Jakarta Rusak Oleh Pemerintahnya Sendiri

Kesemrawutan lalulintas di jakarta emang udah terlalu kronis entah bisa diselametin apa engga. Ibaratnya penyakit, kronis itu akibat ketidak tahuan atau kecuekan pribadi dalam memelihara kesehatannya. Semakin tua umur kan emang akan semakin menurun ya kesehatan dan kekuatan fisik, maka perlu dilakukan medical check up supaya bisa diantisipasi secepatnya bila ada indikasi gawat.

Namun tidak demikian dengan jakarta.

Kota metropolitan dengan nickname Kota 1000 Mall hasil pemikiran brilian SPB (Sales Promotion oldBoy) dengan titel gubernur beberapa tahun yang lalu sungguh sudah hancur lebur. Di balik megahnya bangunan kantor, mol premium dan kawasan perumahan elit penyebab banjir, terdapat kondisi yang terbalik dari yang seharusnya.  Kota ini menjadi kota yang ga bisa diatur, walopun sepertinya diatur.

Ada satu persimpangan yang memasang lampu lalu lintas. Dulu saat lampu lalu lintas itu belum ada tidak terjadi kemacetan. Namun saat ini, saat lampu lalu lintas berdiri dengan angkuh justru menjadi biang kemacetan. Padahal kan seharusnya lampu lalu lintas jadi penunjuk antri bergantian yang kalo dipatuhi dengan taat akan menjamin kelancaran, tapi mengapa yang terjadi malah sebaliknya ya?

Setahu gue, jaman dulu, bila lampu merah menyala maka semua kendaraan harus berhenti di belakang garis putih. Semua. Tidak ada pengecualian termasuk sepeda. Tapi sekarang? Di semua persimpangan yang ada lampu lalu lintasnya akan dengan mudah ditemukan deretan kendaraan yang sudah maju beberapa meter nelewati garis putih. Bahkan ada yang maju sampe melewati lampu lalu lintasnya. Trus apa yang mau diliatnya?

Persimpangan kuningan/mampang adalah salah satu contoh terburuk lalu lintas kota tempat para pemerintah negara (yang merumuskan peraturan-peraturan) bersemayam. Persimpangan itu adalah akses para pekerja menuju tempat elit yang mengagungkan peraturan, ya, tempat mereka mencari nafkah. Namun mengapa justru dalam perjalanan menuju tempat seperti itu justru di jalanan kami semua diperkenalkan kepada ketidakpatuhan pada peraturan? Semua berkendara semaunya, jalan zigzag, klakson berbunyi di mana-mana dlsb. Lucunya lagi, siapa yang mengijinkan hal itu? Polisi. Polisi lah yang menyuruh kendaraan maju dari garis putih dengan alih-alih menciptakan kecepatan beberapa detik dam antrian yang sedikit bisa lebih pendek. Padahal akibatnya adalah justru jadi menghambat antrian yang lainnya. Polisi yang adalah regulator koq malah ga percaa dengan sistem yang sudah dibuatnya. Dia merasa ga percaya diri untuk tetap menjaga kedisipilinan lalu lintas.

Lucunya lagi, sangking macetnya lalu lintas dari exit tol kuningan menuju persimpangan, akhirnya banyak pengendara motor yang naik trotoar demi menghemat waktu namun membahayakan para pejalan kaki. Yang paling lucu adalah mereka melewati pos polisi yang memang berada di samping trotoar itu. Ga mungkin polisi ga melihat kejadian itu, tapi mereka cuek aja tuh… Malah asik lagi pake singlet menggantungkan kain di pundak kaya pembantu srimulat, tau deh ngapain tuh, bukannya atur lalu lintas.

Jadi, apakah salah kalo gue berkesimpulan bahwa yang merusak jakarta adalah pemerintahnya sendiri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s