Butuh

Butuh

kupikir setiap orang butuh waktu untuk duduk di kursi taman mendengar musik bagus sambil menatap langit cerah pukul 16:30 dalam bengong selama 10 menit

kupikir setiap orang butuh waktu untuk tiduran di sofa mendengar musik bagus dan membiarkan diri diliputi gelap pukul 18:00 dalam ruang tanpa pendar lampu dan tirai menutup rapat celah kaca jendela

kupikir setiap orang butuh waktu untuk berjalan di ruas relatif antar menit mendengar musik bagus dan membiarkan diri dikelilingi bisik pukul 00:00 dan bising pukul 23:59 dalam ragu harapan

Hemat Pangkal Kaya

Apa yang paling dibutuhkan saat musim libur tiba? Duit!

Apa yang paling cepat hilang saat menikmati musim libur? Duit!

Bahkan seringkali duit keburu lenyap saat musim libur belum usai… Lembar-lembar yang sebelumnya nampak begitu jumawa membuat dompet sulit untuk dilipat – seakan ingin dilihat keberadaan dan segera digunakan – hanya berlaku pada 3 hari pertama saja… Tersisa 4 hari lagi menuju masa sibuk kerja yang membuat kehidupan kembali “normal” karena dihabiskan di depan meja kerja sambil menatap angka-angka dalam bermacam dokumen digital berformat .pdf, .xlsx, .docx dan lain sebagainya, sehingga mempersempit kemungkinan untuk melihat barang-barang yang dipajang oleh para penjual melalui media sosial yang melekat erat pada telepon genggam. Ya… Musim libur adalah musim yang paling boros… Tapi aku cinta musim libur, hanya saja kata cinta itu tak pernah cukup untuk membiayai kebutuhan foya-foya saat berlibur. Didasari kesadaran atas rendahnya kemampuan dompet dalam menjaga stabilitas ekonomi, maka kuputuskan untuk tidak mengambil cuti bersama selama masa liburan ini. Untungnya kantorku yang berpusat di London itu memang tidak libur – jadi kantorku di Jakarta pun tidak meliburkan diri hingga siapa saja yang tidak ambil cuti bisa tetap masuk kerja. Alih-alih tidak ada urusan selama liburan dan dengan adanya deadline report yang memang jatuh pada salah satu tanggal dalam masa cuti bersama, maka kubulatkan tekad untuk masuk dan bekerja. Akhirnya aku terlepas dari jerat konsumerisme liburan! Continue reading “Hemat Pangkal Kaya”

Freedom of Speech, Freedom of Preach

Freedom of Speech, Freedom of Preach

Beberapa hari yang lalu aku datang ke acara bertajuk Freedom of Speech, Freedom of Preach yang kalo diambil maknanya secara bebas pasti berkisar pada orang yang akan menyampaikan sesuatu secara bebas, dengan caranya sendiri. Memang demikian. Acara ini dimaksudkan untuk mereka yang ingin menyampaikan uneg-uneg, keresahannya, atau apapun yang terlintas dalam pikiran mereka. Dalam publikasi yang tersebar lewat media sosial disampaikan bahwa turut mengambil bagian beberapa nama tenar dan yang mulai dikenal dalam dunia musik indie. Nama-nama yang tercantum itu rata-rata sudah memiliki basis penggemar yang cukup besar dan fanatik, yang kemanapun si idola akan manggung, maka penggemar itu pasti hadir. Itulah yang terjadi. Paviliun 28 sebagai tempat perhelatan acara tersebut menjadi penuh sesak, sampai tidak muat dan memaksa beberapa penonton harus puas untuk menyaksikan penampilan sang idola hanya lewat sisi luar kaca jendela.

Sebelum lanjut, perlu kukatakan bahwa aku tidak akan menyebut nama di sini, well, satu atau dua nama sih mungkin akan kusebut deh, namun kebanyakan tidak karena aku tidak mau disebut mendiskreditkan mereka karena ini hanya pendapat pribadi dan aku tidak berusaha untuk mempengaruhi kalian yang udah mau buang waktu untuk membaca tulisan ga penting ini. Yang ingin kusampaikan adalah kesan yang kudapat selama menonton acara ini. Itu saja. Continue reading “Freedom of Speech, Freedom of Preach”

aku di sini

aku di sini, cantik

di balik gincu merah bibirmu nan merekah

di balik warna warni kuku jemari

di sela-sela helai rambutmu nan wangi

 

aku di sini, cantik

di luar jauh puja-puji pengagummu

di dekat gambar yang terpajang selalu

kau berpelukan dengan belahan jiwamu

 

aku di sini, cantik

terhimpit di antara nomor – nomor dalam telepon genggammu

asik berpelukan dengan masa lalu

 

aku di sini, cantik

aku yakin kamu tahu

 

 

ketahuan

jika aku pencinta hujan dan tak takut kebasahan karenanya dan lebih takut jika tidak bisa tiba di rumah sebelum jam 12 malam, maka kenapa aku tidak bergegas jalan hujan-hujanan lalu ambil kendaraan yang ada di parkiran?

ah, ternyata aku tak sebesar tulisan-tulisan yang selalu kupaparkan.

tak heran engkau memilih berpergian.

dunia

di lubang telingaku menancap alat pengeras suara

yang tidak bisa kau dengar bunyinya

kecuali kau turut menancapkannya pada lubang telinga

 

di hadapanku terpampang sebuah buku

dengan deret kalimat rapat dan penuh

yang tak bisa kau baca jika dudukmu jauh

 

di genggamanku terdapat segelas kopi hangat

yang tak akan kau tahu sepahit apa rasanya

kecuali kau memintaku untuk membaginya

 

tak pernah susah jika kau ingin tahu tentangku

cukup ketiga hal itu

duniaku

 

sesederhana itu

tenang

aku tak pernah takut pada gerimis syahdu atau hujan menderu

namun aku waswas jika pijak kakiku menjadi licin dan aku akan terpeleset jatuh pada cinta yang tidak semestinya

siapa yang dapat memilih kapan akan jatuh atau tidak, bukan?

meski demikian, tetap kunanti hadirnya gerimis dan hujan

dibalut doa doa yang kerap kau panjatkan

supaya hujan sejenak dihentikan

dan kau tenang jika aku berpergian