Berbeda Namun Tetap Satu

image

image

Dalam blog yang sebelumnya saya bertutur tentang makna keseimbangan dalam relasi suami istri yang memang diamanatkan dalam ajaran keyakinan iman. Hal-hal yang harus diperhatikan dengan detail demi terciptanya persamaan hak dan kewajiban antara suami istri yang mampu menjadi penangkal timbulnya konflik rumah tangga  berkepanjangan, semua dimulai dari satu awalan yang mudah dibaca namun sulit diterapkan: penyamaan persepsi. Bukan berarti menentukan pasangan itu harus yang memiliki minimal 99,5% persamaan sifat, karakter serta keinginan dengan keinginan kita sendiri, karena justru malah menimbulkan kebosanan. Ujung-ujungnya ya konflik juga. Jadi carilah yang “berbeda” dalam hal yang bukan prinsip – atau bahkan kalau kalian memang “berani” bisa juga dalam hal prinsip namun berjuanglah sehingga akhirnya mencapai kesepakatan. Cara pandang pasti beda walau tentunya bisa diselaraskan. Apakah akan menjadi masalah kalau saya melihat bahwa ayam adalah yang lebih dulu ada sebelum telur dan Sang Istri justru kebalikannya namun kalo akhirnya ayam dan telor itu jadi satu dalam masakan opor ayam yang disajikan saat hari sabtu dan minggu? Sama-sama kenyang kan? Hahahahahaha… Just kidding. Hidup jauh lebih kompleks dari sekedar masalah opor ayam dan saya bukanlah tipe manusia yang mampu menulis hal yang kompleks.Maka cerita kali ini adalah tentang betapapun saya sudah percaya bahwa Sang Istri adalah penolong seimbang yang telah dianugerahkan Sang Maha Pencipta, tetap saja di dalamnya ada hal yang berbeda, khususnya dalam hal interest. Bukan mengenai bunga bank – tentunya, namun mengenai ketertarikan atas sesuatu atau beberapa sesuatu yang ternyata kalo dilihat-lihat amat bertolak belakang. Kali ini dalam hal book interest.

Saya dan Sang Istri sama-sama suka baca buku. Namun Sang Istri jauh lebih freak bacanya. Bisa tuh siang hari dia beli buku setebal 300 halaman dan malamnya mungkin sudah tinggal setengah. Sementara saya, beli bukunya sih suka tapi bacanya pas lagi mood bagus aja. Bagi saya, membaca merupakan ritual khusus yang harus didukung oleh situasi dan kondisi prima, seperti misalnya, saat acara tipi lagi ga keren, saat saya lagi lupa bahwa harus latihan gitar sendiri, saat semua alat musik dan effect gitar tidak berada di hadapan yang sungguh menjadi sumber urungnya niat saya membaca buku. Terlalu banyak godaan, terlalu banyak ajakan. Maka saat yang paling tepat bagi saya untuk membaca buku adalah saat nongkrong di wese, saat tiada yang bisa dilakukan selain menunggu datangnya desakan membara, yang sebaiknya diisi dengan memperkaya pikiran dari buku bacaan. Dan akhirnya terbacalah buku baru saya. Hore!

Istri saya asangat menyukai buku yang “aneh”, mungkin bisa dibilang berat tapi juga banyak yang “nyeleneh”. Bacaan terfavorit-nya sepanjang masa adalah Lima Sekawan. Nampaknya Sang Istri memang suka dengan cerita yang mengandung petualangan, agak mengkhayal, kadang kekanak-kanakan, bahkan ada juga yang teenlit atau chicklit tapi pastinya bukan yang murahan. Terakhir yang saya tau dia membeli buku yang – katanya – cerita anak-anak, berisi tentang kenakalan anak-anak di venesia dengan seorang pangeran pencuri (macam Robin Hood kali ya) yang menjadi sentral cerita. Dari cerita itu Sang Istri justru menjadi semakin tertarik untuk membaca sejarah Venesia. Googling dan akhirnya menemukan fakta serta data yang cukup akurat mengenai terjadinya kota itu, struktur bangunan bahkan keadaan lalu lintasnya. Semua hasil pencariannya itu diceritakan kepada saya dengan mata berbinar-binar dan sedikit berputar-putar, mulut monyong-monyong dan intonasi suara meninggi serta jumlah kalimat per menit yang makin meningkat. Nampaknya terlalu banyak hal yang didapat namun waktu untuk bercerita amat terbatas dan – mungkin juga – dia melihat saya menanggapinya dengan sok cuek, tenang, mulut sedikit menganga, sambil tiduran di atas sofa yang akhirnya membuat dia mempercepat pendeskripsiannya sebelum saya hilang dibalik ngorok.

Ketika dia selesai berdeskripsi, saya mengatakan bahwa ketertarikan dia sungguh berbeda dengan saya. Tau apa reaksinya? Sekonyong-konyong monyong dia berkata, “Iya! Kamu mah terlalu romantis!”. Saya kaget. Wajah Sang Istri terlihat biasa aja, namun ada sedikit kilatan scahaya di ujung matanya, entah apa maksudnya….

Ya, Sang Istri suka dengan segala hal yang bombastis, seru, tegang, petualangan. Sementara saya, jauh lebih suka membaca buku bernuansa cinta galau. Silahkan kalian liat aja perbedaan yang timbul di dalam kedua foto yang ada di blog ini, kalian tentu bisa menentukan mana kumpulan buku saya dan mana yang milik Sang Istri.

Jujur, saya sangat suka merenung dan tidak ada hal yang paling nikmat untuk direnungkan selain masalah cinta. Bukankah Cinta merupakan tema besar dunia ini – sepanjang masa? Saya suka cerita cinta yang tidak mudah dicerna, saya suka yang puitis, saya suka yang memiliki maksud terselubung, seperti menyembunyikan sesuatu. Bahkan gilanya lagi saya suka yang mengandung “selingkuh”. Dan kali ini benar-benar gila, karena dari dalamnya saya bisa melihat adanya suatu kecerdasan terselubung, seperti manajemen waktu, penciptaan alibi dan pengkreasian fakta artifisial lainnya. Namun selalu aja semua berakhir dalam kegalauan. Dan saya suka melihat orang galau, karena lucu sekali, kayak pusing sendiri, suka bengong dan akhirnya malah kaya kena penyakit tetelok. Jangan lupa kawan, tema galau adalah ladang emas bagi para pencipta lagu di era jaman ini. Coba aja kalian kompilasikan lagu-lagunya Kahitna, ada berapa banyak yang isinya mengatakan kegalauan bila dibandingan dengan hati berbunga karena jatuh cinta? Hahahahahaha…

Satu-satunya persamaan saya dengan Sang Istri dalam buku adalah imajinasi, namun sekali lagi beda hasil akhirnya. Sang Istri mampu membawa alam pikirannya melayang ke tempat-tempat yang ingin dia jelajahi dalam khayalan, sementara saya harus lebih dibantu dengan gambar. Maka novel Pangeran Pencuri-nya itu adalah bukti nyata daya imajinasi Sang Istri yang begitu bombastis sementara kumpulan komik bergambar Superman, Batman, Green Lantern dkk adalah bukti nyata terbatasnya imajinasi saya. Seperti yang saya sebut tadi, Sang Istri akan melakukan pencarian di internet mengenai semua fakta pendukung yang diceritakan dalam novel sementara saya lebih suka berkhayal menjadi seorang pria yang mendapat Power Ring dan meneruskan karir sebagai seorang suksesor Green Lantern di bumi ini. Berarti, imajinasinya Sang Istri masih kalah dong dengan imajinasi saya. Silahkan tepuk tangan.

Yah, begitulah blog saya di hari minggu ini. Mau saya akhiri dulu ya soalnya sebentar lagi saya mau jalan dengan Sang Istri, menuju dua mol terkemuka di Jakarta, demi mencari buku baru hasil karya penulis favorit saya, Dewi Lestari dan kemudian membeli beberapa barang demi melengkapi alat-alat musik saya di rumah.

Selamat menikmati hari liburan dengan orang-orang yang kalian cintai ya….

Jangan lupa, dunia itu indah, begadang itu tidak disarankan dan korupsi itu haram hukumnya, neraka jahanam ganjarannya!

Salam Hangat,

Aries Boi

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s