A So Called – Studio

image

Ini adalah ruang kecil yang demi fotografi saya ubah jadi tempat alat musik milik saya berkumpul, hanya demi fotografi saja karena sesungguhnya alat musik yang saya miliki itu terserak kurang teratur. Yang terlihat adalah 1 gitar akustik, 1 bas akustik, 2 efek multi pedal, 2 ampli dan 1 cajon yang tertutupi kaos hitam. Saya masih punya 1 gitar 12 senar, 1 gitar akustik klasik, 1 gitar senar nilon dan 1 okulele yang saya taruh di rumah ortu (dipake bokap), 1 djimbe dan 1 – not so serious – keyboard. Berhubung ruangan ini terlalu kecil maka hanya sebagian aja yang saya gunakan untuk menghasilkan foto. Lagian juga rasanya kurang asik kalo nuansa vintage metal acoustic harus mengakomodir keberadaan keyboard, takutnya disangkain saya niru studio-nya bon jovi, padahal saya anti bon jovi.

Demi menghasilkan nuansa anak muda (cuuuiiiihhhh) yang nakal hobi main musik, maka saya memajang helm skateboard – yang saya pake buat naik sepeda di pagi hari “bike to work” – bertuliskan Looserz hasil coretan tip-ex dan sapuan stabilo berwarna kuning demi menghasilkan efek terang, baju hitam bertuliskan Looserz juga yang saya cetak sendiri di tukang sablon (dijamin ga ada yang punya selain saya) dan saya letakkan sembarangan di atas cajon, baju abu-abu bertuliskan Negative Hardcore yang saya gunakan sebagai pengganti banner NGHC karena saya emang ga punya. Juga kalo kalian perhatikan ada sepatu skate hitam Nike dengan swoosh hijau muda kesayangan saya, sekedar untuk menambah nuansa street fashion di situ. Yang ga kalah eksis adalah keset kaki dengan 2 pasang sandal jepit – 1 terbuat dari karet dan berwarna ungu, 1 lagi bermotif batik – sebagai representasi diri saya sendiri yang hobi memakai sandal jepit. Namun, sesuai dengan prinsip BugBangJoe yang selalu membawa nuansa romantic hardcore, maka dua buah foto berbingkai berukuran cukup besar tentang prewedding saya jadikan sedikit aksen di area kecil tersebut.

Sesi foto selesai menghasilkan 30an foto yang semuanya saya shoot menggunakan kamera galaxy tab dan tambahan olah digital software yang terpasang di dalamnya. Mencoba membawa nuansa jadul, pikiran saya teringat kepada almarhum adik saya, Mario Ganzamo, yang selalu ingin memiliki studio musik di rumah. Mimpi yang tak pernah bisa dicapainya. Ya, hal itu menjadi “dendam” tersendiri bagi saya dan melakukan sesi foto demikian adalah salah satu cara untuk melepaskan semua emosi setiap kali mengingatnya.

Demikianlah makna foto yang saya buat ini, ga penting buat anda namun penting banget buat saya. Akan ada lagi foto demikian namun dengan setting ruang yang berbeda – saat saya sudah masuk ke rumah baru nanti.

Have a nice day, People.

Salam Anget,
Aries Boi

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s