Aku

Adalah seorang aku yang suka duduk sendiri di dalam bis kota yang penuh sesak. Ramai bagi kalian, pengap karena sirkulasi udara yang tidak bisa berputar dengan leluasa. Sinar matahari yang tidak bersahabat menembus kaca jendela yang sebenarnya dilapisi oleh lapisan gelap yang sudah terkikis sebagian besar. Menyiksa bagi kalian, namun mataku tetap lurus menatap keadaan di luar. Tidak sedikitpun terpengaruh oleh berisiknya suara penyanyi jalanan yang merasa telah melakukan seni yang menghibur namun pada kenyataannya justru memekakan telinga. Tidak sedikitpun terpengaruh oleh berisiknya suara kondektur yang menyuruh-nyuruh para penumpang untuk merapatkan barisan walaupun pada kenyataannya untuk berdiri tegak saja sudah sulit. Tidak sedikitpun aku terpengaruh oleh bau orang-orang yang telah seharian penuh bekerja keras mencari nafkah untuk menghidupi kehidupan jasmani dan rohani mereka.

Aku tetap merasa seorang diri di tengah keriuhan itu…

Adalah seorang aku yang suka untuk pergi sendiri. Menuju tempat-tempat yang bisa memuaskan pandangan mata dengan beragam pemandangan baik indah maupun yang tidak. Berjalan kaki sementara orang lain pasti memilih untuk diantar oleh supir dengan mengendarai kendaraan seri terbaru seharga setengah milyar. Memakai kaus dan celana pendek serta sandal sementara orang lain berlomba-lomba memakai baju mahal dari merk Anu 1 atau Anu 2. Berwajah kaku, pandangan selalu ke bawah dan berusaha menolak kontak pandangan mata dengan orang lain. Aku lebih suka diam. Karena yang aku gunakan adalah mataku sendiri, bukan mata mu, aku tidak akan terpengaruh oleh kemauanmu, aku adalah apa yang dapat aku sarikan sendiri. Mata ku adalah jendela ku dalam menilai diri kalian yang selalu salah persepsi tentang banyak hal, sementara aku sendiri bukanlah orang suci dan bersih sehingga aku pun tidak mampu untuk mengatakan hal itu kepada dunia.

Aku tetap merasa sendiri di tengah keramaian tempat itu…

Adalah seorang aku yang suka menuliskan isi hatiku sendiri dan kemudian kalian berusaha untuk menerjemahkannya berdasarkan kejadian-kejadian similar yang pernah kalian alami dan kemudian akan mencoba untuk menarik kesimpulan bahwa apa yang aku tuliskan itu benar atau tidak. Sementara menulis itu sendiri adalah hak yang asasi. Siapakah kalian yang bisa mengi-ntervensi tulisanku? Yang akan kuberikan pada dunia tidak berwujud, yang selalu menemani aku dalam beberapa tahun terakhir ini sebelum kemudian menghilang dan mengembalikan aku kepada bentuk wujud yang nyata – saat kau sudah tidak ada.

Adalah aku yang amat menikmati duduk di kursi taman itu…

Aku yang selalu menunggu mu di kursi taman itu….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s