Sbux (depan) Kino PS

Sbux (depan) Kino PS

Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya bahwa saya itu sangat sering ke Plaza Senayan (PS) dan setiap kali ke sana tidak boleh lupa untuk mampir ke Kino PS dan Starbucks yang ada di depannya (untuk selanjutnya disebut Sbux Kino), maka saya terkena gelombang kesedihan yang kedua kalinya karena Sbux Kino menyusul senior-nya di lantai 5 PS berhenti beroperasi. Tanggal 31 Maret Kino PS terakhir beroperasi, maka tanggal 10 April adalah hari terakhir Sbux Kino beroperasi. 10 hari adalah jarak yang cukup untuk memberikan kesedihan bertubi-tubi. Jika di hari terakhir beroperasinya Kino PS masih didatangi oleh pembeli yang mendadak banyak dan mereka tetap beroperasi sampai akhir jam operasional PS, maka Sbux Kino malah sudah selesai di sekitar jam 3 sore.

Situasi Sbux Kino menjelang berakhir masa operasionalnya relatif sepi. Aku rasa memang ada sebab akibat dengan tutupnya Kino PS. Pada tanggal 3 dan 4 April aku berkunjung untuk menikmati sepinya Sbux Kino, dengan leluasa bisa memilih kursi mana yang mau aku duduki. Biasanya selalu ramai, jam berapa pun aku datang hanya bisa pasrah balik arah karena sudah penuh dan kalau pun ada yang kosong aku tidak bisa memilih tempat duduk yang kumau. Namun di tanggal 3 dan 4 April, aku menikmati duduk-duduk di kursi yang kusuka, minum kopi makan kue baca buku dan main game di sana dengan rasa nyamaaan banget karena sepi. Rasa yang muncul di hati berkecamuk antara senang tapi sedih, sedih tapi senang. Saat itu aku masih berpikir “ah paling tidak Sbux Kino masih buka dan aku bisa santai duduk di sana tanpa harus bingung mau cari tempat lagi”. Sebenarnya di PS lantai 1 masih ada Sbux Reserve namun di samping selalu ramai, aku tidak terlalu suka dengan vibe-nya, dengan mood-nya. Rasanya “kekinian banget”, sementara kalau di Sbux Kino lebih oldskool. Masih mempertahankan gaya gerai jaman dulunya. Tidak “remang-remang” dan seperti apa adanya aja. Ga digaya-gayain (kayaknya sih ya…). Aku lupa sudah berapa lama Sbux Kino beroperasi namun sejauh yang dapat kulihat dari foto-foto di Instagram, tahun 2011 sudah ada. Paling tidak sepuluh tahunan lah ya aku kenal dan bergaul dengan Sbux Kino. 

Seingatku, di Sbux Kino cukup banyak tulisan yang kuhasilkan, tempat menghabiskan berlembar-lembar halaman fiksi, beberapa foto diecast yang suka kucelupkan ke dalam minuman atau kutaruh di atas makanan (sempat menjadi ciri khasku dalam foto-foto diecast di IG) dan beberapa kali menjajaki cinta dengan wanita yang berbeda hihihihihi… Lucunya, dahulu barista-baristanya agak “jutek” – nampaknya kan memang sempat ada masanya barista-barista Sbux terasa agak “belagu” – namun tidak menyurutkan kesenanganku untuk berlama-lama di sana dengan tetap tidak lupa memesan minuman beberapa kali seiring lamanya durasi me-time-ku. Flat White adalah minuman kesukaanku di sana yang selalu dihidangkan dalam gelas putih pendek namun besar, if you know what i mean. Kopi dan musik adalah kimia sejati bagiku dan situasi yang nyaman adalah pelengkap kenikmatan.

Lalu tanggal 10 April sekitar jam 3 sore aku mengunjunginya. Dengan segala rencana yang sudah ada di dalam kepala untuk mencoba aksessoris baru nintendo switchku dan bertanding dengan Jueng, melangkah masuk dengan yakin ke dalam Sbux Kino dan melihat hanya ada sepasang anak muda yang asik membuka laptopnya dan seorang pria memakai topi yang duduk saja. Tanpa curiga aku segera mengatur-atur posisi duduk yang nyaman dan mengisi ulang saldo Sbux Card sambil kemudian melihat-lihat keadaan sekitar. Barulah kusadari ternyata situasi terasa agak gelap karena food display dan tempat barista-nya tidak dinyalakan lampunya. Bahkan food display-nya pun sudah kosong, mesin kasir pun tidak dinyalakan. Terkejut aku saat melihat para barista tidak berada di posisi “yang seharusnya” namun malah saling ngobrol. Aneh.

Baru saja aku mau bertanya mengenai keanehan ini, baristanya langsung menghampiriku sambil bilang “Maaf, Pak Joe, kami sudah tutup dan mulai sekarang kami tidak beroperasi lagi” (karena sering banget datang maka aku cukup dikenal oleh para baristanya). Yang aku dengar hanya “kami sudah tutup” namun koq rasanya ada lanjutannya ya… maka kutanyakan lagi untuk jelasnya dan kembali mereka bilang “iya Pak Joe, mulai hari ini kami sudah tidak beroperasi lagi. Gerai ini tutup”. 

Aku kaget setengah mati… Koq jadi gini amat ya… Aku ga sadar ternyata suara kagetku cukup besar dan mendadak rasa sesak memenuhi dada. “Kenapa?”, hanya itu yang bisa kutanyakan. Mereka hanya menjawab tidak tahu tapi katanya seluruh lantai 5 PS itu akan ditutup dan direnovasi. Lalu aku tanya kemungkinan Sbux Kino buka lagi namun mereka tidak bisa memastikannya. Ah… aku ga bisa berkata-kata… rasanya sedih sekali. Dua tempat kesukaanku harus tutup dan dalam jarak waktu yang sangat dekat. Double blow. Koq gini amat ya… Ada apa sih sebenarnya? Kenapa sih tempat-tempat yang berarti banget buat aku malah harus hilang?

Lalu para barista itu mengajak aku untuk melakukan sesi foto terakhir di sana, mungkin karena melihat kesedihanku ini. Akhirnya kami membuat beberapa foto terakhir bersama di sana. Tanpa sengaja juga ternyata kami memakai hitam-hitam semua, padahal kan barista ada bajunya yang warna putih atau celananya yang warna krem – hanya Jueng yang pakai kaos warna merah. Warnanya muram sekali ya. Kaya rasa sedihku. Salah seorang barista meminta bantuan pada pria yang memakai topi dan duduk duduk sendirian saja untuk membuat foto kenangan kami. Bergantian menggunakan HP mereka dan HP ku sendiri. Maka jadilah dua foto terakhir berada di Sbux Kino, kenangan bersama para barista. Lalu aku tanyakan apakah mereka akan terus bekerja, syukurnya mereka lanjut bekerja namun dipindahkan ke gerai-gerai yang berbeda. Tidak satu team lagi. Ah tidak apa-apa lah ya yang penting mereka masih bekerja.

Akhirnya, kubereskan tas dan isinya yang sudah sempat kukeluarkan. Lalu mengucapkan salam perpisahan dengan para barista. Kupandangi Sbux Kino untuk terakhir kalinya dengan rasa masih tidak percaya. Kuambil beberapa foto terakhir untuk mengenangnya bahkan sempat terekam saat dua baristanya mulai mengangkat barang-barang yang ada. Sedih sekali.

Terima kasih atas semua kenyamanan, kesenangan dan kenangan yang sudah kurasakan, Sbux Kino! Semoga nanti saat renovasi lantai 5 PS sudah selesai, gerai-mu menjadi lebih nyaman dan menjadi tempat yang asik buat me-time pria menjelang uzur ini. Sampai jumpa lagi!

epilogue:

Kino PS sudah tutup, Sbux Kino pun tutup. Lalu ke mana lagi tujuanku jika ke PS? 

Kino PS

Kino PS

saya lupa sejak kapan menjadikan Kinokuniya Plaza Senayan (Kino PS) sebagai toko buku paling disuka. yang pasti saya termasuk salah satu dari mereka yang rajin datang untuk sekedar melihat-lihat juga tentunya membeli buku saat ada uang. lupa sudah berapa lama Kino PS ini beroperasi membuat saya googling dan menemukan bahwa 22 tahun lah lamanya. 22 tahun yang lalu usia saya sekitar 22 tahun. namun yang dapat saya ingat adalah saya mulai rajin ke sana saat sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri dan sudah di perusahaan yang kedua, sekitar tahun 2001 (20 tahun yang lalu) dan semakin mengakrabkan diri dengannya sekitar tahun 2004 (17 tahun yang lalu) saat sudah bekerja di perusahaan ketiga, karena gaji naik jadi punya penghasilan lebih banyak untuk bisa beli buku.. hehehehe…

20 tahun itu menghasilkan cukup banyak buku dan komik hardcover yang mengisi lemari di kamar. selain buku dan komik, 20 tahun itu menorehkan banyak kenangan pribadi, khususnya masalah percintaan ahaahahaha… Kino PS adalah tempat janjian, jadian, senyuman, putus harapan, kegagalan, kesedihan dan kembali menyulam harapan. yang paling nikmat adalah setelah beli buku langsung menuju gerai starbucks yang ada tepat di depannya. sering saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk duduk baca, bahkan ada buku yang langsung selesai saya baca – sekali duduk saja di sana. buat saya, menyendiri sambil membaca buku (dan mendengar lagu dan minum kopi dan makan cemilan) adalah me time ternikmat.

per hari ini Kino PS sudah tutup. kemarin, 31 maret 2021 adalah hari terakhir mereka beroperasi dan ramai sekali. rasanya tak pernah seramai ini sebelumnya jika sedang tidak ada acara apapun di sana seperti peluncuran buku baru atau acara komunitas. kemarin ramai sekali sampai ada antrian orang yang mau masuk karena harus bergantian padahal tidak ada diskon buku lhow dan saya melihat orang-orang yang memborong banyak buku, ada yang sampai dua keranjang sekaligus… saya sendiri membeli tiga buku saja, dua di antaranya buku yang belum saya punya dan satu adalah buku yang sudah saya punya namun dengan edisi berbeda. memang saya sudah meniatkan diri harus membeli buku untuk menyempurnakan perpisahan dengan Kino PS sekaligus mengukir kenangan terakhir belanja di sana. antrian di kasir cukup panjang, rasanya lebih dari 30 menit dalam antrian. untung saya ditemani Dia jadi kami berbagi tugas, dia mengantri dan saya berkeliling toko dan mencoba mengambil beberapa foto terakhir. agak sungkan untuk foto-foto tapi demi kenangan terakhir ya saya niatkan saja. Tasha nampaknya mengerti “ikatan emosional” dengan Kino PS maka dia membiarkan saya berkeliling. Kino PS sudah dikurangi setengah areanya dibandingkan dengan 2 (atau 3) tahun yang lalu, saat masih luas, banyak titik nyaman buat duduk dan lebih beragam pemandangannya. saya seperti flashback dan dada terasa sesak. sedih sekali. lebay? tidak apa-apa. apa yang saya rasakan kan tidak mesti sama dengan kalian.

saat tiba giliran di kasir, saya menyempatkan diri untuk bertanya kepada kasirnya alasan penutupan toko ini – meskipun sudah tahu karena mencari info via google. mba kasir hanya menggeleng kepala dan dengan suara pelan mengatakan tidak tahu. saya sedih membayangkan apakah setelah ini dia dan karyawan lainnya masih terus bekerja atau tidak. semoga saja mereka akan terus bekerja dan mendapatkan pekerjaan yang baik. masa pandemi ini benar-benar bikin susah…

usai transaksi saya dan Dia tidak langsung keluar tapi kembali mengitari, memandangi dan menikmati Kino PS untuk terakhir kalinya. melihat seorang karyawati yang ada di dekat rak buku bagian depan, saya mengajaknya ngobrol sedikit dan dia pun seperti mengerti kesedihan kami (juga banyak orang lainnya). lalu saya meminta bantuannya untuk mengabadikan foto kami berdua. rasa terima kasih yang banyak dan tulus kami ucapkan ke mba itu yang kami anggap sebagai perwakilan dari Kino PS.

lalu kami jalan ke luar dengan hati yang sangat sedih, membayangkan bahwa nantinya kunjungan ke PS tidak akan terasa sama lagi…

akhirnya, terima kasih Kinokuniya Plaza Senayan atas segala cerita dan kenangan selama 20 tahun kemarin. sedikit banyak melalui buku-buku yang kalian sediakan dan lorong-lorong dan kursi-kursi dan aroma kayu dan warna-warni sampul buku dan suasana hangat dan rasa nyaman itulah yang memberi andil dalam membentuk pribadi saya menjadi seperti sekarang ini.

saya akan sangat merindukan semua hal tentangmu, Kino PS.

di mana

di mana

di mana kah kita saat lagu ini terdengar untuk pertama kalinya?

alunan hati yang kagum ketika menatap matamu

memendam keinginan untuk bisa memiliki dirimu

sampai kemudian menemukan jalan menuju hatimu

di mana kah kita saat lagu ini terdengar untuk pertama kalinya?

aku berdiam diri di samping hujan

ragu untuk melangkah namun resah jika bertahan

meski gerimis dan derasnya adalah keindahan

ada rasa kuatir tenggelam dalam air yang segera menggenang

di mana kah kita saat lagu ini terdengar untuk pertama kalinya?

waktu terus berjalan dan mereka yang diam akan kehilangan

hujan deras bukan hambatan bagi hati yang penasaran

basah kuyup di badan nanti bisa dikeringkan

entah senang atau sesal, itu nanti di bagian kesimpulan

namun, di mana kah kamu saat lagu ini dinyanyikan untuk pertama kalinya?

mengira-ngira dan menduga-duga

adalah penyebab huru-hara

yang dihitung di muka

atas semua tawa dan lara

jadi, di mana kah kamu saat lagu ini dinyanyikan untuk pertama kalinya?

~

(terinspirasi dari lagu Ada di Sana yang dinyanyikan oleh Danilla dalam album Telisik) 

PO

Lalu aku merenung akan banyak hal tentang mengapa banyak sekali yang hilang dariku. Ada yang kudapat jawaban akan penyebabnya, ada yang belum dan ada juga yang rasanya tidak akan pernah kudapat. Namun untuk hal yang satu ini rasanya aku mengerti penyebabnya. Temanku bilang mungkin masih banyak buku yang menumpuk dan belum tersentuh untuk kubaca. Tentunya itu salah karena tidak ada buku yang masih belum kubaca di rumah, tinggal satu buku saja yang bahkan sedang dalam proses baca dan paling lama dalam seminggu akan selesai. Jika sudah selesai, masa PO buku-buku baru itu pun belum usai dan jika dihitung lagi dengan jadwal pengiriman maka aku akan punya waktu kosong sekitar dua minggu tanpa baca buku baru. Bahkan hal itu tidak membuatku “kuatir” karena biasanya aku memang harus mengisi waktu luang untuk membaca – meskipun tidak setiap saat seperti itu ya karena aku kan juga suka main game balap mobil dan tetris di hape (mohon maklum anak jadul) dan main/bikin musik. Namun tanpa baca buku rasanya ada yang kurang “klop”. Jadi, aku sudah siap untuk tidak membaca buku baru dalam waktu dua minggu dan mengambil keputusan untuk berkonsentrasi main/bikin musik saja.

Aku hanya ingin membeli buku secara langsung di toko buku. Ada satu rasa hangat yang tidak tergantikan jika menemukan buku yang kucari, memegangnya, melihat sampul depan, membaca ringkasan di sampul belakang dan kemudian menuju kasir supaya syah untuk bisa membawanya pulang. Lebih asik lagi kalau bisa menemukan dan membawa lebih dari satu buku. Ada sensasi lain yang kurasa, lebih dari sekedar menanti datangnya pesanan. Selain itu, aku juga sedang merasa “kapok” memesan buku lewat website jualan buku internasional langgananku karena keterlambatan pengiriman akibat gangguan covid-19 ini. Yang tadinya “hanya” sekitar 2 sampai 3 minggu pengiriman sekarang bisa mencapai 1,5 sampai 2 bulan! Aku kecewa karena ada tiga buku yang aku pesan – merasa bisa kudapat lebih dulu daripada menunggu kehadirannya di toko buku langganan, ternyata malah toko buku langganan sudah memiliki stoknya sekitar 2 atau 3 minggu lebih cepat dibandingkan dengan tibanya pesananku. Bayangkan, dalam seminggu aku bisa dua kali datang ke toko buku langgananku (di tiap akhir pekan) dan menemukan judul-judul yang sedang dalam penantianku sudah bertengger dengan manis di rak. Amat mengesalkan, bukan?

Meskipun kondisinya tentu berbeda dengan hal PO buku-buku baru yang sekarang ini karena ini merupakan karya penulis lokal dan distribusi bukunya pun akan lokal, aku tetap merasa malas. Mendingan langsung ke toko buku, mencarinya, membayarnya untuk kemudian membawanya pulang. Aku tidak mau berada dalam penantian, meskipun kali ini pasti lebih jelas jadwalnya. Aku tidak mau merasakan kesal lagi meskipun nampaknya tidak akan terjadi, meskipun bisa lebih kesal lagi jika ternyata buku-buku itu tidak dapat kujumpai karena kehabisan stok.

Inilah yang membuatku bingung… Mengapa aku jadi begini?

foto jepretan sendiri

… …

… …

berbulan-bulan terdiam sambil mengira-ngira ke mana hilangnya kata-kata dan sampai saat ini belum juga menemukan karena baru sekedar mengira belum bergerak mencarinya. memang harus bergerak mencari jika ingin menemukan karena kata-kata bukanlah hujan yang turun saat tidak diminta, bungkam saat didamba dan hanya bisa disambut jika memang sudah musimnya.

foto hasil jepretan sendiri