sepersepuluh paragraf

siang ini aku menikmati lagu La Bomba milik Ricky Martin yang sejak pertama kali dipertontonkan lewat vidio klip di tivi swasta belasan tahun yang lalu tak bisa kupungkiri keasikan musiknya meski tak kumengerti apa arti dari tiap kata yang dinyanyikannya namun iramanya membuat diri ini sulit menahan keinginan untuk bergoyang macam orang yang terkejut akibat terkena paparan air yang terciprat dari genangan sehabis hujan reda saat ada motor melintas dengan kecepatan yang sombong dengan suara knalpot yang mengganggu hajat hidup orang banyak.

Advertisements

satu paragraf

satu paragraf

aku setuju saat engkau memintaku untuk keluar dari diam dan sendirian. tempat persembunyian. katamu demikian. siapa tahu itu dapat mengubah cara pandangku atas apa yang selama ini kulihat di dalam terang yang gelap dan di dalam gelap yang kelam. matahari ada di awal siang, bulan ada di ujung malam, semua bersinar namun apalah arti sinar tanpa gelap? itulah mengapa aku mengerti saat engkau memaknaiku terlalu kelam – selain parasku yang memang seram. selama ini aku tidak bersembunyi hanya keberadaanku yang memang tersembunyi. aku bicara layaknya mahluk berusia dan bertingkah layaknya mahluk berupaya. hanya saja saat mereka memintaku menggambar pohon menurut pandanganku, yang terlintas dan tertuang adalah akar, batang, cabang, ranting dan daun dengan tulang-tulangnya. kuhabiskan waktu cukup lama untuk membangun kerimbunan dari puluhan atau ratusan helai daun dengan tulangnya dan melupa dia yang meminta menggambar pohon. aku protes saat dihentikan karena waktu habis sebab menurutku kerimbunan itu belum lengkap karena ada bagian-bagian yang masih terlihat kosong. banyak yang kosong, tepatnya. katamu itu tak mengapa, dan kau meminta kembali alat tulis itu dan menyuruhku keluar untuk melihat pohon yang sesungguhnya, yang membentuk hutan, meski sekarang bukan berwarna hijau melainkan putih, hitam, abu-abu dan tidak rimbun menggunung seperti yang kerap kukhayalkan. aku menoleh ke samping, tiada siapapun. namun di belakang ada jejak namaku yang terlihat berat dan di depan ada waktu yang harus dikejar. engkau menyuruhku keluar dari persembunyian – katamu – yang berupa diam dan sendirian. berbincang dengan semesta. ah ternyata memang tak semua orang bisa mengerti bahwa apa yang kuanggap sebagai semesta adalah tulisan indah yang hanya perlu kubaca dan kutelusuri tiap katanya meski membuatku tak beranjak ke mana-mana namun aku puas sejahtera karena aku tahu bahwa akhirnya akan seperti ini jua. semestaku adalah dia yang merekam langit siang dan malam, dalam ingatannya adalah aku yang mengenal kelam. keluarlah dari tempat persembunyian – menurutmu atas aku yang diam dan bersendirian.

Di Langit Yang Kau Rekam

pada satu masa harus ku mengangkat wajah

melayangkan pandang pada awan putih

berarak-arak di atas sana

untuk sekedar merasa

kenikmatan yang kau dapat dari merekam langit

kata sudah dipilih

kalimat sudah dirangkai

tanya sudah ditulis

meski harap sudah dilupa

awan bergerak bagaikan waktu

pelan nan syahdu

terlihat jelas di langit biru

terekam jelas di hati rindu

kata-kata adalah mimpi yang dijebak ragu

menyerahkannya adalah tak mudah bagiku

hanya dapat kulepas terbang

menguap melayang

menjadi awan di langit yang kerap kau rekam

Lalu

pengakuanku pada hitamnya malam

yang diterangi secercah sinar dalam ingatan-ingatan

yang liar berkumpul jadi satu

yang diam-diam berpencar jadi seribu

lidah yang kelu

gerak yang kaku

tak lain hanya satu,

“aku tak tahu malu”

pengakuanku pada terangnya malam

yang pelan menuju kelam dalam hilangnya gores tulisan

di halaman yang penuh catatan

di halaman yang penuh daun berguguran

lidah meregang pilu

gerak canggung menyapu

tak lain hanya satu,

“aku tak tahu malu”

dinding usang

sudut dinding yang mengelupas

teguh dalam terpa panas dan hujan meski banyak yang terlepas

bergeming, tiada tanda bergeser akan ditemukan

padanya letak tiang-tiang mimpi sangga harapan

menjadi usang adalah suratan

punah hanya jika dirubuhkan

dan kupastikan kau butuh banyak kekuatan

untuk menjatuhkan hati bersalut rindu dendam

lagu cinta sampai mati

sekali waktu biarkanlah dirimu terdiam mendengarkan lagu yang paling kau suka, nada-nada yang paling kau puja dan irama yang paling kau cinta

lirik? oh jangan pernah kau lupa…. yang selalu kau rindu telah menjelma dalam kata dan rima, meski tak di sisi namun dia hadir di sana

di depan mata rasa, menghadap rahasia

karena meski dia dekat namun tak selalu dapat ditebak langkahnya, hanya lagu yang terekam yang dapat dinikmati berulang kali dan membangkit nuansa yang sama di hati

jatuh cinta lagi

pada masa yang berhenti dalam syahdu, berbalut senyum merayu, senja menghatur salam merindu

dua lagu ini, aku tahu akan mencintainya sampai ku mati