Kembalilah Ke Seni Yang Benar

Ppprrrreeeeeeeettttthhhh…
Lega rasanya bila suara itu sudah berbunyi…he3x….
Selamat pagi teman-temin… Kawan-kawin…. Rekan-rekin…. Apa kabar nih semuanya? Pasti lagi ngerasa kangen ya? Sama siapa tuuuuuccchhh??? He3x…
Selamat bertemu lagi dengan saya, sang Pangeran DutCore. Mungkin kalian bertanya2 ya tentang apa itu DutCore. Well, DutCore adalah singkatan dari Dangdut Hardcore. Kalo dalam bahasa Indonesianya adalah Hardcore Dangdut. Mungkin kalian semua sudah tau banget ya tentang Dangdut. Tapi kalo Dangdut Hardcore? Naaaahhh, inilah yg akan saya bahas.

Dangdut pada dasarnya adalah musik yg berasal dari tanah India, dengan ciri khas pada sentuhan tabuhan tabla. Nah, kalo sampe di Indonesia, yg menggantikan tabla adalah gendang, atau ketipung. Ciri khas-nya adalah pemberian efek tabuhan dengan suara tebal dan dengan cengkok yg dalam dan pada beberapa ketukan ditambahi dengan suara tabuhan tipis. Biasanya tabuhan tebal menjadi tanda jatuhnya ketukan dan tabuhan tipis menjadi tanda ketukan di antaranya. Jadi kalo misalnya birama 3/4, maka tabuhan tebalnya adalah pada ketukan 1 dan ketukan 2 & 3 diberi tabuhan tipis. Gimana, cukup mudah utk dimengerti kan? Tapi pada era kemajuan teknologi, aturan penabuhan secara standar udah bisa ditinggalkan, banyak yg akhirnya melakukan improvisasi terpuji dengan variasi ketukan tebal & tipis yg tidak pada tempatnya. Hasilnya emang jauh lebih mutakhir karena lebih bisa mengakomodir keinginan goyang para hadirin di bawah stage. Kenapa? Karena biasanya tabuhan tebal itu adalah saat yg paling asoy buat menggerakan badan. Lebih menggenjot geto loooccchhh… Sementara tabuhan tipis lebih berguna utk memberikan arah pergerakan pinggul kita. Tapi tetap aja, semangat genjotannya lebih dipengaruhi oleh tabuhan tebal. Makanya, istilah “Senggol-Bacok!” biasanya terucap pada saat tabuhan tebal lebih banyak mengambil porsi… Karena pada saat itulah para penonton berada dalam suasana “trance”, lupa daratan, halusinasi tingkat tinggi. Apalagi kalo ditingkah polahi dengan sebotol miras dengan judul “Topi Miring” dan tersedianya dana yg cukup utk melakukan saweran, bisa dipastikan suasana hangat akan menjadi HOT!

Masalahnya adalah… Dengan kemajuan jaman maka ciri khas tabuhan ketipung/gendang jadi terkalahkan dengan adanya digitalisasi ketukan. Yup, dengan merebaknya pub-pub, menjamurnya DJ-DJ tanpa sertifikat maka dangdut pun mulai dikolaborasikan dengan musik2 Trance, House, Progresif dll dah… Tau kan kalo dengerin musik2 itu pala kita maunya gerak ke kiri&ke kanan aja… apalagi kalo udah dibubuhi sabu2, wah bisa buat geleng2 kepala melulu…

Nah, musik Trance/House/Progresif itu kan emang memakai ketukan yg udah dibuat sedemikian rupa cepatnya, yg (biasanya) melebihi kemampuan manusia dalam memberi ketukan (lewat drum, gendang, dll). Dengan kata lain kecepatan ketukan trance dkk hanya bisa terpenuhi secara artifisial, yup, secara digital – teknologi. Nah, pada saat2 seperti itulah ketukan tebal & tipis dari ketipung/gendang tradisional dirasakan kurang bisa mengakomodir maksud sang DJ. Jadi, apa boleh buat… suara ketipung/gendang tradisional pun direkam aja dan dijadikan master data buat ditambahin ke dalam lagu dugem. Walhasil, lucu juga jadinya lhow… Efek tebal & tipis udah ga terlalu ngaruh. Yang tadinya menjadi ciri khas dangdut, malah menjadi sekedar hiasan utk melegalisir bahwa itu lagu dangdut.
Kasian yaaaaaaa…. Makanya ketika beberapa kali gue mendapat kesempatan buat mendengarkan aliran musik trancedut/housedut di dalam angkot2 yg ramai di kalimalang, akan gue pakai waktu itu utk merenung… Betapa teknologi digital sudah demikian merusak seni… Memang sih, kemajuan jaman juga dipakai utk mendukung seni, tapi tentunya bukan utk menggantikan seni asli dong… Makanya gue sangat ga respek dengan Ahmad Dhani dan semua artis yg hobi bawa2 teknologi digital ke atas panggung. Maen live musik jadi seperti karaokean aja…. Kaga PD.

Hardcore sendiri sebenarnya adalah aliran musik cadas yg berciri khas lirik politik, persatuan, anti kemunafikan dll. Dengan ketukan drum yg kadang kala memakai double pedal, snare yang bertubi-tubi, cymbal yg bersahut-sahutan, suara bas mencabik2, dan raungan gitar serta chord2 nge-block yg amat jantan mampu membuat penonton menjadi gila2an moshing… Itu lhow… Lompat2an saling timpa badan, atau sekedar pogo-nari di bawah panggung sambil menabrak2an badan ke penonton lainnya. Para pengusung musik hardcore adlah pemusik2 yg jujur dalam bermusik. Kaga pernah main digital, mainnya asli. Semua ketukan cepat yg mereka bikin benar2 berasal dari kemampuan mereka mengolah alat musik. Pokoknya gila banget deh!

Nah, mengapa akhirnya gue menyatakan diri sebagai Dangdut Hardcore? Karena gue pengen musik kembali ke jalan yg benar. Tidak selalu mengandalkan digitalisasi. Terlalu artifisial, kawan… Lebih enak kita mendengarkan musik bagus tapi yg mainin emang orang2 yang ahli, bukan sekedar ngandelin percepatan tempo digital, trus tinggal tambahin track buat masukin sound2 aneh tapi akhirnya musik kehilangan esensinya: penjiwaan.

Akhir kata, demikianlah notes ga penting ini saya buat. Pasti kalian merasa benar2 ga penting kan? Ha3x… Ini belum seberapa Boi… Tunggu aja nanti saya akan bikin yang jauh lebih ga penting… Hi3x… Kali aja kalian semua bisa mengerti apa maksud saya. Btw, jangan kalian pikir saya ga ngantor ya karena ga ngebahas omprengan atau supir omprengan atau penumpang omprengan. Saya ngantor dong walopun dengan kondisi perut ga delicious….

Selamat pagi dan selamat menikmati makan siangnya….

Salam metal!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s