilih-milih buku lain dan pas juga teman saya datang menyusul. Saya lihat bahwa dua anak itu mendapatkan buku dengan judul yang sama namun ukurannya lebih kecil.
Teman saya berkata,”Dik, tadi kenapa koq bukunya ga jadi dibeli?”
Jawab anak itu,”Uangnya ga cukup Ka.”
“Emangnya berapa harga buku yang tadi?”
36 ribu Ka.”
“Uang kamu berapa?”
20 ribu Ka”
Lalu teman saya mengeluarkan uang – kalo ga salah – 40 ribu.
“Ini buat kamu, ambil aja buku yang tadi ya. Bayar pakai uang ini. Kembaliannya ambil saja buat kalian ya”.
Wajah kedua anak itu terlihat berseri dan sambil berlari kecil mereka menuju kasir…
“Pahala lo besar tuh, Jeng”
“Amiiiiin…”

Dua kejadian di atas itu sungguh menegur saya bahwa “hanya dengan” Rp 15.000 dan Rp 16.000 kita bisa membuat orang lain bahagia. Jumlah yang hampir “tidak ada artinya” jika kita habiskan di warung kopi premium atau restoran kelas atas, namun sangat berarti dalam kehidupan banyak orang… Dan sungguh, rasa haru meliputi diri saat menulis dua kisah yang saya beruntung diberi kesempatan untuk mengalaminya.

Masih mau membiarkan hati BUTA? Semoga dua kisah nyata ini bisa membuka penglihatan mata hati…

Salam hangat di hari Sabtu,
Aries Boi.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s