sore menggelap

sore menggelap

dalam secangkir kopi hitam

aroma mengepul pelan

penuhi ruang penuh sekat

mengikat

rindu yang meluap diikat

melayang

bimbang dipisah biarkan terbang

sore menggelap

dalam sebaris nama terucap

harum teringat lamat-lamat

apakah rongga ini sanggup memuat?

mengikat

rindu yang pelik diikat

melayang

tatkala jumpa biarkan terbang

namun kali ini

sore menggelap

dalam secangkir kopi hitam

dalam resah yang menjamu malam

sore menggelap

menanti rindu terlelap

Advertisements

lebih baik

lebih baik

kamu memilih untuk duduk bersebelahan

ketika kita akan menghabiskan sisa waktu

di kedai ini

suatu saat yang sudah begitu lama ditentukan

mencari kesempatan

dalam keterhimpitan

menemukan kesenangan

dalam senyum dilepaskan

“bukankah lebih baik jika kita duduk berseberangan dan saling tatap mata?”

“aku bosan dengan yang lebih baik, aku ingin yang tidak terlalu baik. ’lebih baik’ itu kerap tidak jelas batasannya”

“ah, sesungguhnya cukup jelas koq tapi kita yang suka memudarkannya”

“lebih baik begitu, kan?”

“nah, sekarang kamu setuju dengan ‘lebih baik’”

sesaat tersenyum

kita sepakat akan kata-kata yang penuh siasat

lalu kita melakukan yang lebih baik itu

di pundakku kepalamu rebah

sambil memandang meja yang masih melompong

sambil membicarakan perihal omong kosong

tentang rasa yang manis namun tak selalu frappuccino sarat gula

tentang rasa yang pahit meski tak selalu kopi hitam

tentang jingga di langit sore meski tak melulu senja merona

tentang kerlap kerlip di langit malam meski tak melulu bintang kejora

tentang cinta meski tak selalu mengenai kita

“aku rasa memang lebih baik kita bersebelahan saja”

“apakah kita akhirnya menemukan kata sepakat”

“aku rasa demikian”

“mengapa? ceritakan lah”

“itu masalahnya. ada hal-hal yang lebih baik diutarakan namun ada juga yang lebih baik didiamkan”

“jika diutarakan menjadi jelas, didiamkan akan menjadi bias”

“bisa jadi seperti itu”

“nampaknya kamu memilih untuk membiarkannya bias?”

“dalam kejelasan maka terlihat segala batasan. lalu untuk apa segala siasat itu?”

“maka dengan adanya bias kamu memerlukan siasat itu, demikian kah?

“itu yang membuatku hidup”

“kamu berusaha membuat percik-percik itu sendiri”

“bukankah lebih baik demikian daripada sama sekali tidak ada percikan?”

“hahaha aku mengerti sekarang mengapa kamu akhirnya sepakat denganku”

“coba katakan, aku mau tau”

“mataku kerap menampakkan percikan itu, dan kamu tak ingin. kamu merasa lebih baik kamu yang membuat percikan itu, bukan aku”

“hahaha terdengar ge er ya kamu”

“lebih baik ge er daripada terus tersesat dalam siasatmu”

“dan nampaknya sekarang kamu semakin mengerti siasatku ya”

“aku meminta duduk di sebelahmu karena aku mengerti siasatmu”

“kamu menebak aku?”

“matamu kerap menyerah jika kita saling menatap dan aku tak mau itu. namun kutahu kamu terus bersiasat karena denyut jantungmu terasa lekat”

“ah kamu sok tahu”

“mungkin aku sok tahu, dan mungkin aku salah. maka kuputuskan lebih baik berada di sebelahmu, bersandar, meyakinkan degup itu ada dan membelai pundakku yang memang jatuh di dadamu”

“dan sesungguhnya itu pun siasatku, segala bicara ini adalah supaya kamu bersandar dan merasakanku”

lalu pelayan datang membawa pesanan dan meja di hadapan kita tak lagi melompong

untuk sebentar saja

dalam saat yang sudah lama kita tentukan

Semakin Sering

Semakin Sering

semakin sering kuberdiam saja

saat lagu ini mengalun

lagu kesukaanku

lagu kesukaanmu

lagu kesukaan kita

entah siapa yang lebih dahulu suka

padahal aku sedang duduk membaca

buku dengan cerita yang penuh makna

tak kuasa kuarahkan mata

ke luar sana

melewati jiwa yang berlalu-lalang

dikelabui cinta yang berakhir malang

ah, benar kah malang?

lagu ini sudah empat kali kuputar ulang

padahal baru empat belas baris tertuang

detak jantungmu ketukan yang teratur

nafasmu hangat dekat tengkuk

semarak cinta tertiup menghambur

bahumu ramping

jemari mengalun memetik dawai membaur

tubuhmu merangkum nada dan irama

semesta harmoni menyatu

beragam pesona melebur

selekat itu kumenikmatimu

buku di tangan deret tulisan belaka

penuh makna tapi kurang rasa

itulah mengapa selalu ku ada bersama

mendengar dan membaca

seperti yang kerap kau tanya

saat melihat mataku menerawang jauh ke sana

melewati jiwa yang berlalu-lalang

mendekap cinta yang berakhir malang

ah, benar kah malang?

oh iya

lagu ini sudah sepuluh kali kuputar ulang

entah (lagi)

entah (lagi)

Dalam pelan suara mengencang

Jemarimu yang menekan sumbernya

Rindu bagimu adalah mata terpejam dengan rencana untuk menghilang

Rasa di balik kata mesra yang kau sisakan

Beserta peluk hangat yang tak ingin dilepas

Detik-detik yang didamba tiap-tiap detaknya

Aku tak ingin lagu ini berjalan sesuai dengan cerita yang terbawa

Jangan menjadi serupa dengannya

Siang dan malam tak pernah berjalan bersama

Tak pernah seirama meski waktunya selalu tetap

Demikian pun akan berbeda saat matahari masih enggan berhenti

Atau bulan yang menunda untuk datang kembali

Tapi tetap kita menyebutnya sama

Terang adalah siang

Gelap adalah malam

Dan kita adalah yang hadir di antaranya

Terserak di halaman tak terjamah

Dihempas rencana

Disapu suasana

Rindu bagiku adalah mulut terdiam dengan rencana tak terbilang

sambil membaca

sambil membaca

segelas teh hangat dengan sedikit rasa manis

sengaja kuletakkan di ujung gagang kursi kayu

agar mudah kugapai

saat tubuh bersandar penuh

sambil membaca belasan puisi

yang berupa paku

menancapkan kaki pada jejak pasir yang tak terhapus ombak

dan berupa temali

mengikat tangan pada tiap lembar tertulis

yang menjadi satu dalam kisah yang tak melulu tentang cinta

karena ada benci juga luka

karena ada sesal juga nestapa

dan bantal kursi yang kusandari ini adalah nyamannya jebakan

meski kusadar sedang dipermainkan

namun tak kuasa melepas paku dan ikatan

gerakku terbatas

sejengkal saja

jemariku hanya bisa mengepal dan membuka

sebatas luas telapak tangan saja

tak bisa lebih jauh darinya

maka tepatlah keputusanku

meletakkan segelas teh hangat sedikit manis di ujung gagang kursi

selalu dapat kuraih

tanpa perlu mencabut paku dan memutuskan tali

dan terus bersandar pada bantal kursi

aku tahu telah terlena

namun aku bisa apa

Toleransi Dalam Toilet

Toleransi Dalam Toilet

Sebenarnya udah cukup lama ingin menulis lagi tapi koq ya niat itu tak kunjung dibuahi. Sekali waktu sudah nulis sampai beberapa paragraf, yang jika saja langsung kutuliskan di sini, pasti akan membuat tombol scroll menggulung banyak spasi, sebelum kemudian aku kehilangan mood dan menghapus semua yang sudah tertulis. Terjadi berulang kali. Nampaknya memang aku harus berhenti sejenak dari hobi menulis. Padahal aku bukan penulis yang memang secara rutin harus  menghasilkan tulisan-tulisan yang bisa saja mengakibatkannya terjebak pada rasa bosan. Aku ini bukan penulis, kenapa aku harus bosan? Aku hanyalah sisa-sisa bumbu kacang yang masih nempel di ulekan, begitu saja dilupakan saat ketoprak sudah tersaji di piring…

Lalu tiba-tiba saja aku ingin menulis. Bukan tentang apa-apa. Sekedar menulis tentang hati yang tercabik-cabik karena harga diri yang terasa tak ada nilainya lagi. Continue reading “Toleransi Dalam Toilet”

swerve city

swerve city

jika ada luang dari waktu yang bisa digunakan dalam hitungan satu hari maka akan kuambil dua sampai dua setengah jam setelah memenuhi durasi kerja untuk duduk di lantai bawah gedung tempat kantorku berada. sekedar membaca karya penulis paling disuka yang menurutku nikmat meski bagimu pelik sambil menikmati alunan lagu dari musisi paling disuka yang menurutku nikmat meski bagimu berisik. kata-kata berbaris dalam kalimat mengantri dengan sabar untuk menyampaikan maksud tersurat. notasi berpola membentuk irama mengantri dengan sabar untuk menyampaikan maksud tersirat. kunikmati keduanya, tulisan dan lantunan dengan hikmat yang tak berkurang, tak buyar meski pesona dan wangi larut malam berlalu lalang, seakan berusaha mengingatkan untuk pulang. segera pulang.

aku menikmati

sendiri

belum bosan saat ini

entah nanti

.

.

.

swerve city adalah judul lagu pembuka dalam album “koi no yokan” milik deftones yang tiba-tiba saja membuatku ingin menulis seperti ini saat mendengarnya sambil asik membaca “the white book” karya han kang. deftones adalah band yang paling aku suka namun han kang bukanlah penulis yang paling aku suka, melainkan haruki murakami. aku suka han kang tapi bukan yang paling disuka.

photo by hxgrm (@_hxgrm_)