Menikmati Pesta Jazz (?)

Java Jazz Festival (JJF) sudah dimulai sejak Jumat 6 Maret 09 kemarin dan hari ini kalo ga salah jadi hari terakhir penyelenggaraannya utk tahun 2009. Nampaknya animo masyarakat yang notabene adalah pencinta Jazz cukup besar, terbukti dengan terjadinya kemacetan hebat disekitar Sudirman-Senayan pada jumat malam sampai sabtu siang kemarin.

Beberapa surat kabar pun merilis berita seputar penyelenggaraan JJF. Yah, karena tahun ini gue ga punya dana cukup untuk beli tiket, akhirnya gue memuaskan diri untuk menikmati ulasan2nya aja. Namun di sinilah awal munculnya hudul notes gue ini, apakah ini benar pesta Jazz?Ketika gue melihat beberapa line-up musisi “jazz” lokal dari Indonesia tertulislah nama Afgan dan Tangga. Gue tersenyum-senyum berat (????) membacanya. Pikir gue: Panitia ga becanda nih???

Jazz adalah jiwa. Bukan sekedar musik dengan chord-chord yang aneh, scatting yang asal bunyi, vokal yang diberat-beratin, ketukan lagu yang dibikin sinkop-sinkop atau nada yang diseret-seret.
Namun Jazz memang bisa dipelajari. Well, semua aliran musik bisa koq dipelajari, namun dalam kenyataannya jiwa kita sendirilah yang akan membawa kita untuk jujur mana aliran musik yang memang akan kita imani. Ada kalanya seseorang belajar musik pop tapi ternyata referensinya adalah jazz, belajar musik rock eh ternyata malah pop yang muncul, atau belajar pop eh malah dangdut yang muncul, dlsb.

Afgan.
Setau gue sih dia adalah penyanyi dengan karakter pop namun berusaha keras supaya karakter vokalnya menjadi black dengan cara mengimprovisasi (hampir) setiap nada yang dinyanyikannya. Tapi produser mungkin melihat bahwa cowok cute itu lebih komersil kalo dikasih lagu pop seperti Terima Kasih Cinta & Sadizzz. Dan itu sangat terbukti! Siapa sih yang ga kenal Afgan?

Ok. Mungkin Afgan sudah berusaha keras buat menyanyikan lagu-lagu Jazz dan pastinya sih – gue yakin – doi udah belajar dengan tekun. Namun sekali lagi, jazz adalah jiwa. Ga gampang dengan hanya kurun waktu 2 tahun kalian bisa langsung ganti arah/jiwa musik. Ga cukup hanya sekedar improvisasi nada… Jazz adalah komunikasi harmoni antara penyanyi, musik dan juga penonton. Kalo teman2 pernah tau grup Simak Dialog, well itulah yang bisa dijadikan contoh betapa para personilnya benar2 ngobrol via musik. Berat Boi…. Tapi sekali lagi itu syah2 aja koq. Namanya juga usaha… Namun ada satu lagu yang dinyanyikan ulang oleh Afgan yang sangat mengganggu pendengaran gue, yaitu lagu Biru yang dulu dinyanyikan oleh Vina Panduwinata. Lagu itu seharusnya menjadi suatu lagu yang romantis, mendayu tapi ketika diaransemen ulang untuk dinyayikan oleh Afgan, yang ada gue malah mendengar suatu komposisi chord yang dipaksakan, konsep big band & swing yang berusaha banget buat jadi jazz… Walhasil…. nilai 4 dari skala 1- 10. Eh, tapi itu menurut gue lhowwww… (maaf ya buat para Afgan Die Hard…) Hi…hi…hi…

Tangga. Grup ini setau gue sih juga mengusung aliran pop abis, walopun dalam karakter vokal ada cowok yg juga berusaha jadi black (dan memang black, he3x…) dan ditambah dengan seorang rapper yang merasa sudah nge-rap dengan benar. Gue akuin lagunya Tangga cukup banyak yang enak koq, catchy dan bisa bikin kita angguk2 kepala di dalam mobil. Menurut ulasan di koran, mereka mengarabsemen beberapa lagu pop dengan nuansa swing.
Sayangnya gue ga ngeliat performance mereka. Tapi gue pernah beberapa kali melihat mereka unjuk kebolehan di acara2 tipi. Untuk harmonisasi vokal…mmmm menurut gue sih cukup aja. Ga boleh dibilang jelek. Tapi sering kali terdengar pitchy tone, dan tidak semua vokalisnya mampu melakukan improvisasi. Terus gimana dong dengan konsep komunikasi harmoni? Menurut gue sih saat ini belum bisa mereka lakukan. Pasti akan bisa tapi mungkin porsi belajarnya ditambah lagi dan dengan jangka waktu yang lebih lama.

Dengan kondisi seperti itu, apa yang akan kita dapatkan dari Pesta Jazz ini? Hanya nuansa pop belaka jikaaaaaaaa kalian cuma nonton di panggung2 besarnya aja. Pengalaman gue, kalian harus muter ke berbagai tempat di sana / ruangan2 yang sangat kecil, yang memang diberikan untuk musisi Jazz beneran. Di tempat2 kecil itulah kalian akan menemukan Beny Likumahuan & The Salamander, Aksan Sjuman, Tjut Nyak Deviansyah (bener ga tulisannya?), Dewa Budjana, Jubing (Becak Fantasi) dan para musisi2 jazz lainnya yang mungkin tidak terlalu ngetop sebagai performer.

Di ruangan2 itu kita akan terduduk diam, dengan kepala mengangguk-angguk, sesekali berdecak kagum, mata merem melek, mulut monyong dan tepuk tangan panjang di setiap akhir satu komposisi karena waktu berada di tengah komposisi otak kita bekerja keras menikmati semburan harmoni sehingga ga sanggup mengirimkan sinyal supaya mulut berteriak2, gigit2 kuku, dlsb. Biasanya judul lagu/komposisi mereka terdengar agak aneh atau memang tidak pernah kita dengar sebelumnya. Dan – ini yang jadi ciri khas jazz – para pemusik akan saling mengambil bagian utk berimprovisasi. Terkadang dengan mata terpejam, cengar-cengir sendiri atau saling ngeliat satu dengan yang lainnya. Perpindahan ketukan, overtone, scatting menjadi suatu ekspresi spontan – tidak tercantum dengan bentuk notasi di dalam partitur lagu. Semua mengalir dengan bebas. Hebatnya lagi, setelah berputar-putar sekian bar dengan berkali-kali tukar ketukan, tiba2 semuanya bisa masuk-menyatu kembali pada bar yang sama… Gila banget kan??? Itulah The Real Jazz! Sesuatu untuk dinikmati secara pendengaran dan penampilan visual adalah pendukung komunikasi itu. Oh iya, biasanya sih yang bela-belain nonton penampilan mereka adalah para musisi jazz juga. Atau mereka yang lagi belajar musik jazz (penyanyi atau pemusik) bahan sekedar penikmat saja (bukan penyanyi atau pemusik). Trus jumlah penontonnya pun biasanya ga akan bombastis… Mungkin karena katanya Jazz itu musik rumit yaaa…. jadi memang segmented banget yaaa….

Bandingkan dengan Jason Mraz yg ikutan di JJF sekarang dan yang katanya berhasil meraup 8000 penonton! Bersama juga dengan Afgan & Tangga. Kalo dari ulasan koran katanya selama konser isinya adalah teriakan-teriakan ABG yang rata-rata histeris karena melihat ketampanan/kecantikan para penyanyinya. Bisa gue bayangkan sambil para artis itu bernyanyi mereka seakan-akan berebut paling kencang utk bilang “I Love You”, “Waaahhh Kereeenn”, atau pujian lainnya. Musisi yang berimprovisasi pun biasanya hanya diberi tepuk tangan sebagai penghormatan aja atas usahanya itu… Itupun biasanya setelah disuruh tepuk tangan oleh sang artis…hi3x… komunikasi harmoni yang diharapkan terjadi – kalo menurut gue – malah terhambat oleh histeria jiwa muda yang hanya sekedar mencari figur sang penyanyi. Syukur2 dapet kesempatan foto bareng.

Tapi sekali lagi, semua itu syah aja koq…namanya juga cari untung, pasti harus pake sesuatu yang bisa menjual sekaligus menarik minat dooong…
Apalagi – kayaknya – untuk ukuran jaman sekarang tiket seharga 300 ribuan udah ga terlalu mahal lagi bila dibandingkan dengan kesempatan untuk bertemu orang-orang kece di atas panggung.
Dan lebih syah lagi adalah bagi kalian yang memang mau nonton aja. Siapa juga yang berhak untuk menghalang-halangi kalin buat beli tiket, betul ga?

Saran gue: bagi kalian yang pengen menikmati Jazz yang sesungguhnya, silahkan kalian kreatif untuk mencari sudut-sudut tertentu di JHCC, karena bisa jadi di situlah para pendekar Jazz lokal beraksi. Mengumandangkan nuansa Jazz yang sesungguhnya. Tunjukkanlah bahwa kalian memang mendatangi Pesta Jazz!

…. …. ….

Apakah gue penggemar Jazz? Biasa aja koq… Gue malah lebih suka dengerin / mainin lagu rock, hardcore atau metal sekalipun. He3x…. Tapi gue adalah penikmat musik. Dan gue sangat suka dengan musik yang terkonsep, ga sekedar ngejar sisi komersil dan mengulang-ulang reff-nya saja… hi..hi…hi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s