Merasa 20 Tahun Lebih Muda

image

image

image

image

image

Hari rabu tanggal 29 Juni 2011 saya menghadiri acara reunian SMP yang diadakan di gedung pegadaian daerah kramat raya. Acara mulai jam 10 tapi karena sebelumnya saya sibuk melakukan ritual pagi jadi baru bisa tiba di lokasi jam 11:30an. Naik bus transjakarta, turun di depan sentiong, jalan kaki dikit ditemani rasa debar di dada, tibalah saya di tempat tujuan.

Acara dilakukan di lantai atas, menuju tangga naik saya langsung disambut oleh sekitar 3 orang pria yang langsung mengabadikan kehadiran saya sebanyak 3 jepretan. Wah, oke juga nih penyambutannya karena jarang-jarang banget deh saya dapat difoto dengan gaya yang cukup jaim sambil melangkah. Macam anggota boiben aja. Setelah difoto saya menyalami satu per satu sambil berusaha mengingat wajah mereka semua. Tidak ada yang saya ingat namun rasanya wajar saja lah ya, kan udah 20 tahun ga ketemu, wajah pasti berubah lah ya. Saya juga merasa terhibur karena mereka satu pun tidak ada yang mengenakan dress code seperti yang sudah ditentukan sebelumnya: kemeja / kaos putih dan bawahannya jeans biru. Saya sendiri memang memakai kaos putih edisi spesial bertuliskan LOOSERZ karena memang saya sablon khusus demi acara itu (fakta: saya cuma punya kemeja aja yang warna putih, sementara saya males pake kemeja padahal ga punya kaos putih).

Kaki melangkah dan saya tiba di tempat acara.

Sesampainya di atas barulah saya lihat beberapa wajah yang agak-agak saya kenal tapi masih tetep ga inget juga. Lalu saya isi buku tamu berhadiah gelas sebagai souvenir, salaman dengan beberapa teman penerima tamu dan masuk ke dalam venue. Baru melangkah sedikit sambil terbengong-bengong akibat penglihatan yang buram (ga pake kacamata) dan agak bingung liat keramaian orang yang saya lupa wujud dan namanya, tiba-tiba saya mendengar ada yang berteriak, “Weeeeiiitttssss! Vanilla Ice!!!”. Sekonyong-konyong saya menengok ke arah suara itu karena – saya yakin – ditujukan kepada saya. Lalu saya melihat wajah seorang teman yang tersenyum dan langsung menjabat erat tangan saya. Kaget dan bingung saya langaung menyambut jabat erat dan peluknya (ga pake kecup pipi ya) sambil terus berusaha mengingat nama. Saya sangat bahagia dan terharu karena ternyata ada yang masih kenal sama saya. Dan perlahan ingatan akan nama mulai merebak seiring dengan berdatangannya teman-teman saya yang lainnya. Semuanya sama, meneriakan nama saya dengan “Vanilla Ice”. Hahahahahahahaa. Saya yakin banyak yang lupa dengan nama asli saya ini. Jadi posisi sama lah ya, saya lupa dan mereka juga lupa.

Okey, biar saya jelaskan sedikit mengenai alasan saya dipanggil Vanilla Ice.
Saat itu sedang jamannya boiben – the greatest NKOTB dan saya mengaku sebagai seorang Blockhead alias diehard fan-nya mereka. Tapi lama kelamaan jiwa saya mulai berontak dan melihat bahwa rap lebih asik. Nah, pas banget ga beberapa lama era hip-hop mulai merebak dan Vanilla Ice turut menggebrak. Seangkatan dengan MC Hammer, saya tetap emilih VI karena beat lagunya lebih asik. Secara skill rap juga VI lebih unggul karena lebih merépét, kalimatnya lebih “rapat” dan ga cepet-cepet balik ke chorus. Kebalikannya dengan MC Hammer, kebanyakan yell dan dikit-dikit balik ke chorus, ga seru banget. Hanya karena menghormati bahwa rap itu adalah “black music” maka VI selalu kalah banyak dapat pialanya dalam ajang American Music Award.
Nah, VI adalah sosok yang paling tepat untuk ditiru, dengan gimmick jambul fenomenal dan ukiran pada skinhead-nya, resmilah saya menjadi penggemar gel dan hairspray. Saya sering memakai kedua alat itu untuk membentuk rambut saat ke sekolah. Bayangkan, umur 13 tahun, item, dekil, kumisan, begénk, rambut jambul karena gel dan hairspray. Saya rasa ga ada yang lebih ancur dari hal itu.

Tapi mungkin gimmick seperti itu hanya tambahan aja, yang paling penting adalah skill. Yup! Saya hafal semua lirik lagunya Vanilla Ice. SEMUA. Nah, demi mendemonstrasikan kemampuan saya biasa menggunakan waktu luang di saat pergantian guru antar mata pelajaran untuk merépét. Belum lagi – parahnya – saya juga sambil melakukan disko hiphop. Dibantu dengan meja yang digeser dan seorang teman yang pintar melakukan beat dengan cara menggendang-gendang meja belajar, resmilah pertunjukkan kebolehan saya bagai aksi heboh topeng monyet berjambul. Pertunjukkan itu makin menjadi-jadi kalo ternyata gurunya lagi rapat atau malah beneran ga hadir, tenggang waktu yang lama membuat saya merasa berada di atas angin dengan aksi rap dan disko menggila, pernah juga sampai battle disko hiphop dengan anak kelas lain – saya yang menang dooong. Edannya lagi, pertunjukan itu pun menjadi konsumsi anak-anak kelas lain yang mungkin tertarik dengan rusuhnya suara yang berasal dari deret meja di bagian belakang. Semakin parah, aksi topeng monyet hiphop tambah hot jika saya berhasil menarik perhatian seorang cewek yang emang lagi saya taksir, hehehehehehe. Rasanya seperti pahlawan, ahli disko, petantangpetenteng, dunia seakan berada di dalam genggaman saya. Namun apa daya, penampilan fisik yang freak itu justru membuat sang cewek menghindar dari saya. Apa boleh buat, saya lebih memilih ketenaran daripada keberhasilan cinta, tidak berusaha memperbaiki penampilan juga (cukur kumis yang pertama kali adalah saat kelas 2 SMA). Maka resmilah saya sebagai Vanilla Ice SMP 136… Ais Ais Bebi (teng teng teng teng teng teng teng) Vanilla, Ais Ais Bebi (teng teng teng teng teng teng teng teng), Vanilla… Demikian sejarahnya.

Acara reuni berjalan dengan cukup meriah, walaupun kalau dari ukuran 1 angkatan, yang datang mungkin hanya 1/4-nya saja. Namun rasa bahagia bisa bertemu teman lama tidak berkurang. Semua pada kaget melihat perubahan yang terjadi, khususnya fisik (semuanya menggendut). Kalo udah kaya gitu ngobrol-ngobrol mah menjadi menu utama waloupun sebenarnya panitia telah menyiapkan beberapa acara. Gue sendiri beruntung karena bisa membawa pulang satu unit jam dinding sebagai ganjaran atas keberhasilan saya mendemonstrasikan membawakan lagu Ibu Kita Kartini dengan menggunakan suling. Tidak terlalu sulit karena memang saya hafal notasi lagu juga finger position pada suling, yang susah hanya dibagian meniupnya, bawaannya mau ketawaaaa melulu. Hehehehhehehe.
Saya juga terharu ketika melihat guru-guru yang hadir. Terharu banget membayangkan ada orang yang sudah lebih dari 20 tahun mengabdi menjadi pengajar dan bahkan masih terus mengajar. Hebat sekali. Guru bukanlah sebuah profesi, namun benar-benar pengabdian. Mereka luar biasa.
Lalu kami bernyanyi bersama. Para murid keroyokan menyanyikan lagu Hymne Guru dilanjutkan dengan kolaborasi murid dan guru menyanyikan lagu – pasti sudah bisa kalian tebak – Kemesraan sambil proyektor menampilkan foto-foto saat kami masih SMP dulu. Lucu sekali melihat fakta terpampang seperti itu, ga ada yang bisa mengelak ketika keculunan masa muda terekspos dengan leluasa.

Saya rasa kita semua harus berterima kasih pada kemajuan teknologi sehingga pertemuan kawan lama bisa dengan mudah direkam baik dengan video maupun kamera foto. Berbagai pose dan gaya memperlihatkan betapa kami masih memiliki sifat-sifat konyol jaman dulu sambil tak habisnya saling ledek khas anak SMP. Foto selesai maka ritual selanjutnya adalah upload ke media sosial seakan-akan ingin mengabadikan selama-lamanya sehingga suatu saat nanti anak dan cucu bisa melihat kelakuan minus kami semua. Hahahahahaahhaa.

Reuni berakhir pukul 13:00 namun efektif bubar pada pukul 14:30. Banyak yang masih belum puas melepas rindu. Termasuk saya. Maka saya merasa salut dan berterima kasih kepada semua teman yang telah memprakarsai reuni ini, semua jerih payah mengumpulkan data, foto dan pembuatan video kilas balik sungguh terbayar dengan kebahagiaan dan senyum lebar dari semua yang hadir. Luar biasa!

Satu hal yang pengen saya tambahin. Ga perlu lah acara reuni dibikin besar-besaran, poll-pollan sampe menghabiskan dana puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Bikin yang sederhana aja, karena semua hal yang mengonsumsi dana paling banyak itu justru bukan hal yang amat dibutuhkan. Hanyalah kesempatan untuk ngobrol, berinteraksi dengan kawan lama, itulah yang amat dicari. Gratis kan kalo ngobrol aja? Makanya saya bangga dan salut banget dengan rekan-rekan panitia yang walaupun penuh kesederhanaan namun kebutuhan terutama itu berhasil dipenuhi, padahal patungannya murah bangeeeeeeet kalo dibandingkan dengan acara reuni teman gue yang bikinnya pakai ngundang artis-artis ibukota sampe ibu tiri juga ibu kost, makanannya mewah banget a la restoran di hotel malah ada yang sewa DiJe segala buat dugem… Ckckckckck…

Dan saat itu berhasil membuat saya merasa 20 tahun lebih muda…

Love You All, My Friendz!
‘Til We Meet Again!

Aries Boi.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s