pagi terlambat bangun

hari ini Pagi terlambat bangun

dijerat lengket madu mimpi rencana awal tahun

yang manisnya memenuhi mulut menggerogoti hati

syahdu tirai terbuka, menyingkap pelannya sepi

. . .

tak apa, Pagi pun berhak merasa malas

masa setiap hari mesti rajin dan menyemangati semua jiwa?

masa setiap hari mesti memamerkan harapan?

masa setiap hari mesti menyembunyikan tangisan Malam?

. . . Continue reading “pagi terlambat bangun”

menjadi abu-abu

menjadi abu-abu

menjadi abu-abu adalah pilihan bersemayam dalam ruas waktu

terlihat sedih padahal senang, dikira cemas padahal tenang

terlihat putih padahal muram, dikira terang padahal suram

tertawa pada saat yang tepat, menangis pada saat yang keramat

lebih muda terima saja daripada selalu mendebat

tak perlu susah-susah untuk terlihat hebat

misterius sesungguhnya sekumpulan fakta terikat erat

tak terlihat karena rapihnya permainan kata

menyembunyikan makna, mengubur cinta-cinta

..

Continue reading “menjadi abu-abu”

Siasat Sia-Sia

Siasat Sia-Sia

Sebenarnya lucu. Setelah sekian lama melihat dari suatu jarak sambil terus memasang tanda-tanda tak kasat mata – meski berkeras hati percaya bahwa dia bisa merasakannya, namun ternyata usai begitu saja dalam satu alasan: dia tidak tahu.

Aku bertanya kepada waktu-waktu yang menyelimuti dan menggenangi semua tanda tak kasat mata itu, “Apa yang telah kalian lakukan hingga dia tidak merasakan tanda-tanda yang kutebar di sini, di sana dan di mana-mana?”

Waktu menjawab, “kami memang menyelimuti dan menggenangi semua tanda itu namun kami tak berkuasa untuk menjadikannya sebagai rasa. Kuasa kami sebatas mengukirnya pada dinding yang semakin lama semakin usang.”

Continue reading “Siasat Sia-Sia”

Pada Jalan Pulang

Pada Jalan Pulang

Dalam hal menyusuri jalan pulang, aku melekat pada kursi bis yang tidak dapat benar-benar tegak karena usia yang menua atau mungkin saja dia tertular rasa malas yang diderita tubuh yang membebaninya.

…..

Jalan pulang itu terlihat sekarang, berisi hamparan kelabu mendung di sore, kumpulan asap buangan dan sisa-sisa luka cemburu yang menguap secepat kaki melangkah keluar dari bangunan tempat ego dan harga diri digadaikan.

Ketika kulihat datangnya yang kutunggu, nafasku lega dan di sinilah kusandarkan tubuh, setengah rebah setengah berkeluh kesah.

Dan lewat jendela kaca yang luas kulihat jalan panjang itu, sambil menghitung berapa kali kudilewati kesempatan semu dan melewati kenangan sendu.

Semua begitu terburu-buru, cepat melaju, secepat cinta membawa haru.

Ah, sudahlah. aku mau tutup mata dulu…

(foto: hasil jepretan sendiri, tadinya ngerasa ga perlu untuk tulis gini tapi kuatir dianggap ngambil gambar orang lain tanpa ijin.)

kipas angin

kipas angin

kipas angin

tergantung dalam diam

dalam satu tekanan pelan saja

dia kemudian bergerak perlahan

dalam dua tekanan pelan

lambat laun mulai cepat

dalam putaran

baling-balingnya kemudian tak terlihat

selain bayang-bayang

“terlalu kencang angin itu. pelankan sedikit”

putaran melambat

bayang-bayang tersibak

baling-baling mulai terlihat

sunyi berdesis dalam gerak

“segini baru pas. terasa sejuk angin itu”

aku tersenyum

memiliki kuasa untuk menyalakan, mengencangkan, melambatkan putaran

dari kipas angin

yang tergantung di langit-langit

yang tak akan kemana-mana

kecuali aku memindahkannya