putih kelabu

putih kelabu

masihkah sama

wangimu yang putih kelabu

dengan aroma senja muda

bahkan saat air dan busa belum membasuh

bahkan saat garam yang basah luber menembus kain penyembunyi lekukmu

masihkah sama

gemetarmu tatkala hasrat ini mencari jalan keluar dari perangkap yang terletak di antara bukit dan lapangan hijau

dan nyanyian hewan yang terbang di langit dan melata di tanah menandakan waktu yang berkali-kali berganti

masihkah sama

merah merembes di atas sayapku yang tertancap erangmu bersama seratus maaf terucap meski kerap terulang

saat matahari melumat setiap rindu dendam

dan bulan mengobati luka-luka dengan hembus dingin nafasnya yang berwarna putih kelabu

Advertisements

buram

buram

lewat imajinasi yang buram

kujawab segala yang kau tanyakan

senyap dan gempita

air mata dan tawa

satu dua dan tiga

pada hitungannya ada bergerak juga diam

tidak kah lelah?

aku pun pernah menanyakannya

pada sisi sebelah sini dan sana

selain yang sedang kudiami

selain yang sedang kunanti

namun jawab selalu tak pasti

sementara rona merah di langit membuahi khayalku

lewat tulisan-tulisan aku mengirim cinta

bunga mekar di atas luka

kembang layu disembunyikan bahagia

dan kala sore habis bersama sisa-sisa matahari

aku mengais khayal pada tumpukan mimpi

kupilih-pilih meski tak akan kuberi

karena percuma adanya

khayal sekedar mimpi buatan

karenanya aku suka berada dalam wadah yang buram

tertutup walau sedikit terlihat

sebatas bentuk terluar dari penampilan

sejauh khayal terliar dari keinginan

dan bukan tanggungjawabku untuk menyatakan

hal terdalam yang kerap kau pertanyakan

benih

benih

benih-benih bintang jatuh

bertumbuh pesat di matamu

bulat nan cerah

menyala penuh pikat

membesar, melesat mengukir jejak

di mataku yang sulit menangkap

gerakmu memancing bimbang merebak

meski selalu engkau mengajak

dalam suatu jarak

adalah cara yang tepat untuk menikmatinya

tak kehilangan kesempatan untuk melihat

awalnya juga akhirnya

pada tiap rindu yang kau selipkan

dan tiap resah yang kau tinggalkan

benih-benih bintang jatuh itu telah menjadi pohon rimbun dalam mata yang hitam

kelak

kelak

di masa yang akan datang

kelak kau tak akan sedih meradang

saat peluk merenggang

tangan tak saling genggam

mata tak saling memandang

bicara tak lagi berimbang

kata-kata tak berbalas

cemas-cemas tak beralas

di masa yang akan datang

kelak kau akan tersenyum lapang

mengingat peluk yang merenggang

mengingat tangan yang tak saling genggam

mengingat mata yang tak saling memandang

melupakan bicara yang tak berimbang

melupakan kata-kata yang tak berbalas

melupakan cemas-cemas yang tak beralas

itu semua adalah pikiran-pikiran

di masa yang sekarang

siasat menghadapi kenyataan

bisa disebut itu adalah latihan

menanggulangi sedih bukan buatan

di masa yang akan datang

kelak kita menghilang di dalam ucapan

“semua demi kebaikan”

menjelang agustus

menjelang agustus

bendera negaraku

kembali dijajakan oleh mereka yang mencari nafkah dengan keringat

bendera negaraku

kerap dipermalukan oleh mereka yang kelebihan nafkah tanpa berkeringat

bendera negaraku

tak pernah tahu apa-apa selain berkibar seturut angin yang berhembus

semoga para koruptor MATI MEMBUSUK di tahanan yang pake AC, ada kulkas, ada water heater, ada tv dan ada alat-alat rias…

bagi mereka

bagi mereka

rasa pahit itu

tak selamanya menjadi musuh

bagi mereka yang mencari manisnya cerita di ruas-ruas rindu menggebu yang tersirat pada kecup dan tubuh yang dibasahi tetesan keringat dalam gerak usang maju mundur naik turun yang kerap disebut tidak ada tujuan

rasa pahit itu

tak selamanya menjadi musuh

bagi mereka yang penah mengecap manisnya cerita pada lipatan-lipatan kisah yang tergurat pada luka-luka tubuh dibasahi tetesan keringat setelah gerak usang naik turun maju mundur yang kerap dinilai tidak ada tujuan

rasa pahit itu

tak selamanya menjadi musuh

bagi mereka yang saling merebahkan tangan pada detak jantung di dalam tubuh yang basah oleh tetesan keringat selewat gerak usang berulang-ulang pengirim senyum hangat tanda rasa yang telah diterima

rasa pahit itu

adalah pijak awal

permulaan segala pencarian

janganlah melulu dijauhkan

dan siapa bilang gerak usang itu tidak memiliki tujuan?

pastilah itu diucapkan oleh mereka yang belum pernah menemui kepuasan

mereka, yang memusuhi rasa pahit itu