kopi murakami

kopi murakami

orang yang suka menyendiri, hidup sendiri dan merasa sendiri selalu menjadi tokoh penting di cerita-cerita karya haruki murakami dan entah mengapa aku sangat suka

dalam kesendirian banyak banget hal yang menarik dan bisa dinikmati dengan detail dan syahdu sekaligus memberi bukti bahwa pikiran bisa membawa diri pergi tanpa dibatasi oleh apapun dan tanpa ada tekanan untuk harus mengerti segala sesuatu karena segala sesuatu akan datang pada saatnya sendiri

apalagi jika ditemani kopi

udah gitu aja

Jangan

Jangan

dari tengah laut yang penuh dengan ombak kita mendengar “selamat datang, silahkan menetap dan menikmati hempasnya pada kaki saat riak besar dan kecil ini berhasil menyentuh pantai”

kaki kita penuh debu persembahan siang dan malam yang panjang, berjalan di lembar-lembar tipis harapan yang berulang koyak jika dipijak terlalu dalam

“jangan pergi, jangan menghilang” kerap terdengar saat berusaha menutup robekan-robekan dengan lengketnya air mata resah yang penuh marah dan darah

“aku tahu air mata itu, aku tahu resah itu, aku tahu marah itu. aku kenal darah itu” terucap tanpa suara saat melihat ternyata robekan-robekan itu justru sengaja dibiarkan terbuka

meniti lembar-lembar tipis selanjutnya yang ternyata tak lagi koyak membuatku tiba di pantai, tempat laut melepas ego dalam hempasan ombak yang kadang kencang kadang pelan, membasuh debu di kaki yang kemudian kusadari tinggal sendiri

dari tengah laut yang penuh dengan ombak aku mendengar “selamat tinggal, silahkan pergi karena debu siang dan malam yang panjang sudah dibasuh oleh ombak yang juga menggulungnya seiring berakhirnya kata cinta yang kau pikir masih ada”

“jangan pergi, jangan menghilang” sayup teringat dan aku bertanya pada pecahan karang yang terdampar di samping kaki “siapa yang pergi, siapa yang menghilang”

epilogue:

“aku mau tanya supaya tidak salah kira, apakah masih ada cinta?”

“tidak”

hujan hanya sekejap

hujan hanya sekejap

ketika rintik terdengar

kaki segera melangkah keluar

melihat dan menyapa gerimis

di terik siang yang belum habis

dalam waktu tak lama

langit terang digelayuti mendung

panas diurai oleh manisnya rencana

lidah kelu mulai bersenandung

berangsur gerimis menjadi hujan

deras membasahi kemarau pikiran

menyukuri debu tanah yang berterbangan

rima meruah dirapal perlahan

namun, belum selesai kata dirangkai

hujan tiba-tiba usai

dan panas kembali pada hakekatnya

mengeringkan daun, menguapkan rencana

foto hasil jepretan sendiri

pojokan

pojokan

di pojokan ini

sinar jingga datang lewat celah-celah tirai

sore mengintip lewat matanya yang menjuntai

“adakah cerita yang ingin kau sampaikan untukku?”

tertunduk melihat huruf yang rapih berbaris

hati menanti untuk melebur habis

merana oleh nikmat dua teguk madu manis

“adakah resah yang kautuliskan untukku?”

sore membingkiskan senyum dari bibir yang menyitir angin hangat

seperti peluk yang tak lagi diterima

seperti peluk yang tak lagi dirasa

foto hasil jepretan sendiri