Perbincangan Sekonyong-konyong

Sekonyong-konyong terjadi pembicaraan sebagai berikut:
“Ini motor saya tarikannya kurang enak ya”
“Hmmmmmm”
“Padahal ini termasuk baru lhow, belum 7 bulan. Beda banget sama motor saya yang hilang dicopet kemarin, udah 6 tahun tapi tarikannya enak banget”
“Oh ya?”
“Iya, saya bawa mudik ke jogja, ga kerasa cape, mungkin karena udah tau sela-nya kali ya?”
“Mungkin”
“Padahal jalan ke jawa itu belok-belok naik turun tapi tetep enak. Kalo motor ini belum pernah saya bawa”
“… …”

— terlihat di depan ada mobil box yang agak tersendat jalannya saat berada di tikungan agak menanjak berakibat terjadi antrian —

“Mustinya yang kayak gini dipisahin jalurnya ya, biar ga bikin macet”
“Mustinya emang gitu sih”
“Kalo jalur ke jawa emang dipisah, Mas. Motor dan mobil pribadi jalurnya sama. Bis AKAP juga sama. Yang dipisah itu truk besar dan tronton, jalur sendiri. Makanya enak jalannya”
“Gitu ya”
“Iya Mas. Makanya saya sering pulang kampung, jalannya enak. Jadi bisa nengokin istri kedua”
“Eh?”
“Istri yang pertama saya orang sini jadi ya tinggal sini. Saya juga kerjanya kan di sini jadi ya tinggal sama saya. Kalo istri kedua tinggal di jawa sama orang tuanya. Baru lahiran 2 bulan yang lalu”
“Okeh…”
“Anak saya baru satu Mas”
“Wah enak dong ga repot”
“Iya dari istri kedua. Dari istri pertama dapat 3 anak. Lumayan deh Mas”
“Oooooo… Jadi ada 4 ya”
“Aturannya 5 Mas, satu keburu meninggal pas orok. Panas tinggi”
“Ooooo…”
“Makanya saya pengen nengok anak orok saya di jawa”
“Musti sering-sering tuh Mas biar anaknya hapal wajah dan suara bapaknya”
“Bener sih, makanya musti coba mudik pake motor ini, tekor mas kalo pake angkutan umum”

— tempat pemberhentian sudah terlihat dan 5 detik kemudian ojek berhenti seiring berakhirnya pembicaraan itu —

Demikianlah bincang-bincang ga nikmat di atas ojek dalam waktu tempuh hampir 10 menit dari rumah saya menuju tempat angkot.
Saya merasa terzolimi dengan beberapa hal:
– terpaksa medengar omongan Sang Pengemudi Ojek (SPO)
– kuping yang mulai budeg ini terpaksa bekerja keras
– harus konsentrasi menerjemahkan setiap kata karena terucap dengan dialek daerah
– harus konsentrasi menyerap suara SPO yang bercampur dengan suara bising lainnya
– tidak bisa menikmati keindahan pemandangan sekitar
– kenyataan bahwa SPO memiliki 2 istri dan 4 anak (nyaris 5).
– terpaksa menikmati laju ojek yang nampaknya sengaja dibawa sedikit lebih lambat oleh SPO
– apakah semua itu urusan saya?

Tapi memang tidal ada kejadian yang kebetulan. Dari hal seperti ini saya justru melihat ke-PDan SPO dalam menjalani hidupnya, terlihat seperti ga takut / kuatir akan masalah ekonomi yang ada di depan mata. Tetep aja terlihat santai. Entah karena memang akibat kurangnya pendidikan yang dienyam atau entah karena memang dia punya usaha lainnya. Paling tidak dari hal iti saya bisa melihat bahwa dalam menjalani hidup yang banyak tekanan ini harus punya pikiran yang santai namun bisa membawa diri untuk bekerja keras. Untuk apa stress? Ga ada untungnya. Hal yang sama juga diberikan oleh orang tua sebagai nasihat atas ketahuannya penyebab utama saya mengalami serangan pusing hebat beberapa waktu yang lalu.

On the other side, saya merasa begitu prihatin dengan prinsip poligami seperti itu. Sampai kapanpun manusia ga akan bisa bersikap adil, benar-benar adil ya dalam hitungan bukan 50%-50% tapi 100%-100%. Karena kalo hitungan 50% itu artinya tidak maksimal dalam melakukan sesuatu dan jika dikaitkan dengan keluarga maka hal itu ga bener banget. Keluarga berhak dan harus mendapat 100% dalam totalitas perhatian. Membagi konsentrasi untuk memikirkan dan mengerjakan hal yang lain (di luar urusan keluarga) bukan berarti memecah persentasi totalitas namun kedewasaan dalam berpikir dan bekerja. Hanya bisa mengerti jika memiliki pemahaman yang mendalam. Balik lagi ke masalah intelektual. Jika memang mengerti maka tidak akan terjadi lagi poligami. Apalagi dengan kondisi ekonomi yang belum mapan…

Tadinya saya mau nasihati SPO atas hal 2 istri dan 4 anaknya namun ngapain juga ya, itukan hak-nya dia lagian juga mana asik ngobrol di atas ojek. Bisa keselek debu karena kebanyakan ngecap. Hahahahaahahaha.

Selamat menikmati hari Senin penuh macet ini ya.

Salam kompak,
Aries Boi

keterangan: pembicaraan di atas itu nyata adanya, bukan rekayasa atau rekaan reality show. saya sungguh menjalani hidup yang penuh dengan keanekaragaman cerita.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s