Selamat Jalan, Tulang Maruli Pohan.

image

Tanggal 13 Maret 2011 yang lalu telah terjadi kecelakaan lalulintas di dalam tol jagorawi dari arah Bogor menuju Jakarta. Kecelakaan itu terjadi pada sebuah mobil APV yang sedang berjalan dengan tidak terlalu kencang, keluar jalur dan menabrak pohon dengan keras setelah mencoba menghindar dari sebuah mobil yang dengan seenak jidatnya menyalib laju APV tersebut. Maka keadaan yang fatal tidak bisa dihindari. APV itu berisi 3 orang, 2 pria dan 1 wanita, kesemuanya itu adalah Paman dan Tante saya.

Posisi di dalam APV adalah Om saya yang mengemudikan, di sampingnya ada Tulang saya dan duduk di kursi tengah adalah Tante-istri dari Om saya. Kejadian tersebut berakibat fatal, Tulang saya mengalami retak panggul, Tante saya mengalami luka serius di wajah dengan rahang yang retak, kulit dan daging yang robek dari rahang sampai dengan leher, namun ajaibnya Om saya “hanya” mengalami terkilir pada tangannya. Jadi memang yang terlihat paling parah adalah Tante saya, sehingga pada saat penanganannya harus diambil daging dari bagian tubuhnya yang lain untuk merekonstruksi rahangnya. Sementara itu Tulang saya juga dirawat di RS yang sama dengan Tante saya dirawat sehingga memudahkan kami untuk melihat keduanya secara bersamaan. Jujur saya tidak begitu kuatir dengan keadaan Tulang saya karena saya tahu persis bahwa beliau amat teguh, kuat dan memang sebelumnya pernah menjalani beberapa operasi besar sehingga terlihat beliau begitu tegar dan kuat dalam menahan sakitnya. Harapan kami begitu besar bahwa Tulang dan Tante saya akan segera sembuh total dan kami bisa kembali berkumpul dan pergi bareng lagi seperti yang sudah menjadi kebiasaan keluarga besar kami.

Tante saya telah menjalani operasi dan sampai dengan saat ini beliau sudah begitu banyak mengalami kemajuan yang pesat, walaupun rahangnya masih belum bisa berfungsi dengan normal dan belum bisa makan makanan yang keras atau panas, namun sudah bisa berjalan dan mulai banyak melakukan aktivitas. Keadaan yang berbanding terbalik justru terjadi pada Tulang saya…

Saya ingat, saat pertama saya menjenguk di RS Tulang masih mampu bercanda. Matanya terlihat cerah dan masih bisa ngeledekin orang. Responnya normal seperti tidak sakit. Jadi murni hanya panggulnya saja yang sakit dan nampaknya kondisi lainnya masih baik dan sadar secara utuh. Yang saya tidak tahu ternyata Tulang juga mengalami luka di bagian belakang tubuhnya. Ketika mau diambil tindakan untuk operasi, dokter menanyakan riwayat medis beliau dan dikatakan bahwa Tulang pernah mengalami operasi by pass jantung dan menderita diabetes tingkat tinggi (saya bahkan pernah melihatnya menyuntik insulin sendiri ke daerah sekitar perutnya). Dengan mempertimbangkan resiko yang sangat tinggi maka operasi ditunda sambil menunggu kondisi stabil. Yah, kita semua memang tahu bahwa penyakit diabetes pasti menyulitkan penderitanya untuk segera pulih dari luka. Bayangkan, apa jadinya jika dioperasi dalam keadaan seperti itu, belum lagi dengam kondisi jantung Tulang yang pernah di by pass, kami yakin dokter dan para ahli lainnya telah memperhitungkan semua kondisi itu.

Ternyata diabetes tersebut membawa pengaruh yang lain terhadap kondisi tubuhnya. Luka yang ternyata sebesar 10cm X 15cm itu memberikan pengaruh buruk pada organ tubuh lainnya, yang entah bagaimana caranya membuat kondisi Tulang terus menurun, melemah dan pelan-pelan mulai kehilangan kesadaran. Saya ingat betapa saya kaget ketika melihat beliau sudah mulai tidak memberi respon pada kondisi sekitar, saat anak-anak dan cucu-cucu kesayangannya datang untuk menjenguk. Bahkan ketika kami sambil bercanda di dekatnya, tatapannya kosong dan lemah, seperti tidak begitu peduli dengan semua keramaian. Namun saya sempat melihat beliau masih mengangkat tangannya ketika saya menggendong cucunya dan membawanya dekat kepada beliau, kami masih berkata bahwa Tulang harus cepat sembuh dan bisa kembali bermain dengan cucu-cucu yang sangat lucu. Saya bersyukur saat itu diberi kesempatan untuk membawa Tulang dalam doa permohonan kepada Tuhan. Dalam doa itu kami sungguh percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi Tulang. Kami menyerahkan Tulang sepenuhnya dalam tangan pengasihan Tuhan karena DIA lah Sang Maha Penyembuh, Maha Kuasa, yang mengatur jalannya kehidupan.

Waktu berlalu dan perawatan untuk Tulang semakin intensif diberi, namun secara pribadi saya merasa miris ketika kembali melihat bahwa kondisi Tulang makin lemah, bahkan beliau dusah tidak mau memberi respon atas kedatangan kami. Matanya terbuka namun hanya menatap ke satu arah saja. Kosong. Terlihat tidak punya semangat. Namun tetap kami yakin bahwa suatu saat nanti Tulang akan pulih kembali. Sampai akhirnya saya mendapat kabar Tulang dibawa ke ICU. Hari itu Senin 25 April 2011, kami keluarga besar berkumpul di RS untuk memberikan support kepada Tulang dan keluarganya. Nantulang sudah menangis, juga kedua anaknya. Bahkan Kakak dan adik Tulang pun (yang adalah saudara kandung dari Mama saya – mereka 7 bersaudara namun tinggal 6 karena salah satu Tulang telah duluan pulang ke sorga tahun 2008) sudah menangis dengan keras. Mereka begitu sedih dan merasa tak percaya melihat kondisi Tulang seperti itu, tidak sadarkan diri, selang disekujur tubuh, memakai alat bantu pernafasan, dlsb. Mereka begitu sakit hati melihat kondisi yang sangat memilukan. Apalagi mereka sangat dekat hubungan kakak-adiknya, begitu pilu ketika mendengar mereka bercerita tentang kehidupan Tulang… Tangisan pun pecah di ruang tunggu ICU. Saya sempat “marah” dan berkata bahwa kita selalu punya pengharapan karena telah menyerahkan Tulang sepenuhnya kepada Tuhan, juga keluarga telah melakukan yang terbaik untuk merawatnya. Lebih dari itu, saat itu Tulang masih hidup! Belum pergi. Lalu mengapa harus menangis seperti itu?

Ternyata Tuhan berkehendak lain.

Hari Kamis 28 April 2011.
Jam 8:00 saya mendapat BBM dari sepupu saya – Sarah – yang adalah anak pertama dari Tulang, mengatakan bahwa jantung Tulang sudah berhenti. Masih saya kirim BBM untuk mengingatkannya bahwa pengharapan selalu ada namun sekaligus mengingatkannya untuk tabah dalam menerima semua kenyataan. Sarah sudah tabah, dia telah melihat langsung perjuangan papanya dalam berjuang melawan penderitaan. Ternyata pada jam 8:00 itulah Tulang dinyatakan meninggal dunia.

Saya kaget. Tidak bisa dipungkiri. Walaupun telah menyerahkannya kepada Tuhan namun rasanya tetaplah sedih kala salah seorang yang kita kasihi harus berpisah untuk selamanya. Itu baru saya, bagaimana dengan perasaan istri dan anakn-anaknya, juga kakak dan adiknya…

Akhirnya kamis malam setelah lewat jam kantor saya segera ke rumah duka RS Dharmais. Memberikan penghormatan terakhir kepada Tulang dan memberikan support juga mendukung dalam doa untuk Nantulang dan kedua anaknya. Maka ketika saya berbicara dengan anaknya yang kedua – Jerry, saya mendengar isi hati dari Jerry:

(sambil memegang kedua tangan Tulang):
“Papa sudah mengalami hidup yang sempurna. Banyak hal yang sudah dilewatinya. Ia pernah menjalani hidup yang berat. Karir yang dimulainya dari bawah sampai akhirnya dia menjadi amat sukses, menjadi seorang yang besar. Dia sudah melihat anaknya (Sarah) menikah dan telah melihat kedua cucunya. Semua sudah dialaminya. He lives a full life”. (dan Jerry menangis).

Ya, Tulang saya itu, yang dengan hormat saya sebut namanya Maruli Pohan adalah orang hebat. Pekerja keras, sangat pintar, sangat jujur dalam pekerjaan dan berdedikasi tinggi. Ia pernah menjadi salah satu pejabat di suatu bank pemerintah. Menjadi salah satu ahli strategi yang dipercaya untuk membenahi kantor cabang bank tersebut di singapore, hongkong, amerika dan juga beberapa tempat lainnya.Tulang Maruli pensiun ketika terserang stroke saat sedang berada di ruangannya di kantor. Ia orang yang sangat pintar, gemar baca buku. Buku setebal apapun akan dibabatnya sambil menggigit kuku (ciri khas beliau) dan selesai dalam beberapa hari saja. Beliau yang marah ketika IP saya turun di bawah 3.

Ketika beliau pensiun, Tuhan telah memberikan kado yang terindah saat melihat Sarah menikah dan sekarang telah memberikannya 2 orang cucu, perempuan dan laki yang amaaaaat lucu. Tulang amat sayang kepada cucunya, bahkan berjanji mau membelikan buku untuk cucunya yang perempuan,yang sudah berusia 3,5 tahun dan sudah masuk playgroup (yang laki masih berumur 4 bulan). Banyak hal yang masih menjadi harapan kami untuk bisa melihat Tulang sembuh dan kembali menjalani hari-hari yang penuh ceria bersama keluarga dan kami semua.

Tuhan telah memanggil Tulang untuk pulang ke rumahNya yang abadi. Tiada yang lebih indah dari itu, bisa hidup bersama dengam Tuhan, sang Empunya Alam Semesta, Pemilik Kehidupan. Walaupun pastinya sulit untuk menerima namun kami semua, khususnya Nantulang, Sarah dan Jerry harus selalu percaya dan mengimani hal itu. Tidak kehilangan percaya kepada Tuhan dan terus berpengharapan karena di dalam Tuhan ada sumber sukacita dan penghiburan. Tulang adalah milik Tuhan, seperti yang diucapkam oleh Ibu Pendeta dalam khotbahnya semalam. Maka Tuhan berhak mengambil milikNya dan kita harus bahagia karena Tulang bersama dengan Tuhan.

Tugas Tulang telah selesai, keluarga dan kami semua yang masih tinggal di dunia lah yang masih harus meneruskan semuanya.

Selamat jalan Tulang Maruli Pohan. Kami akan sangat merindukanmu. Semua kenangan akan tetap hidup sampai selamanya. Tidak akan pernah kami lupakan.

Tuhan Yesus mengasihi Tulang dan memberikan penghiburan buat Nantulang, Sarah, Jerry, Cucu-cucu dan Keluarga Besar Pohan-Tobing.

ya…satu per satu keluarga kami di panggil Tuhan, sebelumnya adalah Tulang Mulia tahun 2008 dan di tahun yang sama Mario dipanggil Tuhan. Keluarga Besar Pohan menjadi semakin sedikit, namun tidak akan kecil, kami akan tetap Besar bersama dengan Tuhan di dalam pengharapan dan iman.

pada foto yang terdapat di sini, Tulang Maruli duduk di tengah bersebelahan dengan Tulang Mulia yang sudah lebih dahulu pergi. Tulang Maruli yang sebelah kiri dan Tulang Mulia yang sebelah kanan.

 

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s