Personal Branding “?”: Hair Cut (bukan karya tulis ilmiah)

image

Kemarin saya bica mengenai Personal Branding walopun dalam konteks ga serius, bukan suatu karya ilmiah. Kali ini saya ingin nerusin hal yang mungkin hampir sama tapi beda penekanannya. Tetep dalam kerangka berpikir yang ga penting tapi demi membuat otak ini semakin memiliki cara berpikir yang luas dan imajinatif maka perlu dipertahankan slogan mementingkan yang ga penting dan menidakpentingkan yang penting. Sungguh gaya bahasa orde baru. So here I go:

Bagi mereka yang mengenal saya dan sering berinteraksi secara pribadi pasti tau banget kalo saya menganut paham gonta ganti gaya khususnya gaya rambut. Dalam beberapa bulan ini aja saya pernah muncul ke publik dengan gaya agak gondrong, acak-acakan, boiben, spike dan sekarang jambul depan. Mengapa demikian? Bukan semata-mata karena saya cukup ekspresif dalam menyampaikan statement pribadi yang tak terucapkan lewat kata, jadi lewat gaya deh, baik dari cara berpakaian juga gaya rambut. Mengenai gaya rambut, ga selalu lhow gonta ganti gaya itu emang atas kemauan saya, sering kali akibat keadaan terpaksa/kepepet yang membuat saya mau ga mau harus deal dengan hal yang baru.

Sejak jaman SMP, pas akil balik dan mulai cukur kumis pas kelas 2 SMA(fakta: akil balik buat saya adlh saat mulai sadar diri dengan lingkungan sekitar, bukan sekedar ledakan hormon semata karena saya sudah berkumis sejak kelas 6 SD) saya mulai menyadari bahwa saya sangat suka berganti-ganti gaya. Berbagai macam gaya pernah dicicipi, seperti menggunakan hairspray saat menuju sekolah yang dikombinasi dengan gel murahan mengandung glitter yang membuat rambut berkilauan saat tersiram cahaya matahari, demi membuat poni rambut yang mengacung ke depan a la musisi rap fenomenal saat itu: Vanilla Ice. Kehebatan saya adalah mampu menciptakan tatanan rambut seperti itu yang “hanya” tercipta dari kelincahan jemari Bang Abung, sang tukang gunting rambut seharga Rp.2000 yang mangkal di sebuah kios kecil dekat pasar paseban. Bang Abung belum menggunakan alat gunting elektrik yang efektif untuk bikin cepak atau skinhead , semua dihasilkannya dengan dua jenis gunting, besar dan kecil. Juga pertolongan silet untuk merapihkan garis akhir dari potongan rambut. Dengan segala keminiman perlengkapan maka saya harus kreatif dalam memenuhi impian saya: memiliki rambut seperti Vanilla Ice. Maka hairspray milik nyokap dan gel murahan yang lebih mirip lem uhu berglitter menjadi senjata terakhir saya di rumah. Walhasil, kesederhanaan karya Bang Abung menjadi istimewa dalam sentuhan akhir saya.

Bang Abung adalah pahlawan saya. Minimal 3 minggu sekali saya nyamperin dia untuk menipiskan lagi rambut yang mulai menebal di bagian samping kiri kanan dan belakang kepala. Jangan lupa, saat itu model skin lagi tren abis. Bang Abung aja sampe geleng-geleng kepala atas kerajinan saya itu. Itu adalah rejeki buat Bang Abung dan tentunya tidaklah bijaksana jika ditolaknya. Keakraban saya dengan Bang Abung jadi semakin erat sehingga saya ga perlu kasih instruksi macam-macam, tinggal datang dan duduk di kursi, ngomongin hal yang lain dan Bang Abung langsung berkreasi. Tanpa perlu menanyakan potongan yang seperti apa lagi yang saya mau, Bang Abung langsung bisa menebak arah pikiran saya. Dan saya pun ga pernah protes dengan hasil kerjanya. Itulah kehebatam Bang Abung. Hahahhahahahaha..

Suatu saat pernah tante saya (yang emang banyak duit) minta saya menemaninya ke salon RH yang emang ngetop banget, di bilangan bintaro. Tunggu punya tunggu ternyata dia melihat bahwa potongan rambut saya agak aneh (baru perhatiin kali ya, ha3x) dan dia memaksa saya untuk segera dipotong rambutnya di salon RH itu. Saya menolak namun tidak mampu membantah karena takut dimarahin, jadi akhirnya saya rela aja deh dipotong rambutnya oleh seorang balon (banci salon) yang cerewet dan melakukan gerakan-gerakan sok genit, lenje dan bikin saya illfeel… Pemotongan rambut saat itu lebih seperti penyiksaan yang dilakukan vietkong pada rambo dalam pilm first blood, menggunakan alat tajam sambil diintrogasi (eh, gimana sih tulisannya?). Sang balon menanyakan banyak hal, dari sekolah, pacar, musik sampe advis-nya mengenai jerawat yang jangan suka dipecahin/dipencet sendiri biar ga jadi bopengan. Sungguh menakutkan… Dan seperti yang sudah saya duga, hasil akhir dari penyiksaan itu adalah gaya rambut yang sungguh aneh dan di luar ekspektasi, rambut saya ditata sedemikian rupa sehingga membumbul tinggi, dengan efek belah samping. Saya terlihat seperti toge berjalan, kepala bulet berambut macam lampu taman yang berada di atas badan tipis nan ceking begenk. Bisa kalian bayangkan? Mengerikan bukan? Bahkan almarhum adik saya pun ikutan ngejek bilang rambut saya seperti Roti Susu, entah dari mana didapatnya ide ngejek seperti itu. Saya pun menjadi sedih, nelangsa, juga merasa bersalah pada Bang Abung… Maka sejak saat itu saya berjanji ga mau potong rambut lagi di salon.

Singkat cerita, tukang potong rambut murahan sudah menjadi teman akrab saya bertahun-tahun, bahkan setelah saya pindah rumah dan ga pernah ketemu Bang Abung lagi, saya selalu potong rambut di tempat yang murah, dengan jasa yang hanya dihargai di bawah Rp.10.000, dengan hasil yang memang kurang sempurna namun tidak pernah jadi masalah karena saya punya jemari ajaib yang mampu menghasilkan sentuhan akhir yang sempurna dengan alat bantu gel atau hairspray. Hal itu terus berlanjut sampai setahun setelah saya menikah.

Ketika itu rambut saya sudah mulai panjang dan emang niatnya mau gondrong tapi karena bagian samping dan belakangnya sudah terlalu tebal jadi ngeliatnya aneh aja, berantakan banget dan jadi sangat susah diatur walopum sudah pake gel dan hairspray juga sangat menyita waktu kalo lagi dandan mau ngantor, bisa bikin telat banget. Maka saya berpikiran untuk menipiskan bagian pinggir dan belakangnya saja, bagian atasnya dibiarkan tumbuh dengan harapan dalam waktu 3 bulan sudah memberikan hasil yang cukup signifikan. Atas berbagai pertimbangan ketidak mampuan para tukang gunting rambut biasa, maka atas saran istri saya pergi ke salon dan langsung memilih top stylist-nya, dengan harapan dia mengerti apa yang saya maksud. Kali ini saya agak tenang karena selama dipotong rambutnya saya ditemani oleh istri yang duduk di kursi tunggu dan sang stylist pun tidak menunjukkan gaya balon (walopun saya yakin dia balon). Ritual potong rambut pun berjalan dengan lancar dan terus saya perhatikan caranya memotong lewat kaca besar di depan saya, yang sejauh itu terlihat oke oke ajah. Namun entah mengapa, ketika selesai saya merasa hasil karyanya itu membuat saya terlihat seperti nicholas saputra KW 10… Gaya rambut yang dihasilkannya membuat saya seperti banci pake brewok… Bahkan pada satu sisi saya merasa terlihat seperti maia estianty… Oo Em Ji…

Maka niat gondrong itu saya batalin sesegera mungkin, selang 1 hari dari era nicholas saputra KW 10, segera saya pergi ke tukang gubting rambut 10.000an yang emang ahli dalam membuat potongan cepak, spike atau skin. Berantakan? Memang. Tapi kan seperti yang saya bilang, jemari saya punya kemampuan ajaib. Jadi ga pernah ada masalah dalam melakukan retouch gaya. Hahahahahahahaaha.
Namun mungkin karena saya orangnya baik, saya memberi kesempatan kedua dan ketiga pada salon beneran untuk mewujudkan impian gondrong saya. Tapi apa boleh buat, mungkin karena memang mereka memiliki pelanggan yang mayoritas perempuan (cantik dan ga cantik juga yang merasa cantik) atau pria yang berwajah cakep (mirip perempuan), maka kembali mimpi indah saya kandas… Bahkan di kali terakhir gaya rambut saya dibikin seperti salah satu personil boiben fenomenal negara ini. Gaya rambut yang mirip pot kembang terbalik… Yang mungkin cocok buat cowok berwajah manis, hidung mancung, kulit putih, wajah mulus tapi menjadi mimpi buruk bila gaya tersebut dipadupadan dengan wajah pria berkulit hitam, gradakan, brewokan dengan hidung besar… Entar disangkain fenomena alam… Crap… Maka saya akhirnya kembali berlabuh pada barbershop yang mahal (karena udah putus asa banget) demi mematahkan kutukan “fenomena alam” itu – yang hanya bertahan dua hari saja. Menyedihkan…

Akhirnya, beginilah saya, balik lagi dengan rambut cepak, padahal menurut hemat saya, wajah bulet dan jidat cukup jenong ini seharusnya disamarkan dengan rambut yang agak panjang, bukan malah ditonjolin. Waktu masih kecil dulu mah oke aja rambut cepak karena wajah saya masih tirus. Lah sekarang…. Ckckckckck…

Tapi emang kayaknya rambut pendek lebih cocok untuk pria dengan profesi akuntan, walopun ga terlalu saya percaya bahwa gaya mempengaruhi cara pandang. Itulah kenyataannya, banyak yang ga percaya bahwa saya akuntan, malah dipikirnya saya itu pekerja lapangan, IT atau desain grafis (terlebih karena saya dekat dengan gadget) atau bahkan pengangguran dan main band ajah. Yah apa boleh buat, jadi akuntan pun saya ga jago, cuma buat nyari duit aja. Makanya saya ga nyalahin orang-orang yang nganggep remeh saya, wong saya sendiri ga menunjukkan gaya yang meyakinkan gitu. Hahahahahahahaa..

Demikianlah blog ga penting banget saya tulis. Akan datang nanti blog mengenai hal yang sama namun lebih dari sisi cara berpakaian. Sungguh ga penting tapi saya ras perlu saya kasih tau supaya jika suatu saat para pembaca nemu orang yang cukup aneh dengan ciri-ciri seperti yang tertuang dalam blog ini jadi tau bahwa iti adalah saya, terus negor saya dan kemudian traktir saya makan. Okeh?

Have a nice day, people!

Salam hangat,

BigBangJoe

Love, Respect, Metal and Kahitna!

Sesungguhnya, ketika saya menuliskan tentang Bang Abung, saya jadi sangat kangen dengan almarhum Mario Ganzamo Aipassa, adik saya yang selalu menjadi teman ketika Bang Abung berkreasi. Adik yang duduk di kursi tunggu terus memperhatikan setiap gerakan Bang Abung sambil terus ngeledekin saya. Adik satu-satunya yang menjadi teman jalan kaki dari rumah menuju kios Bang Abung dan partner duel ketika pas pulang ada anak paseban yang ngajakin berantem. Those were the days, Iyo. I miss you so much! Only GOD knows how I miss you…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s