Kenangan Masa Kecil (The Series) – Perselisihan Suami Istri

Setelah cukup lama tidak mengungkit-ungkit kisah masa kecil, akhirnya kali ini saya mau memenuhi janji saya untuk bercerita tentang suka duka hidup bertetangga di gang yang sempit. Seperti yang sudah kita tau bersama bahwa hidup di gang sempit membutuhkan tenggang rasa yang lebih tinggi dibanding tinggal di rumah gedong berpagar setinggi hampir 2 meter. Obrolan suami istri yang bersifat pribadi bisa jadi bahan gosip hangat jika ngomongnya terlalu keras. Pasang tape terlalu keras bisa dianggap sedang punya hajatan. Masakan yang terlalu wangi bisa bikin satu “blok” merasa lapar dalam saat bersamaan. Dan lain sebagainya deh, pokoknya hidup di gang sempit bisa dibilang harus pintar-pintar menjaga privasi. Untungnya, lingkungan rumah saya dulu cukup nyaman, tetangganya tidak ada yang usil jadi keamanan privasi lumayan terjamin.Namun hal yang berbeda dialami oleh Mbak Tina, sang Superwoman itu. Seperti yang sudah saya singkapkan sebelumnya bahwa Mbak Tina (selanjutnya disingkat MT) memiliki suami bernama panggung (kami biasa menyebutnya) Bang Maxi (selanjutnya disibgkat BM) yang berkepribadian unik. Tidak memiliki pekerjaan tetap, jika bekerja pun tidak jelas apa yang dilakukannya, BM seharusnya menjadi kepala keluarga yang bertanggungjawab demi menghidupi seorang istri dan 2 anak cowok yang (saat itu) duduk di bangku SMP dan SD. Ketidakjelasan itulah yang membuat MT bertransformasi menjadi seorang Superwoman yang sungguh giat berusaha dan tak kenal istilah menyerah, demi menghidupi 2 anak dan (juga) suami.

Tapi sekuat-kuatnya manusia bertahan tetap saja ada batasnya. Sudah bekerja keras menjadi tukang cuci setrika keliling kampung, seharusnya MT berhak atas istirahat yang cukup juga hiburan nan mesra dari sang suami. Yang ada justru kebalikannya. BM yang memang mengalami “sedikit korslet” pada jalan pikirannya justru membuat MT semakin stress. Tingkah lakunya yang agak di luar kebiasaan memaksa MT harus menggenjot pengertian yang lebih banyak, beruntunglah MT taat beragama, maka amatlah ajaib bahwa sampai dengan terakhir kali saya dengar mereka masih hidup bersama sebagai suami istri, tidak bercerai. Luar biasa!

Prilaku BM yang unik seringkali membuat MT lepas kendali. Wajar aja sih saat emosi maka nada suara menjadi lebih tinggi dan keras, namun BM seperti tidak mau mengalah dan bersuara lebih keras untuk mengatasi volume MT. Maka keributan rumah tangga yang seharusnya bersifat pribadi menjadi tontonan publik. Hehehehehehee.. Saya aja, sebagai tetangga depan rumah MT sering ngintip dari balik jendela, melihat aksi mereka berdua. Pernah beberapa kali mama saya berusaha melerai namun jarang berhasil, nampaknya MT dan BM memiliki cara sendiri untuk konsolidasi. Akhirnya, ya didiamkan saja dan kami jadi mendapat tontonan gratis. Perseteruan MTBM sangat “seru”, di dalamnya ada teriak, melotot, sedu-sedan, tangis yang meraung, bahkan beberapa kali terlihat ada kekerasan fisik seperti menjambak rambut dan mencubit perut. Dan semua hal itu terjadi di arena terbuka: gang yang sempit. Tidak berlebihan kalo saya bilang bahwa hal-hal seperti inilah yang menjadi inspirasi sinetron masa kini. Kayaknya dulu ram punjabi juga tinggal di gang yang sempit jadi bisa mendapatkan banyak ide hasil saksi mata langsung, dituangkan dalam naskah dan jadilah sinetron beribu episode dengan sequel yang ga abis-abis. Bedanya – demi memenuhi impian masyarakat – alur ceritanya dibuat dengan setting perseteruan antar keluarga kaya raya dengan rumah gedongan, bukan keluarga sederhana dengan rumah bilik. Hehehehehehehe…
Ada beberapa perseteruan hebat yang masih terekam dalam pikiran dan tentunya akan saya coba tulis, namun harus dipecah menjadi beberapa episode, akan saya rampungkan semuanya dalam blog yang akan datang. Setelah nanti rampung barulah kalian mengerti bahwa julukan Superwoman pun masih kurang bagi MT, mungkin seharusnya “SuperDuperWoman”? Halah…

Yang lucu adalah bagaimana para penonton bisa datang untuk ramai-ramai melihat perseteruan hebat yang berlangsung. Dikarenakan posisi berseterunya di atas fasilitas umum, seringkali memberi hambatan bagi orang yang mau melintas jalan, seperti sungkan atau malah bingung, para pelintas jalan akhirnya bisa lewat walau dengan wajah penuh senyum ada juga yang melongo. Ya, perseteruan yang berposisi di atas jalan sempit yang mempunyai lebar tidak sampai 2 meter akan sangat menyulitkan jika yang mau lewat adalah gerobak tukang sayur, gerobak bakso, gerobak bubur ayam dan gerobak-gerobak lainnya. Mau tidak mau harus berhenti sejenak, melihat celah yang tersedia lalu tancap gas sebelum terisi lagi oleh jibaku. Terkadang BM malah sengaja menahan jalannya orang-orang yang ingin melintas, bahkan beberapa kali BM terlihat bagai berusaha menjalin komunikasi dengan “pemirsa” dadakan itu, jadi seperti reality show interaktif. Berkeluh kesah atas keberadaan MT yang dianggapnya tidak hormat suami, menyalah-nyalahkannya dan akhirnya melontarkan pertanyaan retorik kepada pemirsa sebagai suatu pembenaran pendapat pribadi. Permirsa yang mendapat kesempatan unik seperti itu hanya bisa nganga, pastinya karena tidak siap dengan jawaban yang bijak. BM kadang memosisikan dirinya sebagai korban dan menuding MT telah berselingkuh… Lalu BM menangis… Sayangnya sambutan pemirsa tidak seperti yang diharapkan, alih-alih mendapat simpati akhirnya beberapa orang yang berhasil melepaskan diri dari status pemirsa tahanan justru menghadiahi BM dengan senyum garing keliatan gigi dan tanda garis miring di kening…

Aneh tapi nyata. Setuju?

Oke, akan saya lanjutkan dalam blog-blog selanjutnya ya. Harus saya beri penekanan bahwa semua kejadian ini benar adanya, tidak ada rekayasa, hanya tambahan kata-kata lebay saja demi menghasilkan efek drama sinetron.
Sekian.

Love, Respect, Metal and Kahitna
BigBangJoe

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s