The Groove: Sekelompok Sahabat Yang Bermusik

image

Setiap kali nonton penampilan The Groove pasti terjadi nostalgia dalam benak, mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat diri masih muda, kuliah, kurus, kutu kupret, mendatangi acara musik jazz di kampus negeri berjaket kuning pada tahun 1998. Itu sudah 13 tahun yang lalu ya. Saat itu suasana sedikit gerimis, rintik hujan membuat rambut klimis, penting demi ngecenk depan cewek-cewek manis, walaupun sedikit kuatir polusi bikin badan bau amis. Saya yang sebenarnya tidak terlalu ngerti jazz dan memang memiliki band yang mainnya lagu-lagu cukup cadas tetap merasa penting untuk hadir di acara itu dikarenakan pentingnya memperluas nuansa bermusik, jadi nonton sambil belajar lah. Tanpa ada referensi siapa aja line up yang tampil, dengan pede tingkat tinggi sendirian saya naik kereta jabotabek menuju kampus pelaksanaan acara itu. Kereta jabotabek memiliki penggemar fanatik yang berjubel banyaknya. Saat kereta berhenti dan pintu terbuka, langsung aja para penggemarnya naik berebutan, tidak memperdulikan penggemar yang mau keluar, langsung diserbu dengan cukup barbar. Saya pribadi sebenarnya cukup elit dalam berpikir dan bersikap namun saat itu hal yang sedemikian positip menjadi kurang berguna, terasa tidak pada tempatnya. Maka saya segera melebur dalam aksi barbarisme demi tercapainya target waktu tiba di tempat acara. Padatnya penggemar jabotabek membuat saya berdiri tanpa harus berpegangan, hanya perlu merelakan badan disandari oleh manusia kurang kece pada sisi kiri-kanan-depan-belakang niscaya resiko terjatuh dapat diminimalisir-walopun berakibat wajah jadi semakin kusut. Maka, hal yang saya lakukan pertama kali ketika tiba setelah turun dari kereta adalah memeluk salah satu pohon yang terdapat di hutan dalam rute menuju kampus negeri itu. Bahagia rasanya bisa memeluk pohon dibandingkan dipeluk sama bencong.Dengan bergaya a la pramuka dalam mengikuti kode-kode yang tersedia berupa banner, penunjuk arah dan poster, juga beberapa rombongan yang ternyata memiliki tujuan yang sama, maka saya berhasil tiba di lokasi. Rame banget walaupun cuaca mendung dan gerimis mengundang. Agak kuatir sakit sih, tapi pride sebagai rocker mampu mengatasi segalanya. Maka saya segera cari lokasi di bawah pohon rindang namun tetap dalam spot yang asik buat menatap gerombolan cewek manis berdandan maksimalis dan – tentunya – panggung yang saat itu sedang menampilkan sebuah band bernama The Groove.

Kembali pada tujuan yang utama yaitu melihat penampilan musisi-musisi hebat berhasil membuat saya melupakan para wanita kece yang berserakan dan permainan musik juga aksi panggung yang ditampilkan oleh The Groove amat nikmat.
Yang saya ingat saat itu adalah seorang penyanyi cowok dengan postur kerempeng dan seorang wanita mungil saling sahut menyahut dalam memberi suara pada musik pengiringnya. Si cowok dengan pakaian ketit (lebih dari ketat), kaki bergoyang-goyang dan tubuh menggeliat-geliat terlihat amat tinggi bila dibandingkan dengan si cewe mungil yang memakai topi dan bergaya casual. Penampilan mereka berdua saat itu amat memukau, walaupum saya tidak tahu lagu apa saja yang mereka bawakan. Hanya satu atau dua sja yang saya tau, itupun karena denger di radio dan lagu dari band lain. Ya, mereka saat itu memainkan lagu Cosmic Girl-nya Jamiroquai dan Still A Friend Of Mine-nya Incognito. Permainan musik yang bersih dan rapih didukung dengan kualitas vokal prima dan unik membuat saya menjadi senang dengan band itu. Bisa dibilang bahwa The Groove adalah band pop-jazzy yang pertama saya suka, bukan Jamiroquai atau Incognito. Mengapa demikian? Karena saya adalah penggemar fanatik band yang mampu menghasilkan musik bagus dalam penampilannya secara langsung. Keliatan aslinya.

Dan penampilan yang amat impresif di tahun 1998 itu tidak berkurang kualitasnya saat kembali saya menonton mereka dalam acara perayaan HUT suatu mol premium di bilangan jalan MH Thamrin. Hati itu adalah Jumat tanggal 27 Mei 2011 dan kali ini saya tidak nonton sendirian namun bareng Sang Istri. Dengan demikian tujuan saya emang pengen nonton penampilan The Groove – bukan buat cuci mata, heheheehehehehe. Dimulai sekitar jam 19:30, The Groove kembali menunjukkan kualitas yang prima dalam hal musik, vokal dan aksi panggung. Mereka menjejali para penonton gratisan yang hadir dengan lagu-lagu hits seperti Satu Mimpiku, Sepi, Dahulu, Pangeran dan Putri yang dibawakan dengan beberapa perubahan aransemen asli (tidak seperti dalam kaset), juga lagu cafe seperti Have Fun Go Mad dan I Believe I Can Fly dan 1 lagu baru berjudul Let’Go (Reunian). Saya dan istri merasa amat terhibur melihat penampilan The Groove dan saya pribadi mah senang banget. Pertunjukan itu terasa amat hangat, akrab mungkin memang karena bentuk panggung yang tidak terlalu terpisah dan tidak tinggi, namun mungkin karena melihat reaksi penonton yang adem ayem kaya krupuk melempem sehingga duo vokalis harus berusaha extra untuk bisa memanaskan suasana hati penonton gratisan itu. Tapi apa boleh buat ya, walopun sudah berusaha sangat keras ternyata mol memang bukan tempat yang tepat untuk pertujukan musik berkualitas, karena target audience yang emang ga bisa dipaksakan, mereka bukan penikmat musik. Hanya pas kebetulan lewat setelah belanja atau sekedar window shopping lalu melihat ada keramaian terus mampir deh. Kebetulan lagi band-nya udah punya nama, jadi ga ada salahnya untuk nonton. Gratis pulak. Yah, itulah resiko yang harus dihadapi. Maka berbagai jenis cara komunikasi dilakukan oleh duo vokalis, dari mengajukan beberapa pertanyaan mudah pembangkit semangat sampai ngajak nyanyi bareng. Tetep lhow ga berhasil bikin orang-orang gratisan itu mau berdiri sedikit lebih lama untuk menikmati musik yang berkualitas sambil bergoyang. Lagunya enak-enak lhow, upbeat dan groovy banget! Saya miris… Rambut saya ga jadi klimis… Tapi salut banget, dinginnya malam itu karena AC mol yang cukup eksis ditambah ekspresi dingin dari sebagian besar penonton gratisan tidak membuat The Groove kehilangan sensasi yang mereka miliki. Musik terasa tetap berenergi, goyangan sang vokalis cowok makin panas dan melenting-lenting, vokalis cewek tetap dengan asiknya mencapai nada-nada lagu dengan power yang prima.

Namun yang paling saya perhatikan adalah betapa The Groove bermusik dengan amat santai. Terlihat seperti sekelompok sahabat yang kumpul dan bermusik bareng. Mereka terlihat saling mengumbar senyum satu dengan yang lain, tertawa saat ada beberapa bagian yang – mungkin – tidak seperti yang disetujui saat latihan. Ya, komunikasi mereka bukan sekedar konsentrasi pada notasi, ritem dan harmoni, namun seperti ngobrol, bercanda dan amat menikmati waktu bersama dalam musik. Apalagi kalau mengingat bahwa beberapa personilnya sempat mengundurkan diri dan memiliki proyek musik masing-masing. The Groove sempat terasa timpang, namun akhirnya “pertobatan” menghampiri mereka. Suasana hangat reunian terasa sekali dalam penampilan mereka. Memang sangat berbeda rasanya jika bermusik bersama sahabat.

Maka penampilan The Groove jumat kemarin kembali melukiskan kenangan indah dalam ingatan saya, sekaligus memberi pelajaran yang berarti untuk terus menjaga hubungan persahabatan yang sudah dijalin sedemikian lama. The Groove adalah contoh bahwa persahabatan mampu menghasilkan keindahan.

Bravo buat Rieka, Reza, Rejoz, Ali, Tanto, Deta, Yuke dan Ari (ga ada yg belum disebut kan?).
Bravo buat The Groove!
Terus berkreasi dalam menghasilkan musik lokal berkualitas!

Love, Respect, Metal dan Kahitna!
BigBangJoe

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s