Kenangan Yang Terlintas Di Bis PPD 46

Masih tentang hari yang sama, Minggu sore, 28 Juni 2009. Gue pulang dari MTA sekitar jam 18:30 naik bis PPD 46. Murah meriah Boi, hanya dengan Rp.2.000 lo udah bisa menempuh perjalanan dari Grogol sampe Cililitan. Tapi jangan ditanya deh kalo lagi hari biasa, secara default jalannya lambat banget walopun jalan agak lengang, apalagi kalo macet ya. Belum lagi diteriakin suara-suara cempreng pengamen yang terkadang ga tahu diri, udah sempit, panas eh mereka malah datang dengan formasi lengkap: 2 orang main gitar, 1 orang main snare, 1 orang lead vokal dan 1 orang announcer sekaligus tukang nanggok. Yaaaaaahhhh, itulah resiko kalo mau berhemat atau emang ga punya duit. Ga ada pilihan lain karena kalo mau jalan kaki pasti cape luar biasa. Naik taxi? dari MTA – Jatibening bisa abis Rp.70rb. Gila banget kan? Masa gue kerja keras hanya buat ngabisin duit ditransport. Lagian juga macam artis amat naik taxi melulu, malu ama brewok dong… He3x! Secara dulu gue nguli di sebuah universitas yang lebih mirip terminal karena memang menjadi daerah pertemuan bis AKAP, angkot dan bis dalam kota lainnya. Jiwa gue lebih dekat ke bis, Boi… Paling siap-siap copet aje. Ha3x!Eh, kan gue mau cerita tentang apa yang gue rasa di minggu malam itu yaaa… Ketika gue naik PPD 46 yang agak kosong – gue dapat tempat duduk model mikrolet, gue melihat suatu pemandangan yang menyenangkan sekaligus mengharukan. Duduk di hadapan gue sebuah keluarga kecil: Bapak & Ibu dengan seorang anak perempuan sekitar kelas 5 SD dan seorang anak laki-laki berumur sekitar 1 tahun. Kedua anak itu duduk di kursi masing-masing, tidak dipangku namun sang Bapak dengan gaya kebapakannya merangkul si anak cowok.
Anak cowok itu begitu menyita perhatian gue, berkulit putih, rambut pendek dan ikal, mata belo dan berpipi tembem. Lucu sekali. Anak itu selalu menganga ketika melihat ada pengamen yang beraksi di hadapannya, dengan ekspresi yang berubah-ubah dan pandangan mata yang berpindah-pindah ketika mendengar pukulan stik snare, wajah anak itu membawa gue pada kenangan masa kecil gue….

Gue masih ingat betapa sering Bokap ngajak gue pergi dengan naik bis. Pastinya juga selalu bersama dengan adik gue. Seringnya sih gue minta naik bis tingkat dan kami harus duduk di atas, di bagian terdepan, dekat dengan kaca depan. Ada sensasi tersendiri yang gue rasakan ketika naik tangga, pegangan tangga itu sungguh terlihat menarik dan dengan susunan anak tangga yang sedikit berbelok gue merasa seperti naik tangga di kastil kerajaan. Unik sekali.
Terus biasanya Bokap gue membayar dua kursi untuk gue dan adik gue sementara dia sendiri duduk di belakang kami. Selama diperjalanan kami merasa seperti naik robot besar – saat itu eranya film Voltus V, gue merasa jadi seperti Kenichi dan Mario seperti Hiyoshi. Ingat banget betapa bokap gue akan sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari otak jenius gue dan adik gue, somehow gue selalu merasa puas dengan jawaban Bokap.

Serunya naik bis bersama Bokap tetap gue rasakan sampe saat ingin turun. Dulu mah bis lebih teratur, mau berhenti persis di depan halte dan ga akan jalan sebelum penumpangnya benar-benar turun. Bokap akan menggendong adik gue dan dia akan menggandeng gue. Dengan hitungan 1, 2 dan 3 Bokap gue juga turut lompat – bareng dengan gue. Sambil tertawa-tawa Bokap selalu bilang kita seperti keluarga Tarzan yang suka lompat-lompatan. Kata-kata Bokap gue itu sangat membekas karena selain diucapkan berulang-ulang nampaknya Bokap ingin melatih gue sebagai anak yang tertua untuk menjadi orang yang cekatan. Anak laki-laki harus tangguh dan hebat, latihan lompat-melompat seperti itu kayaknya dijadikan salah satu latihan. Gue juga teringat banget setiap kali kita melompat bersama-sama Mario pasti tertawa-tawa kesenangan, dengan deretan gigi ompong dan muka yang bandel, gue bisa melihat betapa bahagianya Mario diajak berpetualang seperti itu. Ha3x!

Pemandangan di minggu sore itu membawa gue ke dalam suatu kenangan indah…

Agak sedih juga ya ketika gue (nantinya) harus memulai kehidupan baru bersama dengan calon istri. Gue akan pergi meninggalkan kehidupan gue yang selama 32 tahun selalu gue habiskan dengan Bokap dan Nyokap. Semua kenangan indah itu suka membuat gue merasa berat untuk melangkah… Ga tau kenapa ya, gue benar-benar tumbuh menjadi anak yang dekaaaat banget dengan orang tua, walopun ga terlalu keliatan seperti yang lainnya, gue terlihat amat cuek, namun pada lubuk hati yang terdalam, orang tua dan adik gue adalah segalanya. Tapi kan kehidupan harus terus berjalan ya dan semua tantangan harus gue hadapi. Bahkan Mario pun sudah meninggalkan gue duluan… Well, gue siap koq untuk memulai hidup yang baru…

Tekad gue adalah ketika gue memulai hidup baru ini, gue pengeeeeeen banget bisa segera dikasih “jagoan” biar bisa gue jadikan teman, pengen gue ajarin kungfu, main sepeda, main skateboard, dll. Gue pengen mengulang keindahan masa lalu yang pernah ditunjukan Bokap gue…

Terima kasih kepada keluarga kecil di atas PPD 46 pada minggu sore kemarin. Pemandangan yang kalian beri benar-benar membuat gue semakin menyukuri kehidupan yang pernah gue alami selama ini… Terima kasih Tuhan karena sudah menganugerahkan kehidupan yang penuh dinamika. Semuanya membuat indah!

Have a nice day people…

Salam metal.
\m/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s