Merintih…

Apakah yang kalian akan bikin apabila kenangan lama datang kembali dan mengusik pikiran kalian? Suatu hal yang tadinya sudah mengkristal – terendap di dasar perasaan sebagai pondasi atas nama Cinta Yang Terus Berjalan, hal yang mampu membuat dirinya berjuang justru setelah dirinya tersakiti oleh kisah kasih yang tak terbalas – hanya sebatas rasa kagum berlebih menjerumuskan diri ke dalam cinta – yang tak sempat terucapkan semenjak hari pertama bertemu dengan Sang Pencuri Perhatian.

Sang Pencuri Hati tidak pernah mengetahui bahwa dia menyebabkan matinya seorang pribadi namun sekaligus menumbuhkan sayap si korban. Dengan segala ketidaktahuannya itu dia menawarkan mimpi indah dalam mimpi korban lewat interaksi hampir setiap hari yang kadang kala tidak cukup terpuaskan hanya lewat telepon, sampai membuatnya mengatakan kepada si korban bahwa sering kali dia menggunakan batinnya untuk menghubungi si korban. Selalu lebih efektif dibandingkan lewat telepon karena selain pastinya makan banyak hitungan pulsa, pesan yang disampaikan via telepon biasanya hanya penghibur kuping kiri beranting 3 Sang Pencuri Hati. Tidak ada yang sampai menyentuh hatinya, apalagi bila dia membutuhkan rangkulan si korban saat Sang Pencuri Hati merasa terjelembab dalam kisah kasihnya dengan Sang Pesaing…
Kata-kata lewat batin adalah penyejuk api membara dalam hati Sang Pencuri Hati, yang biasanya diterima setelah 1 jam telepon non stop dan dilanjutkan dengan sambungan lewat batin untuk menghampiri hadirat si korban yang berada puluhan kilometer. Dalam hati Sang Pencuri Hati adalah keindahan hubungan cinta bersama dengan Sang Pesaing, namun mengapa dirinya selalu mengatakan bahwa Si Korban adalah pasangan idealnya? Dengan alih-alih mengatakan bahwa di kehidupan dunia pararel pasti mereka adalah pasangan paling ideal sepanjang masa. Dan nama mereka pun bukanlah Sang Pencuri Hati dan Si Korban, namun menjadi Tuan & Nyonya Singgomenggolo Jalmuwono… Yap, keturunan ningrat yang akan dikaruniai 5 orang anak laki dan 3 anak perempuan dan perkawinan mereka akan berlangsung selama 50 tahun tanpa ada batu kali menghalang, paling hanya kerikil yang terpampang di jalan tol cinta mereka.

Tapi itu hanya di dunia pararel…

Di dunia kita ini Sang Pencuri Hati adalah pribadi memesona yang direbut oleh Sang Pesaing dan membuat Si Korban terjelembab dalam indahnya khayalan dunia pararel.

Sang Pesaing pun adalah penawar angin surga yang selalu memberikan semangat kepada si korban untuk maju tanpa mengenal kompromi dalam menerjang badai el nino demi memenangkan Sang Pencuri Hati. Perkataan Sang Pesaing adalah pedang bermata dua, satu mata memotong rasa takut ketika hati memutuskan untuk maju namun mata lainnya memotong keindahan khayalan si korban… Seandainya pedang itu bermata tiga maka sudah pasti si korban memohon supaya mata yang terakhir menusuk jantungnya saja supaya tewas…
Namun sesungguhnya pedang bermata dua itu bukan di tangan Sang Pesaing – yang bahkan tidak pernah mengenal arti kata pedang.
Sang Pesaing adalah sampul biru pertemanan mereka yang sudah terjalin belasan tahun. Sang Pesaing pun tidak pernah merasakan Sang Pencuri Hati menerobos brankas hatinya…
Itulah sayap yang tumbuh di punggung si korban, walaupun hatinya hancur namun dia mampu untuk terbang… Celakanya hati yang hancur itu perlu disokong oleh pilar-pilar yang hanya ditemukannya dalam pribadi Sang Pencuri Hati – membuat sayap si korban tak mampu untuk membawanya terbang lebih jauh dari keberadaan Sang Pencuri Hati. Dia mampu terbang tinggi – tinggi sekali tapi sebatas garis lurus – vertikal, tak terpengaruh oleh angin …

Angin
….

Angin
…..

si korban tak takut masuk angin… Karena ketika batinnya melalang buana naik kapal pesiar bersanding dengan Sang Pencuri Hati, maka kehangatan yang timbul niscaya jauh lebih manjur daripada kehangatan minyak kayu putih sekalipun…
si korban melintas, Sang Pencuri Hati melebarkan tangan, Sang Pesaing tersenyum melihat lintasan yang dibuat si korban sambil bergumam, “ayo kawan, sedikit lagi”. Namun sedikit pun dia tidak memerhatikan bahwa tangan terbukanya Sang Pencuri Hati dibuat dengan lirikan mata ke arahnya… Sementara hati kecil Sang Pencuri Hati meminta doa restu si korban supaya Sang Pesaing mau masuk dalam rengkuhannya…

Angin
….

Angin
….

si korban tidak takut masuk angin…

……

(sekedar pemberitahuan aja ini bukan tentang gue! Ini cuma cerita belaka…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s