entah (lagi)

entah (lagi)

Dalam pelan suara mengencang

Jemarimu yang menekan sumbernya

Rindu bagimu adalah mata terpejam dengan rencana untuk menghilang

Rasa di balik kata mesra yang kau sisakan

Beserta peluk hangat yang tak ingin dilepas

Detik-detik yang didamba tiap-tiap detaknya

Aku tak ingin lagu ini berjalan sesuai dengan cerita yang terbawa

Jangan menjadi serupa dengannya

Siang dan malam tak pernah berjalan bersama

Tak pernah seirama meski waktunya selalu tetap

Demikian pun akan berbeda saat matahari masih enggan berhenti

Atau bulan yang menunda untuk datang kembali

Tapi tetap kita menyebutnya sama

Terang adalah siang

Gelap adalah malam

Dan kita adalah yang hadir di antaranya

Terserak di halaman tak terjamah

Dihempas rencana

Disapu suasana

Rindu bagiku adalah mulut terdiam dengan rencana tak terbilang

Advertisements

sambil membaca

sambil membaca

segelas teh hangat dengan sedikit rasa manis

sengaja kuletakkan di ujung gagang kursi kayu

agar mudah kugapai

saat tubuh bersandar penuh

sambil membaca belasan puisi

yang berupa paku

menancapkan kaki pada jejak pasir yang tak terhapus ombak

dan berupa temali

mengikat tangan pada tiap lembar tertulis

yang menjadi satu dalam kisah yang tak melulu tentang cinta

karena ada benci juga luka

karena ada sesal juga nestapa

dan bantal kursi yang kusandari ini adalah nyamannya jebakan

meski kusadar sedang dipermainkan

namun tak kuasa melepas paku dan ikatan

gerakku terbatas

sejengkal saja

jemariku hanya bisa mengepal dan membuka

sebatas luas telapak tangan saja

tak bisa lebih jauh darinya

maka tepatlah keputusanku

meletakkan segelas teh hangat sedikit manis di ujung gagang kursi

selalu dapat kuraih

tanpa perlu mencabut paku dan memutuskan tali

dan terus bersandar pada bantal kursi

aku tahu telah terlena

namun aku bisa apa

Toleransi Dalam Toilet

Toleransi Dalam Toilet

Sebenarnya udah cukup lama ingin menulis lagi tapi koq ya niat itu tak kunjung dibuahi. Sekali waktu sudah nulis sampai beberapa paragraf, yang jika saja langsung kutuliskan di sini, pasti akan membuat tombol scroll menggulung banyak spasi, sebelum kemudian aku kehilangan mood dan menghapus semua yang sudah tertulis. Terjadi berulang kali. Nampaknya memang aku harus berhenti sejenak dari hobi menulis. Padahal aku bukan penulis yang memang secara rutin harus ¬†menghasilkan tulisan-tulisan yang bisa saja mengakibatkannya terjebak pada rasa bosan. Aku ini bukan penulis, kenapa aku harus bosan? Aku hanyalah sisa-sisa bumbu kacang yang masih nempel di ulekan, begitu saja dilupakan saat ketoprak sudah tersaji di piring…

Lalu tiba-tiba saja aku ingin menulis. Bukan tentang apa-apa. Sekedar menulis tentang hati yang tercabik-cabik karena harga diri yang terasa tak ada nilainya lagi. Continue reading “Toleransi Dalam Toilet”

swerve city

swerve city

jika ada luang dari waktu yang bisa digunakan dalam hitungan satu hari maka akan kuambil dua sampai dua setengah jam setelah memenuhi durasi kerja untuk duduk di lantai bawah gedung tempat kantorku berada. sekedar membaca karya penulis paling disuka yang menurutku nikmat meski bagimu pelik sambil menikmati alunan lagu dari musisi paling disuka yang menurutku nikmat meski bagimu berisik. kata-kata berbaris dalam kalimat mengantri dengan sabar untuk menyampaikan maksud tersurat. notasi berpola membentuk irama mengantri dengan sabar untuk menyampaikan maksud tersirat. kunikmati keduanya, tulisan dan lantunan dengan hikmat yang tak berkurang, tak buyar meski pesona dan wangi larut malam berlalu lalang, seakan berusaha mengingatkan untuk pulang. segera pulang.

aku menikmati

sendiri

belum bosan saat ini

entah nanti

.

.

.

swerve city adalah judul lagu pembuka dalam album “koi no yokan” milik deftones yang tiba-tiba saja membuatku ingin menulis seperti ini saat mendengarnya sambil asik membaca “the white book” karya han kang. deftones adalah band yang paling aku suka namun han kang bukanlah penulis yang paling aku suka, melainkan haruki murakami. aku suka han kang tapi bukan yang paling disuka.

photo by hxgrm (@_hxgrm_)

sepersepuluh paragraf

siang ini aku menikmati lagu La Bomba milik Ricky Martin yang sejak pertama kali dipertontonkan lewat vidio klip di tivi swasta belasan tahun yang lalu tak bisa kupungkiri keasikan musiknya meski tak kumengerti apa arti dari tiap kata yang dinyanyikannya namun iramanya membuat diri ini sulit menahan keinginan untuk bergoyang macam orang yang terkejut akibat terkena paparan air yang terciprat dari genangan sehabis hujan reda saat ada motor melintas dengan kecepatan yang sombong dengan suara knalpot yang mengganggu hajat hidup orang banyak.

satu paragraf

satu paragraf

aku setuju saat engkau memintaku untuk keluar dari diam dan sendirian. tempat persembunyian. katamu demikian. siapa tahu itu dapat mengubah cara pandangku atas apa yang selama ini kulihat di dalam terang yang gelap dan di dalam gelap yang kelam. matahari ada di awal siang, bulan ada di ujung malam, semua bersinar namun apalah arti sinar tanpa gelap? itulah mengapa aku mengerti saat engkau memaknaiku terlalu kelam – selain parasku yang memang seram. selama ini aku tidak bersembunyi hanya keberadaanku yang memang tersembunyi. aku bicara layaknya mahluk berusia dan bertingkah layaknya mahluk berupaya. hanya saja saat mereka memintaku menggambar pohon menurut pandanganku, yang terlintas dan tertuang adalah akar, batang, cabang, ranting dan daun dengan tulang-tulangnya. kuhabiskan waktu cukup lama untuk membangun kerimbunan dari puluhan atau ratusan helai daun dengan tulangnya dan melupa dia yang meminta menggambar pohon. aku protes saat dihentikan karena waktu habis sebab menurutku kerimbunan itu belum lengkap karena ada bagian-bagian yang masih terlihat kosong. banyak yang kosong, tepatnya. katamu itu tak mengapa, dan kau meminta kembali alat tulis itu dan menyuruhku keluar untuk melihat pohon yang sesungguhnya, yang membentuk hutan, meski sekarang bukan berwarna hijau melainkan putih, hitam, abu-abu dan tidak rimbun menggunung seperti yang kerap kukhayalkan. aku menoleh ke samping, tiada siapapun. namun di belakang ada jejak namaku yang terlihat berat dan di depan ada waktu yang harus dikejar. engkau menyuruhku keluar dari persembunyian – katamu – yang berupa diam dan sendirian. berbincang dengan semesta. ah ternyata memang tak semua orang bisa mengerti bahwa apa yang kuanggap sebagai semesta adalah tulisan indah yang hanya perlu kubaca dan kutelusuri tiap katanya meski membuatku tak beranjak ke mana-mana namun aku puas sejahtera karena aku tahu bahwa akhirnya akan seperti ini jua. semestaku adalah dia yang merekam langit siang dan malam, dalam ingatannya adalah aku yang mengenal kelam. keluarlah dari tempat persembunyian – menurutmu atas aku yang diam dan bersendirian.