Lulus / Ga Lulus

image

Kemarin adalah hari besar bagi adik-adik yang telah menjalani UAN dan sudah mendapat jawaban atas usaha kerasnya. Syukurlah semua adik yang saya kenal memperoleh hasil yang melegakan: Lulus. Bahkan ada beberapa yang memperoleh predikat memuaskan dan membanggakan. Ketika saya mengucapkan selamat kepada mereka, terasa sekali betapa lega dan bahagianya mereka, lega seperti berhasil kabur dari dari kejaran guguk pengidap rabies, bahagia bagaikan hutang yang telah lunas cicilannya. 

Memang rasanya sangat berbeda dengan apa yang saya alami saat masih muda dulu. UAN terkesan lebih sebagai “formalitas” belaka, sudah dipastikan lulus walaupun dengan variasi nilai yang cukup beragam, mau yang bagus, sedeng atau jelek. Sudah bisa dipastikan lulus. Hanya orang gila saja yang tidak lulus. Atau yang memang kerjaannya bolos melulu, misalnya masa SMU itu seyogyanya diemban dalam durasi 3 tahun tapi jumlah bolosnya dia mencapai 1,5 tahun maka sudah bisa dipastikan mendapat predikat “Tidak Lulus Dengan Sukses”. Jangankan lulus, naik kelas pun diragukan. Eh, by the way ya kondisi itu – sepertinya – hanya berlaku pada sekolah negeri deh, itu pun ga semua sekolah negeri ya, mungkin yang kelasnya karbitan aja. Ah, bodo amat lah kalo sampe ada yang tersinggung, kan ini tulisan dan pendapat saya pribadi. Hehehheehehehe…

Tapi jangan salah, “formalitas” seperti itu bukan berarti membuat kami-angkatan jadul-tidak berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bisa lulus. Well, pede pasti lulus sih, jadi kerja keras yang kami lakukan “hanya” demi mendapat NEM tinggi. Deg-deg-an yang kami rasakan lebih ke arah berapa nilai NEM kami, apakah cukup layak untuk bisa ditulis dalam bentuk ijazah dan pantas dijadikan pajangan di rumah. Saya sendiri memiliki NEM yang nyaaarrrriiiisssss bagus, dengan kata lain sedikiiiiiiit aja lebih bagus dari jelek, hehehehehehehe… Maklumlah, otak saya ini lebih seneng buat dipake ngelawak ama main skateboard. Maka UI atau universitas negeri lainnya hanyalah impian semata. Fakultas kedokteran adalah mimpi indah di siang bolong. Banting stir, masuk akuntansi di universitas swasta, dengan tekad membara buat mendulang prestasi dan berhasil akhir lumayan membanggakan lah… Tapi ya itu, akibat kurangnya “tekanan” untuk bisa lulus SMA, maka hasil yang “cukup” itu tidak bisa membuat ortu saya bangga dengan melihat anak tertuanya pake jaket kuning. Hehehehehehe…

Maka saya membandingkan dengan jaman sekarang. Kelulusan itu menjadi suatu momok, beban berat bahkan yang harus diemban oleh mereka yang sejak kelas 1 sampai 3 memperoleh predikat juara kelas, bintang sekolah, siswa teladan dan segala macam predikat membanggakan lainnya. Karena, entah bagaimana, orang-orang hebat itu bisa mengalami kutukan tidak lulus. Sesuatu yang hampir ga masuk akal, ga bisa diterima dengan rasio. Padahal mereka merasa yakin bisa mengerjakan soal-soal UAN tapi tetap aja tidak lulus. Saya pikir ada yang salah dalam hal ini, tapi saya ga tau apa dan di mana sumber kesalahannya. Apes? Saya ga percaya dengan hal itu. Ada yang salah dengan sistem yang tidak dikaji ulang dan akhirnya menyebabkan jatuhnya korban. Kasihan sekali…

Maka saya merasa wajar sekali jika saat ini para peserta UAN bersikap “mendadak lebay”, bahkan sampe ada acara “sungkem nasional” demi mendapat restu dari orang tua bagi anak-anaknya yang akan menempuh ujian. Well, acara yang amat lebay sih, karena bagi saya restu itu tidak perlu dilakukan secara nasional, cukup orang tua dengan anak berdoa bersama. Siapa sih yang meragukan kuasa dan kekuatan doa? Tapi sekali lagi, bisa dinilai tidak lebay karena memang begitu kuatnya teror “kutukan tidak lulus”, bagai sadako dalam film Ring.

Syukurlah semua yang saya kenal bisa melewati masa-masa genting tersebut. Saya sungguh turut merasa bahagia atas kelulusan mereka semua. Saya jadi berpikir, seandainya “kutukan” itu telah berlaku pada saat dulu, ketika anak jadul bertubuh begeng, berkulit hitam, berambut macam lampu taman ini berada dalam kondisi yang sama, pasti udah belajar dengan 1000x lebih giat dan hasilnya jadi 1000x lebih membanggakan. Makan, bukan cuma jaket kuning saja yang dipakainya, tapi juga beasiswa – minimal – dari Yale University di nagri sana niscaya bisa digenggamnya. So, apakah “Kutukan Tidak Lulus” itu menjadi hal yang positif atau negatif, ya tetep bisa diliat dari dua sisi lah ya… Yang pasti saya tetap berpegang pada pendapat pribadi bahwa ada yang salah dalam sistem pendidikan di negara ini yang dalam kenyataannya tidak dengan segera dibenahi. Terbukti bahwa ditengah kebahagiaan mereka yang lulus, terdengar berita miris tentang mereka yang tidak lulus walaupun sebenarnya mereka berprestasi. Ironis.

Selamat menikmati kehidupan yang baru.

Selamat mencapai taraf “Maha” bagi semua siswa yang telah lulus.

Selamat menikmati kehidupan pendidikan yang “lebih bebas” namun dengan tantangan dan beban yang 1000x lebih berat.

Hanya mereka yang bertanggungjawab dan berkomitmen tinggi saja yang dapat bertahan dan menyelesaikan semuanya dengan baik.

Bagi yang belum berhasil, saya ga bisa berkata lebih banyak lagi, tetap berusaha. Jangan kalian patahkan semangatnya, masa depan sungguh ada bagi orang-orang yang mau berdoa dan terus bekerja keras.

All the best for y’all!

Love, Respect, Metal and Kahitna!

BigBangJoe

tak usah pedulikan foto yang terlampir di dalam blog ini, semata-mata demi terciptanya nuansa lulus yang direpresentasikan oleh toga yang menempel di badan pria itu. senyum yang terlihat di sana adalah senyum bangga sepasang orang tua yang sudah bekerja keras untuk membuat anaknya tamat sekolah dan senyum seorang adik yang bangga pada abang semata wayangnya. sayangnya sang adik udah ga ada… giliran sang abang yang ters tersenyum seperti yang tercermin dalam blog yang sebelumnya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s