Sandal Jepit

image

image

Oke, apa yang kalian pikirkan ketika membeli sebuah sandal? Saya pribadi memang suka banget dengan sandal karena bentuk telapak kaki yang melebar ujungnya macam bebek sehingga memakai sepatu terasa seperti pencekalan hak asasi juga karena jemari dari jempol sampai kelingking bisa bernafas dengan lega. Memakai sandal juga bisa mengurangi timbulnya wewangian kurang sedap dari sela-sela kaki. Dan saya paling suka dengan jenis sandal jepit. Entah mengapa rasanya sandal jepit itu adalah representasi hidup saya, simpel, sederhana, kadang kejepit namun rasanya lega. Ah, itu mah filosofi yang saya bangun sendiri namun cukup beralasan kan?Waktu saya masih muda (baca: kecil) sandal jepit merupakan alas kaki layer kedua, dipakai untuk pergi main tap jongkok di lapangan, nyolong buah hasil pohon tetangga, bahkan dipakai sebagai alas kaki ketika bertandang ke kampung lain untuk adu breakdance. Bagi orang tua, sandal jepit menjadi alas kaki wajib kala hang out dengan orang tua lainnya di sekeliling gerobak tukang sayur, belanja beras ke toko Ko Ahong dan bagi yang dulu dididik oleh orang tuanya ala belanda macam Babe saya, sandal menjadi alas kaki wajib yang menemaninya ke wésé. Dari semua fakta tersebut di atas, wajar saja jika akhirnya disebut tidak sopan jika menggunakan sandal jepit saat menghadiri suatu acara yang bahkan tidak bersifat formal. Seperti berkunjung keliling kampung saat mengucapkan selamat hari raya, akan terlihat kurang proper jika pakaian bagusnya dipadupadan dengan sandal jepit, juga terlihat seperti kurang menghargai sang tuan rumah. Sebegitu dahsyatnya pandangan negatip atas sandal jepit sampai-sampai orang tua suka memarahi saya jika kedapatan menggunakannya saat menghadiri suatu acara yang – padahal – diadakan dalam suatu ruang lega dan semuanya duduk di atas karpet lantai. Itu berarti alas kaki harus dilepas dan diparkir di luar pintu, jadi mengapa harus pakai sepatu kan?

Jaman berubah, teknologi berkembang, pekerjaan yang semakin rumit membuat orang bertambah stress dan mulai mencari jalan alternatip untuk menikmati hidup. Segala sesuatu dibuat lebih mudah, menggunakan teknologi tepat guna supaya pencapaian solusi bisa dilakukan di mana saja, kapan saja dan dalam keadaan bagaimana saja. Itulah yang disebut dengan gadget. Namun sebelum gadget berkembang pesat gila-gilaan seperti sekarang, telah muncul ide brilian duluan yang diwujudkan dalam bentuk Sandal dan Sepatu Sandal. Sandal itu bentuknya tetap sandal namun tidak menggunakan teknologi jepit melainkan menggunakan suatu bahan yang terlihat seperti atap menutupi bagian atas kaki namun jemarinya tetap terbuka. Well, tak bisa dipungkiri bahwa sandal terinspirasi dari bakiak yang akibat menimbulkan suara pletak pletok provokatip saat digunakan menjadi dilupakan oleh sebagian besar rakyat. Belum lagi yang terbuat dari kayu dan tidak empuk saat digunakan. Maka sandal adalah improvisasi mumpuni atas bakiak.
Lalu muncul lagi inovasi Sepatu Sandal. Seperti sepatu tapi sandal. Biasanya banyak digunakan oleh kaum wanita. Saya sendiri sempat bingung dengan pengklasifikasiannya karena terlihat hampir sama saja dengan sandal. Namun seorang teman, cewek, mengatakan bahwa kalo sepatu sandal itu ada tali yang melingkar di bagian belakang tumit kaki. Padahal kalo menurut saya sama aja, banyak juga koq sepatu sandal yang bagian depannya terbuka tapi entah mengapa jadi dianggap lebih resmi daripada sandal jepit, padahal sama-sama umbar jari kaki.
Nah, adalagi yang namanya Selop. Saya hanya ingat alas kaki yang digunakan oleh para abdi dalem kraton. Bagian depannya tertutup rapat namun tumitnya terbuka. Mengingatnya saya menyimpulkan bahwa era “sepatu injak” yang begitu eksis di era 80an akhir sampai pertengahan 90an terinspirasi dari selop.
Dan mode Sandal, Sepatu Sandal dan Selop teruuuuus berkembang dan akhirnya mencapai taraf luar biasa seperti saat ini. Sebuah merk bergambar muka buaya mampu menciptakan sandal dengan harga berkarung-karung beras dan dijualnya pun di dalam mol-mol premium. Yang memakainya orang-orang ganteng dan cantik, wangi dan pastinya mereka tidak akan memakainya ke lapangan buat main layangan. Ya, sandal merk ini malah mampu menjadi alat menaikkan strata sosial, makanya langsung deh muncul KW super sampai palsuannya yang dijual merajalela di pasar-pasar agak modern. Saya pun termasuk pembeli dan pengguna sandal tersebut dengan label KW super. Heheheehehehehehe…

Tapi setelah sekian lama saya menggunakannya, saya sungguh kangen dengam keberadaan sandal jepit yang benar-benar berfungsi sebagai alas kaki. Sandal KW super yang saya gunakan itu tadinya memang saya pakai pulang pergi kantor demi menjaga keawetan sepatu yang saya taruh di kolong meja kerja, supaya terhindar dari keringnya sengatan panas matahari juga basahnya air yang tergenang di jalanan pasca hujan. Selain itu, dengan bentuknya yang seperti selop juga adanya ikatan di belakang tumit, sandal itu terlihat seperti sepatu resmi, apalagi warnanya yang memang sengaja saya pilih hitam. Namun hanya selang 3 bulan saja, lama kelamaan sandal KW super itu menjadi licin, justru membahayakan. Beberapa kali saya terpleset saat jalan di trotoar, repotnya lagi kala hujan tiba-tiba turun dan saat itulah orang bergegas lari, saya malah tetap jalan bagai putri indonesia yang pakai kemben ketat kesulitan melangkahkan kaki akibat menjaga keseimbangan badan demi terjaganya imej pria tangguh yang ga terpleset walau jalanan becek dan licin. Maka saya teringat dengan sandal jepit yang berada di luar pintu belakang rumah saya. Sandal yang selalu menjadi sahabat saat menjemur pakaian. Usianya nampaknya sudah bertahun-tahun, terlihat dari buluknya warna dan memblenya karet jepitnya, namun soal anti licin, boleh diadu dah sama sepatu Nike yang mahal juga. Heheheehheehehe…

Sandal jepit itu nampaknya peninggalan dari orang yang sebelumnya tinggal di rumah saya, yang saat kepindahannya berbaik hati mewariskan sandal jepit buluk sebagai kenangan. Tapi saya bahagia karena memang fungsinya dasarnya yang mumpuni. Saya begitu tergila-gila dengan kemampuan anti terpleset-nya itu, amat memenuhi standar keamanan kerja. Seharusnya sandal jepit ini mendapat piagam penghargaan. Bahkan ketika saya membeli makan ke luar kompleks, saya memilih memakainya dibanding sandal berlambang swoosh-nya Nike karena rasanya jauh lebih nyaman, padahal harganya 20x lipat lebih murah. Ternyata, tidak selamanya harga mahal menjamin kenyamanan buat anda, setuju? Sayangnya aja kalo sandal jepit itu saya pake ke mol pasti akan mengundang banyak pandangam negatip yang kemudian berganti menjadi pandangan iba. Sekarang aja penampilan saya membuat para SPG parfum dan kartu kredit enggan untuk menawarkan produk jualan mereka, gimana kalo mereka ngeliat saya pake sandal jepit? Bukannya malas nawarin produk, bisa-bisa mereka malah rame-rame ngumpulin sumbangan berupa mie instan rebus karena saya disangka korban bencana alam yang lagi ngadem dibawah sejuknya semilir angin dingin artificial. Hiks.

Oleh karenanya, blog ini saya dedikasikan bagi para pecinta sandal jepit beneran. Benda yang mungkin jika bisa bicara akan menolak untuk dibawa ke wésé dan maunya dibawa ke mol, karena memang justru lebih aman memakai sandal jepit jenis ini daripada pake sandal mahalan. Beneran deh. Maka saya menghimbau, mari kita galakkan gerakan Hidup Sandal Jepit demi terciptanya masyarakat yang aman dan nyaman dalam berjalan kaki. Tapi saya tidak menganjurkannya untuk dipake ngeceng ya… Hehehehehehehe

Have a nice day!

Salam hangat,
Aries Boi.

(salamnya saya ganti yaaaaaaaaaaaaa)

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s