Ratu Jamu

Istriku tercinta memberitahukan suatu acara yang dibuat oleh Jaya Suprana, sang seniman yang merangkap tukang jamu (atau tukang jamu yang seniman ya? He3x)… Acara itu berupa Kontes Ratu Jamu. Pada awalnya gue pikir itu ajang kaum hawa adu-aduan sexy dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan jamu sebagai pengganti diet atau makanan non kolesterol lainnya demi mendapatkan penampilan bak dewi kahyangan. Ternyata bukan, Boi…

Acara itu berisikan para wanita yang berdedikasi tinggi pada profesinya sebagai tukang jamu gendong. Sang juara adalah seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri di Jakarta yang memilih menjadi tukang jamu untuk mencari uang buat bayar biaya kuliah dan keperluan sehari-hari. Hebatnya lagi, hal itu diteladaninya dari sang Ibu yang memang sudah lebih dulu menjadi tukang jamu. Jadi deh, anak dan ibu menjadi tukang jamu gendong, tapi ga jualan bareng lhoooww, mereka menempuh rute yang berbeda. Hebat banget ya…

Ada juga yang lainnya, seorang wanita muda yang jadi jatuh cinta kepada profesi ini padahal sebelumnya dia sangat menjauhinya. Berawal dari perasaan ga elit dan mungkin juga malu, cewek ini memilih menjadi SPG di mol dengan harapan bisa dapat uang lebih banyak dan – mungkin – kerjanya lebih nyaman, secara pake AC dooong… Dia ga mau mengikuti jejak ibu dan kakaknya yang memang menjadi penjual jamu untuk membiayai kehidupan mereka. Namun menjadi SPG di mol itu tidak mudah dan boleh gue bilang bukan pekerjaan yang enak. Mengapa? Karena cewek itu hanya dapet Rp.25.000 untuk seharian kerja. Well, mungkin dibagi shift sih, tapi tetep aja itu namanya cuma dapet segitu untuk sehari, syukur-syukur kalo mau long shift bisa dapet dobel kali ya…
Dengan penghasilan seperti itu, si cewek ternyata tidak terpenuhi kebutuhannya, niatnya yang pada awalnya mau membantu orang tua dan saudara-saudara eeeeehhh malah ternyata seringkali dia minjam uang dari Ibu – yang ternyata mampu mendapatkan penghasilan jauh lebih banyak dari dirinya. Dengan realita demikian, ditinggalkannya profesi SPG di mol dan beralih menjadi tukang jamu juga yang kemudian malah jatuh cinta pada profesi itu. Hebat ya…

Para tukang jamu itu kebanyakan sudah memiliki langganan, jadi sehari saja mereka ga keliling kompleks pasti ada aja yang nanyain, malah ada juga yang sampe telepon ke HP (well, ain’t llike couple years ago, HP is not a lux thing anymore). Senang ya dengarnya, usaha yang ternyata sederhana namun bisa membawa berkat buat dirinya sendiri dan – tentunya – para pengonsumsi jamu dengan membuat mereka menjadi lebih sehat.

Gue angkat 2 jempol buat Mr. Jaya Suprana atas idenya ini. Bagi gue, acara semacam ini patut untuk diberi penghargaan besar karena benar-benar berisikan pengalaman hidup orang yang memang berisikan perjuangan dan semangat pantang menyerah. Bagi gue, acara ini jauh lebih bermakna dari pada acara Ratu Sejagad yang udah kebanyakan variannya dari yang lokal (Puteri Indonesia) sampe yang interlokal (sebut aja Miss World, Miss Universe, Miss Outspace, Miss Kol, Miss Kin, Miss Communication, dll), acara yang cuma berisi cewek-cewek kulit mulus, senyum lebar dengan gigi rapih, badan tinggi semampai, langsing namun dada membusung, betis macam bulir padi, lenggak-lenggok macam kena ombak dengan nilai plus mereka rata-rata berotak pintar di atas rata-rata. Tapi kalo berdasarkan penelitian gue sih (atas para ratu lokal) rata-rata memiliki latar belakang ekonomi yang cukup ok, istilahnya ga perlu sampe jualan jamu lah buat bisa perawatan kulit.

Trus apa yang jadi keistimewaan Kontes Ratu Sejagad itu? Ga tau deh ya… Gue sih ngerasa ga ada manfaatnya selain cuma numbuhin semangat pengen ikutan jadi kece seperti para juara buat para cewek-cewek penontonnya atau sekedar buat cuci mata buat para cowok-cowok dan nambahin kriteria secara fisik dan non fisik buat calon pasangan yang lagi dicarinya.

So, Kontes Ratu Jamu bagi gue jaaaaauuuuhhh lebih bermanfaat karena dalam kehidupan ini kecantikan fisik bukanlah yang terutama dan ga perlu diagung-agungkan, namun bagaimana menjalani hidup tanpa menyerah walau diperhadapkan pada berbagai macam kendala dan tantangan, itu baru namanya HEBAT!

Maaf ya kalo ada yang ga setuju dengan note gue ini, tapi: Emangnye Gue Pikirin! Ini kan note gue, terserah gue dong mo ngecap ape keq, ha3x! Have a wonderful day, people…

Hidup Jamu Beras Kencur!!!

Salam Metal!
\m/ \m/

(In memories of Jamu Mentjos – Salemba Tengah, tempat di mana Papa & Mama suka bawa gue dan Mario ke sana waktu masih kecil, di dudukin di atas mejan dan dianggap sebagai lambang hoki oleh ownernya… Ha3x)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s