Cerita Anak Laki dan Anak Wanita Saat SMA

image

Kembali ke masa muda, saat peralihan bercelana pendek menjadi bercelana panjang. Warna biru menjadi abu-abu. Tepat sekali karena abu-abu memang melambangkan sesuatu yang ragu-ragu, belum cukup umur untuk dibilang dewasa namun juga sudah kelebihan umum untuk dibilang anak-anak. Di saat itulah pencarian jati diri semakin menonjol, selain jenggot dan kumis yang semakin lebat, bau badan semakin menyengat, jerawat tumbuh menghabiskan tempat, namun keinginan untuk tampil lain daripada yang lain pun semakin kuat. Saat dimana keinginan untuk menarik perhatian lawan jenis begitu menggebu, menderu, malu-malu tapi mau.

Dia seorang anak laki berumur belum 17 tahun.
Tertarik secara fisik pada seorang anak wanita yang bermukim di kelas seberang dari jam 7 pagi sampai 1 siang.
Kehadirannya selalu membawa bahagia kala melihatnya muncul dari anak tangga terakhir, melangkah di koridor sebelum memasuki kelasnya. Pemandangan indah selama hampir 365 hari potong masa libur hari sabtu dan minggu, libur hari besar keagamaan dan libur panjang semesteran. Maka berapa jumlah hari tepatnya tidak pernah diketahui.Anak wanita itu termasuk murid baru, pindahan dari sekolah swasta dan bergabung di sekolah negeri ini saat kelas 2. Sudah menjadi rahasia umum jika “anak lama” langsung mencari perhatian dari anak baru, apalagi kalo anak baru itu dinilai “layak dikecengin”. Syukurlah anak wanita itu masuk dalam kategori yang demikian. Maka anak laki yang telah disebut di atas turut serta dalam melakukan aksinya. Unjuk gigi walopun deretannya tidak rapih, unjuk rasa walopun tidak ada kaitannya dengan masalah politik dalam negeri dan unjuk tangan saat Ibu Guru memberikan pertanyaan. Entah apa maksudnya kalimat ini.

Namun anak laki itu mati gaya, walopun dia merasa telah melakukan banyak upaya, namun apa daya, sang anak wanita tetap tidak percaya. Berbagai cara telah diusahakan: kirim surat yang disampaikan lewat kurir yang adalah seorang anak wanita teman anak wanita itu, bergaya sok cuek dengan memelihara jenggot supaya dibilang mirip dengan personil Color Me Badd, berambut skinhead biar dibilang up to date namun kenyataannya malah membuat kepala bulat macam lampu taman, semua cara dilakukan namun anak wanita itu tidak tergerak sedikit pun untuk menoleh.
Ternyata surat yang menyatakan kata cinta sempat menjadi solusi terbaik karena anak wanita itu sempat mau membuka diri untuk berbicara dengan anak laki itu yang herannya justru malah kabur saat akan diajak ketemuan.
Anak laki itu rupanya bernyali kecil. Tipis kalo kata teman-teman tongkrongannya. Tidak berani bicara langsung, lebih suka gerilya saja. Well, sebenarnya sih pernah melakukan bicara langsung, namun dilakukan pada saat yang tidak tepat – 3 hari baru kenal langsung tembak bilang suka. Jawabannya tentu tidak. Sialan, katanya.

Rupanya kegegabahannya itulah yang membuatnya memilih alternatif gerilya. Tak mau obral lisan, namun tulisan macam cuci gudang. Mau dibilang gombal juga bisa walopun sebenarnya isi tulisannya benar-benar apa yang dirasakan. Tidak dilebihkan apalagi dikurangkan. Apa adanya saja. Namun, kualitas tulisan macam apalah yang keluar dari seorang anak yang masih mengalami ketidakseimbangan hormon? Gambar hati berwarna merah jambu banyak tergurat di atas kertas putih dan Valentine Day adalah perayaan sakral bagai stempel legalisir yang memperbolehkan seorang anak laki mengirimkan kartu berwarna pink berisi gombalika bahasa kepada pujaan hatinya.

Maka sudah kalian baca bahwa surat dan kartu telah begitu diumbar. Namun ada satu ciri khas dari anak pria itu, yang menjadi trademark dalam sejarah kisah cinta perdananya.

Saat lagu-lagu masih direkam secara analog, dituangkan dalam pita rekaman dan dijual dalam bentuk fisik kaset, internet masih dalam tahap pembicaraan, mp3 tentunya belum ada wujudnya, anak laki itu bersusah payah mengumpulkan kaset yang dipinjamnya dari saudara, teman dan juga dari koleksinya sendiri, mengompilasikan lagu-lagu cinta ke dalam kaset C90 kosong yang berdurasi 90 menit dan mampu merekam lagu hampir sebanyak 20 buah. Jika sedang kepepet karena kurang duit, maka hanya mampu mengompilasi hampir 15 lagu saja ke dalam kaset kosong C60 yang berdurasi 60 menit saja. Yah, namanya juga masih SMA, duitnya masih harus disisihkan buat ongkos naik bemo setiap hari.
Lagu yang dikompilasi tentunya bertemakan cinta semua. Beruntung anak laki itu memiliki selera musik yang sangat luas dari penyanyi jadul sampai penyanyi yang era itu sedang ngetop, maka bisa ditemukan deretan musik dari Color Me Badd, Boyz II Men, FanClub, NKOTB, bahkan The Carpenters dan Heatwave yang mewakili era jadul. Semua lagu itu direkamnya sendiri menggunakan tape dengan dua deck yang dapat langsung merekam lagu yang diputar di deck A ke deck B. Sungguh berjasa tape itu. Maka anak laki itu mendesain sendiri sampul kaset tersebut, menulis dan menggambar berbagai macam hal supaya sang anak wanita itu memahami betapa dalamnya perasaannya. Dibungkus, masuk dalam tas dan kemudiam dibawa langsung ke tempat tinggal sang anak wanita itu.

Tiba di depan rumah anak wanita itu, si anak laki merasa kakinya mendadak lemah, ingin pingsan, takut dan kalut, bagai tiba-tiba ga pakai kancut. Gemetar memanggil nama sang anak wanita.
Pintu terbuka.
Anak wanita muncul.
Berkata,”Hai, ada apa?”
Anak laki mau pingsan.
Namun berhasil menjawab,”Hai. Cuma mau kasih ini aja”.
Kaset berpindah tangan.
“Terima kasih ya” kata anak wanita
Senyum dikulum adalah balasan yang sanggup diberikan oleh anak laki itu, yang langsung berbalik arah dan melangkah menjauh…
Dia ingin menengok
Jalan semakin menjauh
Dia lalu berbelok
Jalan semakin jauh
Dia lalu menengok
Rumah anak wanita itu sudah tidak terlihat.
Biarpun begitu senyumnya tetap terpasang, bahkan sampai malam saat tidur dia bermimpi diberi uang 1 juta buat mengajak anak wanita itu candlelight dinner di kedai yang namanya AH, alias American Hamburger.

Maka keesokan hari anak pria masuk sekolah dengan hati ceria. Semakin ceria ketika dia melihat anak wanita itu tersenyum. Semakin lebar senyumnya saat dia melihat anak wanita itu berjalan ke arahnya. Semakin terik rasanya sinar matahari saat anak wanita itu berjarak 2 meter darinya. Perasaan terik itu membuatnya keringatan. Sampai akhirnya dia merasa angin sepoi berhembus kala mendengar suara anak wanita itu berkata,”Terima kasih buat kasetnya ya. Lagunya bagus-bagus. Gue suka”.

Gravitasi terasa tidak mampu menahan tubuhnya yang melayang dengan hidung besar yang semakin mengembang. Bulan dan bintang terlihat terang di langit siang.
Perasaan cinta memang bisa bikin orang lebih parah dari meriang.
Anak laki itu amat girang.

Maka diteruskannyalah gerilya berkirim kaset, namun dengan deretan lagu yang hampir sama. C90 yang mampu merekam hampir 20 lagu ternyata diisi dengan 17 lagu yang sama dengan kaset sebelumnya. Mengapa demikian? 17 lagu yang sama itu adalah lirik dan melodi yang paling pas mengungkapkan isi hati si anak laki. Berharap dengan strategi rekam ulang itu sang anak wanita makin lumer hatinya, rubuh tembok pertahanannya dan akhirnya mau menjadi kekasihnya. Dan hal itu berulang berkali-kali, berkaset-kaset telah diberi kepada sang anak wanita, tetap dalam rumusan yang sama walau komposisinya berubah. Kadang kala ada 5, kadang 7 atau 10 lagu yang sama seperti yang tercantum dalam kaset rekaman perdananya.
Menanggapi pengiriman kaset dengan isi yg hampir sama itu, sang anak wanita sudah tidak secara khusus memberikan ucapan terima kasih, hanya senyum semata. Itu pun dari jarak jauh. Sang anak laki tidak peduli. Yang penting isi hatinya disampaikan dan dia yakin si anak wanita itu sudah lebih dari mengerti isi hatinya, seperti yang selalu diguratkannya dalam sampul kaset kreasinya sendiri.

… … …

Belasan tahun kemudian, ketika anak pria itu sudah bertitel Bapak dan anak wanita itu sudah bertitel Ibu, mereka bertemu dalam ajang kumpul bareng teman akrab semasa remaja. Mereka menertawakan keluguan sang anak pria dengan mengelu-elukan keteguhan hati sang anak wanita. Tidak ada masalah karena sekarang masing-masing sudah bahagia dengan wanita dan pria pilihan hidupnya.
Kisah itu hanyalah cerita lampau yang menarik untuk diingat.
Menarik untuk ditertawakan mengingat betapa lugu dan bodohnya anak berumur 17 tahun.
Dan semua tertawa saat menceritakan kisah hidupnya masing-masing.
Masa SMA memang tidak akan pernah terlupakan.

Amat Indah…

epilogue:
Sang Wanita: “Eh, sebenarnya kenapa sih lo selalu kirim lagu yang sama dalam setiap kaset?”
Sang Pria: “Yah, elo ga ngerti emangnya?”
Sang Wanita: “Engga. Malah waktu itu gue pikir lo kurang kerjaan atau kehabisan stok lagu”
Sang Pria: “Eh, busyeeeeet. Jadi lo ga nangkep maksud gue dulu itu?”
Sang Wanita: “Kaga…”

… dan semua pun terbahak-bahak

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s