Dibodohin Sama Hantu?

Semalam saya tidur cukup larut demi menonton sebuah acara uji nyali produksi suatu televisi swasta nasionl yang terkenal sebagai penghasil reality show rekayasa demi menggalang pemirsa melalui drama penuh amarah dan derai air mata. Acara uji nyali sendiri merupakan test keberanian seseorang (relawan) yang akan ditaruh sendirian di dalam suatu tempat yang dipercayai menjadi tempat bermukimnya mahluk halus – hantu, kerap menampakkan wujudnya dan membuat perasaan ngeri merajai setiap yang melihatnya.

Relawan yang bermaksud menguji nyali biasanya memang orang-orang yang sudah tau latar belakang dan kondisi sekarang dari tempat ujiannya. Ada seorang “psikolog”, wanita, yang ternyata ahli dalam berinteraksi dengan mahluk halus, menjadi salah satu narasumber mengenai keberadaan mahluk astral – istilah doski – yang berpartikel amaaaat halus namun memiliki energi yang dapat dirasakan. “Psikolog” itu (predikat yang disebutkan oleh sang pembawa acara) nampaknya benar-benar ahli dalam dunia dimensi lain tersebut, dia akan berjalan mengelilingi lokasi seram itu sambil membawa kamera digital, ditemani oleh sang pembawa acara yang membawa handycam dan seorang kameramen yang tentunya membawa kamera film beneran. Entahlah, apakah benar cuma bertigaan saja tapi yang terlihat sih seakan-akan memang hanya mereka saja. Sang “Psikolog” dan sang pembawa acara memasuki ruangan demi ruangan, sambil mengucapkan kata-kata salam dan segala macam demi menimbulkan kesan bersahabat dan tidak bermaksud mengganggu ketentraman para mahluk astral. Hebatnya lagi, “Psikolog” itu bisa dengan jelas “melihat” keberadaan hantu-hantu yang ternyata tidak sendirian dan dengan gamblangnya bisa mendeskripsikan bentuk/penampakan yang hanya dia sendiri yang melihatnya. Kamera foto digital digunakan untuk menangkap rekaman-rekaman “ganjil” yang timbul di sana-sini. Dan segala sesuatu hasil foto yang ganjil akan diasumsikan sebagai salah satu cara para hantu dalam menunjukkan eksistensinya. Ruang demi ruang ditelusuri, penampakan demi penampakan diinformasikan dengan jeli, sampai akhirnya tibalah waktu untuk sang relawan mengambil tempat di lokasi yang telah ditentukan tim horor itu.

Sang relawan akan duduk sendiri dalam kegelapan, namun dipantau oleh tim horor melalui beberapa kamera yang terpasang di berbagai sudut ruangan demi merekam aktivitasnya dalam melewati waktu demi waktu bersama hantu. Relawan itu juga memakai head cam pada helm macam yang digunakan penambang emas demi memberikan gambaran kepada pemirsa di rumah dan juga tim horor atas apa yang dilihatnya. Maka uji nyali dimulai.
Sejujurnya, selama acara berlangsung saya tidak melihat apapun keanehan yang terjadi. Ga ada hal yang janggal walopun sang relawan berkali-kali nyebut nama YMK demi mengusir kaget dan takut. Dengan suara lantang dia menyatakan berbagai hal yang “dilihat dan didengar”nya, dan hebatnya dia mampu bertahan walau digoda setan. Hebat banget ya, relawan itu wanita lhoooow, umur 21 tahun dan seorang mahasiswi.

Akhirnya, waktu uji nyali yang telah ditentukan oleh tim horor selesai dan kerusuhan pun usai. Relawan dijemput oleh sang pembawa acara untuk berbincang-bincang dengan “Psikolog” dan seorang narasumber lain yang ternyata memiliki informasi “akurat terpercaya” mengenai fenomena yang biasa terjadi di lokasi.
Maka relawan bercerita setiap hal yang dia rasakan.
Sang pembawa acara menjadi moderator.
Narasumber menjadi pemberi informasi mengenai hantu apa aja yang biasanya hadir di lokasi (sesuai dengan yang pernah dilihatnya).
“Psikolog” meng-amin-kan semua penglihatan dan kesaksian narasumber dengan berbagai dalil ilmiah.

Lucunya sih tidak ada satupun dari anggota tim horor yang melihat penampakan melalui kamera-kamera yang terpasang di berbagai sudut. Bahkan juga dari head cam yang terpasang di kepala relawan. Padahal si relawan udah seru banget, ngeliat banyak hal dan mendengar banyak hal, tapi tidak ada satupun yang terlihat… Antiklimaks…

Acara pun selesai…
Meninggalkan saya yang bengong melihat akhir yang ga seru itu…

Saya pun tidur.

Pagi ini baru saya merenungkan kejadian rekaman via siaran tipi itu. Betapa manusia penasaraaaan banget sama keberadaan dunia lain. Mahluk hidup dari dimensi yang berbeda. Saya pribadi percaya akan keberadaan mahluk tersebut karena memang Kitab Suci menyebutkan keberadaan mereka. Tapi saya tidak pernah merelakan diri untuk tunduk pada rasa takut sama hantu. Ngapain juga musti ngerasa takut, derajat kita aja kan lebih tinggi dari mereka.
Saya sendiri termasuk salah seorang yang penasaran dengan keberadaan hantu. Ga ada maksud lain sih, saya hanya suka dengan sensasi seram yang biasanya timbul berkaitan dengan horor. Bikin bulu kuduk merinding tapi ga ngerasa takut. Saya lebih takut kalo disuruh presentasi di depan publik, bisa kebelet berjam-jam deh…

Namun ketidak takutan atas hal yang berbau horor tidak membuat saya tertarik untuk menjalin hubungan dengan hantu itu. Saya ga merasa ada untungnya berkawan dengan mereka, sama manusia yang keliatan wujudnya aja banyak yang ga bisa dipercaya apalagi sama hantu, udah ga berwujud eh sekalinya menampakkan diri ternyata jelek banget. Apalagi derajatnya lebih rendah. Lalu apa untungnya?
Makanya saya bingung sama orang yang menjalin hubungan dengan hantu. Koq mau ya dibodohin sama yang lebih bodoh? Terbukti sih kebodohan orang yang berkawan dengan hantu karena mereka rela mempertaruhkan hal yang jauh lebih berharga untuk “dikorbankan” demi mendapat kenikmatan sesaat.

Lalu ada yang berdalih white magic dan black magic. Apapun itu, kalo masih menggunakan kata magic (konteksnya sihir ya, bukan sulap) maka berarti mengandalkan kekuatan lain selain dari Tuhan. Sama juga ga percaya sama kekuatan Tuhan sendiri, makanya perlu “dibantu” sama hantu. Atau bisa juga sih karena mereka ga sabar dengan kekuatan Tuhan yang biasanya memenuhi keinginan kita tidak pada waktu yang “tepat” sementara kalo hantu menyediakan layanan ekspres. Namun layanan ekspres itu kan bersifat pasca bayar ya: nikmati dulu, bayar belakangan. Nah pas bayarnya itulah hakekat manusia menjadi rendah-serendah-rendahnya karena rela digoblokin ama hantu. Hi3x.

Pertanyaannya, kalian mau digoblokin kaya gitu?

Dan saya sendiri merasa bahwa acara uji nyali itu adalah tipuan. Rekayasa. Walaupun memang bisa juga sih beneran sebagai ajang para hantu yang mau menggoda iman manusia. Jadi skemanya gini: ada yang suka berkawan sama hantu – hantu memberikan apa yang dimaui oleh orang itu – orang itu menyanggupi semua syarat uang diajukan hantu – hantu minta supaya eksistensinya dikukuhkan – orang itu lalu mengkreasikan acara realita horor – pemirsa tipi merasa takjub – ikut percaya dan akhirnya mau menjadi teman hantu. Nah, kalo kaya gini namanya diperalat kan?

Satu hal yang saya benci, berkaitan dengan white magic. Main sama hantu, percaya sama hantu, menggunakan tenaga hantu tapi tetep dengan dalih Tuhan, tapi tetep pake media penyaluran seperti keris lah, tongkat lah, kalung lah, pokoknya jimat-jimat gitu deh.
Tapi saya percaya pada adanya Karunia Ilahi sebagai pemberian Tuhan. Namun biasanya akan terlihat langsung koq perbedaannya. Ga dipungkiri juga bahwa yang main setan pun bisa berlagak seperti orang berkarunia ilahi. Musti hati-hati sekali.

Lalu apa yang paling kuat kuasanya dari antara semua itu: DOA. Itu saja.
Maka berdoalah sebelum memulai aktivitas. Doa adalah senjata iman dan jalan untuk berkomunikasi meminta kekuatan dan tuntunan Tuhan supaya kita bisa hidup dengan tegar dan mampu menghadapi semua tantangan.
Ga perlu lah ama hantu… Jangan mau dibodohin ya…

Salam hangat dari saya yang berpenampakan lebih seram dari hantu,

Aries Boi
(*sambil meringkik kaya pocong kecekik*)

epilogue: kata “hantu” sendiri adalah anagram dari TUHAN. Terbukti bahwa hantu mau memanipulasi manusia. Dalam bahasa inggris pun hantu disebut ghost padahal di sisi lain keberadaan Tuhan juga diungkapkan dengan Holy Ghost. Maka kata “ghost” itu harus diterjemahkan dalam konteks yang sesuai. Butuh kecerdasan dan itulah hakekat manusia: dianugerahi kecerdasan. Masih rela dibodohin ama setan?

Posted from WordPress for Android

Advertisements

2 thoughts on “Dibodohin Sama Hantu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s