Lela Majenun…

Hello… Hello… Hello… Helloooow…

Yang, digoyang, digoyang, yaaaaang… (yang, digoyang, digoyang, yaaaaang…)

Selamat pagi rekan-rekan senasib yang terjebak di dalam kemacetan lalu lintas pagi ini. Apakabar kalian semua? Semoga goyang kita di atas tadi cukup memberi hiburan ya…. Ijinkan kali ini saya kembali menghampiri kalian melalui wadah Note Ga Penting yang sungguh ga penting untuk kalian baca. Yang penting hanyalah bahwa ini sekedar keisengan saya untuk mengisi waktu daripada saya nganggur, ga ngapa-ngapain. Jadi, kalo kalian emang lagi sibuk entah sibuk nyetir atau sibuk membaca koran atau bahkan sibuk tidur maka sebaiknya ga usah dibaca aja ya tulisan ini, tapi kalo kalian memang merasa bahwa semua hal itu ga penting maka silahkan kita berbagi rasa, he3x

Pagi ini saya sudah dibikin kesal oleh seorang ibu di dalam omprengan. Yup! Ibu ini berhasil membuat keqi tanpa kompromi di pagi nan cerah ini. Saya yakin sekali kalian mulai bertanya-tanya apa yang membuat saya keqi, benar kan? Ga sabar ya? Baiklah, begini ceritanya:

Ada seorang Ibu-sebut saja namanya Lela (karena berdasarkan penampilan fisik yang seperti orang dari belahan dunia timur tapi kalo ditulis Layla or Laila terlalu bagus dan bagaimanapun kalian juga kalian pasti nyebutnya Lela) yang adalah pelanggan omprengan yang cukup setia di pangkalan gerbang masuk perumahan galaxi, dekat kalimalang. Ibu Lela ini selalu berpakaian kaos dan jeans, well pernah sih sekali dia pake kemeja dan celana pantalon, tapi seringnya dia pake kaos dan jeans aja, selalu berlipstik merah tebal, berambut kecoklatan dengan agak lurus di bagian bawah namun agak kriting di bagian atas sebagai akibat atas mulai kadaluwarsa-nya hasil rebonding di salon 6 bulan terakhir. Ibu ini biasanya suka bikin janji bersama salah seorang ibu yang tentunya adalah penumpang omprengan juga. Ibu yang satu itu suka dipanggil dengan nama “Mate”. Iya, Mate, bukan dibaca “Meeit”, tapi benar-benar Mate. Untung bukan bahasa batak ya karena – setau saya – Mate itu artinya Mati… Horor banget kan? Hahahahahahahaha… Kayaknya sih mereka sekantor deh soalnya kalo ngobrol yang diomongin adalah mengenai boss mereka atau urusan Purchase Order yang belum selesai, gosip teman kantor, dlsb. Nah, bagaimana saya bisa tahu segitu detailnya? Tak lain dan tak bukan karena mereka hobinya bicara dengan volume cukup keras. Untungnya si ibu yang satu agak kalem namun tetap selalu memasang wajah haus info (baca: gosip) dan Ibu Lela adalah informan setia penyuplai berita dan semakin hot bila mendapat tanggapan positip. Ibu yang satu kalo bicara temponya agak lambat tapi Ibu Lela memiliki speed mumpuni, ibaratnya motor dia bagaikan yamaha RX King, motor copet, bersuara cempreng tapi larinya kencang seperti ngejar setan. Yup! Itulah gambaran yang tepat buat Ibu Lela. Walhasil saya harus memasang volume iPod lebih kencang dari biasanya demi meredam kebisingan di dalam omprengan. Untungnya, biasanya, kebisingan itu akan berakhir ketika sampai di gerbang tol halim karena setelah kecapean dan mulai habis bensin maka kedua ibu gosip itu akan terlelap. Saat itulah saya bisa kembali menurunkan volume iPod dan kembali menikmati lagu-lagu bergenre cinta…

Nah, hari ini saya naik omprengan yang masih agak kosong dan cukup lama menunggu penuhnya, ada kalo sekitar 15 menit baru mulai penuh. Pada deretan kursi belakang, yang berderet berhadapan seperti mikrolet, biasanya diisi 5 orang penumpang dan tadi baru tersisi 3 saja. Kemudian sekonyong-konyong datanglah Ibu Lela, berjalan ke belakang dan langsung duduk di deretan kursi belakang tepat di samping saya. Gosh.. Saya mulai kehilangan mood nih, kuatir ibu yang satu akan datang dan duduk di belakang juga (biar genap 5 penumpang) maka akan rusak lah pagi yang indah ini, pagi yang saya ingin nikmati dengan mendengarkan deretan lagu cinta yang sedang saya pelajari demi menjadi pemusik pada saat resepsi pernikahan sahabat saya. Tahu dong kalo mempelajari lagu itu kita harus benar-benar konsen dan mendetail, tapi kalo ada dua ibu itu? Hiks… Untungnya segala kekhawatiran saya itu tidak terjadi.

Selang sekitar 2 menit duduk, Ibu Lela langsung berkoar-koar memanggil timer omprengan dan dengan semerta-merta dia bilang,”jalan aja, sebelas ribuan”. Maka sang timer pun tersenyum senang dan sopir omprengan ini menjadi sumringah, sayup terdengar Ibu Lela bergumam,”kalo engga kapan jalannya?”. Entah itu gumaman atau pertanyaan.. Yang pasti pada saat pengumpulan uang, tiba-tiba Ibu Lela mengeluarkan uang Rp.11.000. Macam mana pulak? Bukankah tarif omprengan adalah Rp.10.000? Lalu semerta-merta saya bertanya,”emangnya 11 ribu?” Ibu Lela menjawab,”Iya!” tanpa tedeng aling-aling… Gosh, diktator dari mana pulak beliau ini? Tapi dengan perasaan dongkol saya keluarkan juga Rp.11.000 supaya keliatan kooperatif dengan penumpang yang lainnya. Memang hanya beda seribu doang dan apalah arti seribu rupiah… Saat ini aja udah ada uang logam seribu yang lebih mirip koin dingdong daripada alat resmi transaksi. Namun jika kalian membaca dengan teliti, maka kalian mengerti dong apa permasalahannya… Ibu Lela dengan sepihak memutuskan tarif baru! Tanpa diskusi dulu atau sekedar menanyakan persetujuan. Dia langsung aja menetapkan penambahan seribu rupiah! Belagunya dia! Dan saya juga ga yakin bahwa penumpang yang duduk di barisan tengah dan depan (samping pak supir yang sedang bekerja) tahu bahwa ada penambahan seribu untuk ongkosnya. Terbukti saat saya memperhatikan 3 orang yang duduk di tengah tetap mengeluarkan 10 ribu saja, tidak lebih. Ngaco banget kan? Seharusnya Ibu Lela minta persetujuan para penumpang omprengan dan harus disepakati bersama, jangan demi memenuhi keinginannya untuk bisa buru-buru jalan tapi semuanya dikorbankan.

Kalo kaya gini siapa yang paling dikorbankan? Kami, 3 orang penumpang yang duduk di deretan belakang! Juga si supir (yang sedang sibuk bekerja). Dia adalah oknum yang paling dirugikan.

Ini kalkulasi kerugiannya:

1 omprengan diisi maksimum 10 penumpang @ Rp.10.000 = Rp.100.000

Jika diisi 9 orang @ Rp.11.000 = Rp.99.000 (udah rugi seribu, tapi gak material lah)

Tapi tadi yang bayar 11 ribu hanya 4 orang maka: 4 x Rp.11.000 = Rp.44.000

5 x Rp.10.000 = Rp.50.000

Total yang dibayarkan Rp.94.000

berarti kerugian sang supir (yang sedang sibuk bekerja) adalah Rp.6.000

Untungnya sang supir (yssb) bukan seorang akuntan atau kasir atau yang terbiasa bekerja dengan menghitung uang, maka setelah dia terbengong sebentar saat menerima uang ongkos yang telah dikumpulkan dan bingung dengan kembalian yang berupa pecahan, disamping sibuk memperhatikan lalu lintas, maka beliau berhasil dikelabui… Poor him…

Itulah alasan mengapa pagi ini saya jadi keqi. Terbukti kan bahwa kesemena-menaan itu berakibat tidak baik buat segala kalangan dan dalam keadaan apapun. Ibu Lela sudah menunjukkan prilaku yang melanggar UUD 1945 dan melawan sila keempat Pancasila. Walopun hanya sederhana dan dalam jumlah yang sedikit, tapi bila dibiarkan maka akan menjadi bukit. Ibu Lela mempraktekkan apa yang biasa dilakukan oleh para pejabat di negara ini, yang mengakibatkan kemiskinan dan keterpurukan sosial ekonomi rakyat negara ini. Itulah buktinya jika ketidakadilan dibiarkan saja.

So, sekali lagi bukan masalah seribu rupiahnya ya, tapi kesewenang-wenangannya yang menjadi suatu prilaku buruk yang harus kita tinggalkan. Janganlah kita meniru perlakuan seperti itu, jadilah orang yang menyenangkan buat semua, jangan egois. Ingatlah semboyan P4 yang mengatakan bahwa kepentingan umum adalah di atas kepentingan pribadi atau golongan. Cam kan hal itu, anak muda. Hehehehehehehehe… (dan sekarang Ibu Lela tertidur dengan imutnya bersandar di pintu dan sambil monyong-monyong gituuuu… well, mungkin monyongnya adalah efek merahnya lipstik di bibir ya, hi3x)

Yah, begitulah pengalaman yang dapat saya bagikan di pagi ini. Pengalaman yang tentunya ga penting untuk kalian baca apalagi renungkan. Hehehehehehehe… Have a good day, fellas!

Salam hangat selalu,

Aries Boi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s