demi semangat ngantor

demi semangat ngantor

buatku, pergi ke kantor adalah suatu kewajiban yang amat tak menyenangkan tapi harus dilakukan biar dapet gaji karena itu aku harus memutar otak mencari atau melakukan sesuatu supaya ada semangat untuk menjalankannya.

di tempatku bekerja sebelumnya – saat batik belum menjadi “trend”, ada “keharusan” untuk berpakaian formal yaitu memakai kemeja lengan panjang yang dimasukkan ke dalam celana “bahan”, memakai sepatu pantopel (gimana sih nulisnya?) dan yang paling “mengesalkan” adalah memakai dasi. well, bisa dimaklumi sih, soalnya aku bekerja di bidang finance/accounting di perusahaan inggris yang memang punya budaya aristokrat tapi tetap saja rasanya itu berlebihan buatku. hanya di hari jumat saja boleh tampil casual dengan memakai polo shirt atau kemeja lengan pendek (tidak boleh kaos), blue jeans dan sepatu keds. itu lah sebabnya aku hanya senang bekerja di hari jumat hehehe…

tapi aku harus lebih kreatif supaya bisa tetap semangat bekerja di hari senin sampai kamis. salah satunya adalah dengan mengakali pakaian biar terlihat tetap formal namun sedikit lebih santai. saat itu batik memang mulai lebih banyak digunakan namun belum menjadi “trend” dan sebenarnya aku sendiri kurang suka karena terlihat kuno. saat aku perhatikan ternyata kalau pakai batik itu tidak ada keharusan untuk dimasukkan ke dalam celana, berbeda dengan pemahaman aku saat masih sekolah dulu yang setiap hari jumat harus memakai batik seragam dan tetap harus dimasukkan ke dalam celana. maka aku merasa mendapat ide baru untuk bisa tetap semangat bekerja di senin sampai kamis: memakai batik.

maka aku mulai sering memakai batik lengan pendek ke kantor dan dengan perasaan hati yang lebih santay, meski awalnya suka dikomentarin “tumben amat, mau ke maneeee?”…. beruntungnya batik kemudian menjadi trend fashion. semakin banyak orang yang memakai batik untuk ngantor, bahkan beberapa perusahaan malah menetapkan kewajiban memakai batik pada hari-hari tertentu. ada juga yang bikin seragam batik. mantab jiwa. bos bule di perusahaan tempat aku bekerja itu juga tergila-gila dengan batik dan malah sempat punya ide untuk membatikkan kantor di hari jumat. suatu ide yang justru aku sangat tentang karena hari jumat kan adalah waktu untuk tampil supercasual. hehehehe…

namun tetap saja buatku hal tersebut masih kurang menyenangkan, kurang menghibur, aku perlu sesuatu yang lebih ciamik yang akhirnya kuputuskan untuk mengaplikasikan kesukaanku akan skate shoes / sneakers juga dalam padu padan busana kerja. untungnya skate shoes ku semuanya berwarna dasar hitam sehingga dengan mudah bisa kugunakan sebagai sepatu kerja sehari-hari. sebenarnya ada alasan lain yang rasanya lebih valid yaitu karena kakiku yang punya struktur lebar di depan kaya kaki bebek dengan telapak kaki yang flat maka skate shoes adalah pilihan yang tepat buatku. tahun-tahun berlalu, aku sudah lama pindah kerja dan malah sekarang aku agak jarang pakai batik karena busana semi-casual sudah lebih bisa diterima. cukup dengan pakai kemeja kotak-kotak dan chino pants dengan tetap memakai skate shoes warna hitam, kujalani kewajibanku sebagai karyawan dengan seharusnya.

seiring bertambahnya usia, aku merasa sudah terlalu banyak warna hitam di tumpukan kaos, celana dan sepatu. rasanya ingin punya sesuatu yang lebih berwarna tapi tetap bisa dipakai untuk bekerja (baca: tidak menyolok saat dipakai kerja). akhirnya aku membeli sepatu yang berwarna mentereng dengan tujuan supaya bisa kupakai saat ngantor di hari jumat. tapi akhirnya malah hanya aku pakai saat jalan-jalan di weekend saja karena kalau untuk dipakai ke kantor – bahkan di hari jumat sekali pun – rasanya terlalu mencuri perhatian. lalu karena jadwal kerja yang mengharuskan ku masuk pada tanggal genap saja, otomatis tidak selalu hari jumat aku akan ngantor, tergantung tanggalnya saja. maka sepatu itu rasanya tidak akan punya sejarah pernah kupakai ke kantor. kukasih tahu saja ya, warnanya adalah kombinasi biru dan kuning. drastis banget kan untuk orang yang mengenal aku yang berkulit hitam dan selalu tampil hitam-hitam ? mereka pasti akan syok. ahahahaha….

suatu saat ketika sedang iseng melihat-lihat sepatu, aku terpana oleh penampilan suatu dunk low karena ada kombinasi yang seimbang antara warna dasar gelap dan coklat terang. rasanya cukup okay untuk bisa dipakai ke kantor, cukup outstanding namun tidak menyolok. awalnya aku masih berpikir untuk beli warna lain yang bisa dipakai untuk ngantor di hari jumat. namun saat istriku melihatnya dia malah bilang sepatu ini okay banget dengan pertimbangan ada warna gelapnya jadi bisa dipakai lebih sering untuk ngantor. jiwaku terusik, benar juga ya, kenapa tidak kubeli yang sekalian bisa kupakai ngantor setiap hari? tiba-tiba aku teringat bahwa sepatu ini warnanya senada seirama seiya sekata sepakat sepaket dengan satu – dua kemeja batik yang sering kupakai ngantor. malah rasanya masih bisa ditoleransi jika kupadu padan dengan kemeja gelap lainnya. namun rasanya memang lebih asik lagi jika sepatu itu kupadu padan dengan batik. kesannya cross-over gitu kan? ahahahahaha!

tekadku amat kuat. keputusan sudah bulat. sepatu mentereng tak lama mendarat. kemeja batik dan sepatu sungguh memiliki warna yang sepakat! aku kembali ngantor dengan penuh semangat!

cocok banget kan warnanya?

ini yang mentereng sekali, bisa pingsan mereka melihat om om hitam hitam tampil dengan sepatu ini ahahaha..

lain daripada yang lain

mari mencari jati diri

lewat tulisan berkosakata sulit yang didapat seketika membuka kamus bahasa sendiri

supaya terbaca elit dan mumpuni

lalu disebut sebagai manusia jaman sekarang yang mampu menghasilkan karya hebat meski dengan kualitas yang entahlah

mari mencari jati diri

lewat kunci-kunci nada yang didapat seketika membuka buku cara singkat menguasai alat musik dalam 24 jam

supaya terlihat gaya yang sedap saat jemari membentuk posisi yang sulit

dan progresi chord tak lazim mampu menghasilkan lagu yang tak umum

unik meski dengan kenikmatan yang entahlah

mari mencari jati diri

lewat kaos-kaos yang memuat nama band idola

entah idola kita sendiri atau orang lain

entah dimengerti atau sekedar pernah dengar

atau sekedar tahu bahwa band itu sedang naik daun

dan kita mesti berada di dalam lingkaran terluar ketenaran itu: penggemar yang dengan cepat merasa sangat mengenal idola hanya karena pernah sekali dua kali swafoto

mari mencari jati diri

lewat maha karya para jumawa yang telah dijadikan referensi oleh banyak pribadi maupun institusi

jangan sampai kita tidak berada dalam tingkat pemahaman yang sama dengan mereka yang menyebut-nyebut nama peraih nobel sastra saat di toko buku yang kita datangi demi mencari cerita komedi penghibur hati yang sedang pedih

mari mencari jati diri

eh, ada yang kurang

mari mencari jati diri sendiri

karena dari tadi nampaknya ingin menjadi orang lain

(… tulisan ini tersimpan di dalam draft sejak november 2019 dan aku sedang iseng melihat-lihat apa yang pernah aku tulis dan merasa sulit percaya bahwa semua itu benar-benar pernah aku tulis… jadi mumpung aku sedang mampir maka kuputuskan untuk post tulisan ini meski entahlah… dan foto yang terlihat di sini adalah hasil jepretan diri sendiri)

bukan urusan

bukan urusan

di atas kain putih peluh tertumpah

ruang dingin tempat panas terus meruah

jiwa-jiwa yang merindukan jatuhnya langit

mengerang pelan senandungkan bait-bait

atas awan tebal yang menggelayut di padang rumput hitam

atas kepercayaan yang belum khatam

lonjakan itu adalah pertanda

jangan sesali penolakan yang pernah ada

berharap kembali adalah sia-sia

merekam biru langit bukan urusan kita

~

aku terbangun pukul tiga dini hari dengan peluh membasahi dada kemudian memandang dalam gelap kipas yang terus berputar meski banyak debu menempel yang menyebabkan anginnya menjadi tidak terlalu terasa, lalu menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang tak pernah dijawab bahkan tak perlu dijawab.

~ gambar hasil jepretan sendiri ~

Sbux (depan) Kino PS

Sbux (depan) Kino PS

Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya bahwa aku sangat sering ke Plaza Senayan (PS) dan setiap kali ke sana tidak boleh lupa untuk mampir ke Kino PS dan Starbucks yang ada di depannya (untuk selanjutnya disebut Sbux Kino), maka aku terkena gelombang kesedihan yang kedua kalinya karena Sbux Kino menyusul senior-nya di lantai 5 PS berhenti beroperasi. Tanggal 31 Maret Kino PS terakhir beroperasi, maka tanggal 10 April adalah hari terakhir Sbux Kino beroperasi. 10 hari adalah jarak yang cukup untuk memberikan kesedihan bertubi-tubi. Jika di hari terakhir beroperasinya Kino PS masih didatangi oleh pembeli yang mendadak banyak dan mereka tetap beroperasi sampai akhir jam operasional PS, maka Sbux Kino malah sudah selesai di sekitar jam 3 sore.

Situasi Sbux Kino menjelang berakhir masa operasionalnya relatif sepi. Aku rasa memang ada sebab akibat dengan tutupnya Kino PS. Pada tanggal 3 dan 4 April aku berkunjung untuk menikmati sepinya Sbux Kino, dengan leluasa bisa memilih kursi mana yang mau aku duduki. Biasanya selalu ramai, jam berapa pun aku datang hanya bisa pasrah balik arah karena sudah penuh dan kalau pun ada yang kosong aku tidak bisa memilih tempat duduk yang kumau. Namun di tanggal 3 dan 4 April, aku menikmati duduk-duduk di kursi yang kusuka, minum kopi makan kue baca buku dan main game di sana dengan rasa nyamaaan banget karena sepi. Rasa yang muncul di hati berkecamuk antara senang tapi sedih, sedih tapi senang. Saat itu aku masih berpikir “ah paling tidak Sbux Kino masih buka dan aku bisa santai duduk di sana tanpa harus bingung mau cari tempat lagi”. Sebenarnya di PS lantai 1 masih ada Sbux Reserve namun di samping selalu ramai, aku tidak terlalu suka dengan vibe-nya, dengan mood-nya. Rasanya “kekinian banget”, sementara kalau di Sbux Kino lebih oldskool. Masih mempertahankan gaya gerai jaman dulunya. Tidak “remang-remang” dan seperti apa adanya aja. Ga digaya-gayain (kayaknya sih ya…). Aku lupa sudah berapa lama Sbux Kino beroperasi namun sejauh yang dapat kulihat dari foto-foto di Instagram, tahun 2011 sudah ada. Paling tidak sepuluh tahunan lah ya aku kenal dan bergaul dengan Sbux Kino. 

Seingatku, di Sbux Kino cukup banyak tulisan yang kuhasilkan, tempat menghabiskan berlembar-lembar halaman fiksi, beberapa foto diecast yang suka kucelupkan ke dalam minuman atau kutaruh di atas makanan (sempat menjadi ciri khasku dalam foto-foto diecast di IG) dan beberapa kali menjajaki cinta dengan wanita yang berbeda hihihihihi… Lucunya, dahulu barista-baristanya agak “jutek” – nampaknya kan memang sempat ada masanya barista-barista Sbux terasa agak “belagu” – namun tidak menyurutkan kesenanganku untuk berlama-lama di sana dengan tetap tidak lupa memesan minuman beberapa kali seiring lamanya durasi me-time-ku. Flat White adalah minuman kesukaanku di sana yang selalu dihidangkan dalam gelas putih pendek namun besar, if you know what i mean. Kopi dan musik adalah kimia sejati bagiku dan situasi yang nyaman adalah pelengkap kenikmatan.

Lalu tanggal 10 April sekitar jam 3 sore aku mengunjunginya. Dengan segala rencana yang sudah ada di dalam kepala untuk mencoba aksessoris baru nintendo switchku dan bertanding dengan Jueng, melangkah masuk dengan yakin ke dalam Sbux Kino dan melihat hanya ada sepasang anak muda yang asik membuka laptopnya dan seorang pria memakai topi yang duduk saja. Tanpa curiga aku segera mengatur-atur posisi duduk yang nyaman dan mengisi ulang saldo Sbux Card sambil kemudian melihat-lihat keadaan sekitar. Barulah kusadari ternyata situasi terasa agak gelap karena food display dan tempat barista-nya tidak dinyalakan lampunya. Bahkan food display-nya pun sudah kosong, mesin kasir pun tidak dinyalakan. Terkejut aku saat melihat para barista tidak berada di posisi “yang seharusnya” namun malah saling ngobrol. Aneh.

Baru saja aku mau bertanya mengenai keanehan ini, baristanya langsung menghampiriku sambil bilang “Maaf, Pak Joe, kami sudah tutup dan mulai sekarang kami tidak beroperasi lagi” (karena sering banget datang maka aku cukup dikenal oleh para baristanya). Yang aku dengar hanya “kami sudah tutup” namun koq rasanya ada lanjutannya ya… maka kutanyakan lagi untuk jelasnya dan kembali mereka bilang “iya Pak Joe, mulai hari ini kami sudah tidak beroperasi lagi. Gerai ini tutup”. 

Aku kaget setengah mati… Koq jadi gini amat ya… Aku ga sadar ternyata suara kagetku cukup besar dan mendadak rasa sesak memenuhi dada. “Kenapa?”, hanya itu yang bisa kutanyakan. Mereka hanya menjawab tidak tahu tapi katanya seluruh lantai 5 PS itu akan ditutup dan direnovasi. Lalu aku tanya kemungkinan Sbux Kino buka lagi namun mereka tidak bisa memastikannya. Ah… aku ga bisa berkata-kata… rasanya sedih sekali. Dua tempat kesukaanku harus tutup dan dalam jarak waktu yang sangat dekat. Double blow. Koq gini amat ya… Ada apa sih sebenarnya? Kenapa sih tempat-tempat yang berarti banget buat aku malah harus hilang?

Lalu para barista itu mengajak aku untuk melakukan sesi foto terakhir di sana, mungkin karena melihat kesedihanku ini. Akhirnya kami membuat beberapa foto terakhir bersama di sana. Tanpa sengaja juga ternyata kami memakai hitam-hitam semua, padahal kan barista ada bajunya yang warna putih atau celananya yang warna krem – hanya Jueng yang pakai kaos warna merah. Warnanya muram sekali ya. Kaya rasa sedihku. Salah seorang barista meminta bantuan pada pria yang memakai topi dan duduk duduk sendirian saja untuk membuat foto kenangan kami. Bergantian menggunakan HP mereka dan HP ku sendiri. Maka jadilah dua foto terakhir berada di Sbux Kino, kenangan bersama para barista. Lalu aku tanyakan apakah mereka akan terus bekerja, syukurnya mereka lanjut bekerja namun dipindahkan ke gerai-gerai yang berbeda. Tidak satu team lagi. Ah tidak apa-apa lah ya yang penting mereka masih bekerja.

Akhirnya, kubereskan tas dan isinya yang sudah sempat kukeluarkan. Lalu mengucapkan salam perpisahan dengan para barista. Kupandangi Sbux Kino untuk terakhir kalinya dengan rasa masih tidak percaya. Kuambil beberapa foto terakhir untuk mengenangnya bahkan sempat terekam saat dua baristanya mulai mengangkat barang-barang yang ada. Sedih sekali.

Terima kasih atas semua kenyamanan, kesenangan dan kenangan yang sudah kurasakan, Sbux Kino! Semoga nanti saat renovasi lantai 5 PS sudah selesai, gerai-mu menjadi lebih nyaman dan menjadi tempat yang asik buat me-time pria menjelang uzur ini. Sampai jumpa lagi!

epilogue:

Kino PS sudah tutup, Sbux Kino pun tutup. Lalu ke mana lagi tujuanku jika ke PS? 

Kino PS

Kino PS

saya lupa sejak kapan menjadikan Kinokuniya Plaza Senayan (Kino PS) sebagai toko buku paling disuka. yang pasti saya termasuk salah satu dari mereka yang rajin datang untuk sekedar melihat-lihat juga tentunya membeli buku saat ada uang. lupa sudah berapa lama Kino PS ini beroperasi membuat saya googling dan menemukan bahwa 22 tahun lah lamanya. 22 tahun yang lalu usia saya sekitar 22 tahun. namun yang dapat saya ingat adalah saya mulai rajin ke sana saat sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri dan sudah di perusahaan yang kedua, sekitar tahun 2001 (20 tahun yang lalu) dan semakin mengakrabkan diri dengannya sekitar tahun 2004 (17 tahun yang lalu) saat sudah bekerja di perusahaan ketiga, karena gaji naik jadi punya penghasilan lebih banyak untuk bisa beli buku.. hehehehe…

20 tahun itu menghasilkan cukup banyak buku dan komik hardcover yang mengisi lemari di kamar. selain buku dan komik, 20 tahun itu menorehkan banyak kenangan pribadi, khususnya masalah percintaan ahaahahaha… Kino PS adalah tempat janjian, jadian, senyuman, putus harapan, kegagalan, kesedihan dan kembali menyulam harapan. yang paling nikmat adalah setelah beli buku langsung menuju gerai starbucks yang ada tepat di depannya. sering saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk duduk baca, bahkan ada buku yang langsung selesai saya baca – sekali duduk saja di sana. buat saya, menyendiri sambil membaca buku (dan mendengar lagu dan minum kopi dan makan cemilan) adalah me time ternikmat.

per hari ini Kino PS sudah tutup. kemarin, 31 maret 2021 adalah hari terakhir mereka beroperasi dan ramai sekali. rasanya tak pernah seramai ini sebelumnya jika sedang tidak ada acara apapun di sana seperti peluncuran buku baru atau acara komunitas. kemarin ramai sekali sampai ada antrian orang yang mau masuk karena harus bergantian padahal tidak ada diskon buku lhow dan saya melihat orang-orang yang memborong banyak buku, ada yang sampai dua keranjang sekaligus… saya sendiri membeli tiga buku saja, dua di antaranya buku yang belum saya punya dan satu adalah buku yang sudah saya punya namun dengan edisi berbeda. memang saya sudah meniatkan diri harus membeli buku untuk menyempurnakan perpisahan dengan Kino PS sekaligus mengukir kenangan terakhir belanja di sana. antrian di kasir cukup panjang, rasanya lebih dari 30 menit dalam antrian. untung saya ditemani Dia jadi kami berbagi tugas, Dia mengantri dan saya berkeliling toko dan mencoba mengambil beberapa foto terakhir. agak sungkan untuk foto-foto tapi demi kenangan terakhir ya saya niatkan saja. Dia nampaknya mengerti “ikatan emosional” dengan Kino PS maka membiarkan saya berkeliling. Kino PS sudah dikurangi setengah areanya dibandingkan dengan 2 (atau 3) tahun yang lalu, saat masih luas, banyak titik nyaman buat duduk dan lebih beragam pemandangannya. saya seperti flashback dan dada terasa sesak. sedih sekali. lebay? tidak apa-apa. apa yang saya rasakan kan tidak mesti sama dengan kalian.

saat tiba giliran di kasir, saya menyempatkan diri untuk bertanya kepada kasirnya alasan penutupan toko ini – meskipun sudah tahu karena mencari info via google. mba kasir hanya menggeleng kepala dan dengan suara pelan mengatakan tidak tahu. saya sedih membayangkan apakah setelah ini dia dan karyawan lainnya masih terus bekerja atau tidak. semoga saja mereka akan terus bekerja dan mendapatkan pekerjaan yang baik. masa pandemi ini benar-benar bikin susah…

usai transaksi saya dan Dia tidak langsung keluar tapi kembali mengitari, memandangi dan menikmati Kino PS untuk terakhir kalinya. melihat seorang karyawati yang ada di dekat rak buku bagian depan, saya mengajaknya ngobrol sedikit dan dia pun seperti mengerti kesedihan kami (juga banyak orang lainnya). lalu saya meminta bantuannya untuk mengabadikan foto kami berdua. rasa terima kasih yang banyak dan tulus kami ucapkan ke mba itu yang kami anggap sebagai perwakilan dari Kino PS.

lalu kami jalan ke luar dengan hati yang sangat sedih, membayangkan bahwa nantinya kunjungan ke PS tidak akan terasa sama lagi…

akhirnya, terima kasih Kinokuniya Plaza Senayan atas segala cerita dan kenangan selama 20 tahun kemarin. sedikit banyak melalui buku-buku yang kalian sediakan dan lorong-lorong dan kursi-kursi dan aroma kayu dan warna-warni sampul buku dan suasana hangat dan rasa nyaman itulah yang memberi andil dalam membentuk pribadi saya menjadi seperti sekarang ini.

saya akan sangat merindukan semua hal tentangmu, Kino PS.