… dan terus saja …

… dan terus saja …

… dan kita terus berbincang

di dalam tempat yang tak terlihat 

oleh jiwa-jiwa penuh penasaran

    

… dan kita terus bercanda

di dalam tempat yang tak terduga

oleh jiwa-jiwa penuh curiga

   

… dan kita terus saja demikian

di dalam tempat yang tak teraba

oleh jiwa-jiwa yang memang tak ada

   

… dan aku terus saja demikian

di dalam tempat yang tak ada apa-apa

selain nelangsa yang larut melebur masa

Advertisements

Tentang Lintasan Waktu (album kedua Danilla)

Tentang Lintasan Waktu (album kedua Danilla)

Album kedua, istilah kerennya: sophomore, sering dikatakan sebagai ajang taruhan antara sang artis dengan nasib yang akan menentukan kelanjutan karirnya, akankah langgeng atau berhenti sampai di situ sebelum kemudian menghilang perlahan, tanpa pesan, seperti si mantan, yang kaya setan (maap, ada nuansa curcol, mohon abaikan). Danilla akhirnya tiba di fase sophomore, yang kusambut dengan hati penuh debar dan tanda tanya besar. Penasaran menggerogoti rasa sabar. Harapan begitu besar. Sekitar 2,5 tahun kutunggu kehadirannya setelah Telisik di tahun 2014, album yang penuh dengan rasa cinta baik melalui lirik juga notasi dan – tentunya – paras rupawan dalam kemasan wanita kikuk pemalu pembangkit rindu. Memang dalam album Telisik tak melulu tentang cinta yang utuh, ada juga yang tak (bisa) utuh membawa galau, namun segala notasi yang manis dan jazzy, akan kuingat Telisik sebagai album cinta.

Maka ketika kemarin, Senin 18 September 2017, sekitar pukul 5 sore kulihat pengumuman lewat akun instagram-nya, segera kusambangi album bertajuk Lintasan Waktu ini di Apple Music. Sungguh aku deg-degan. Ditambah dengan suasana diri yang baru saja bangun dari tidur siang yang ditemani mimpi tentang makan indomi telur dua porsi, lengkaplah gelisah yang kualami. Tak sabar kunanti unduhan selesai – aku tak suka streaming – sebab sinyal provider kerap tidak stabil berpotensi merusak kekhusyukan mengamati dan menikmati musik. Ketika akhirnya unduhan selesai, segera ku keluar rumah menuju teras untuk kemudian mendengarkan dengan teliti karya terbaru dari Danilla dan tim. Dengan segelas besar kopi di tangan, in-earphone tertancap di kuping kiri-kanan, posisi duduk sudah nyaman, sambil angkat kaki di bangku taman, maka dimulailah perjalanan.  Continue reading “Tentang Lintasan Waktu (album kedua Danilla)”

Dirimu, Biduanita

Dirimu, Biduanita

Masih teringat

    
Waktu itu gelap di kamar

Gelap di selasar

Gelap di luar

Gelap sekitar

Mencari pegangan agar tak hilang rasa percaya

pada cinta yang rasanya tak lebih dari kumpulan dusta beraroma wangi berasa manis

    
Pejamkan mata mencari suara 

Nelangsa jiwa mencari suaka

Risau membimbing jemari memilih satu nama

Pengalun nada-nada hangat asmara

Yang tak kutahu dan belum pernah kudengar sebelumnya

Suaramu adalah debur ombak di tepi pantai pukul 2 pagi

Matamu sesyahdu dua bintang jatuh

Penampilanmu lukisan anggun tanpa cela

Saat itu hatiku terikat pada harap gelap warna warni resah

Pelik harap, menanggalkan logika

Aku jatuh cinta pada lagu-lagumu, Biduanita

      
Waktu melintas

Kini kupejamkan lagi mata untuk mendengar

deru risau yang menggebu

pada dia yang telah ku tahu

pernah mengalun di deru ombak jam 2 pagi

dua bintang jatuh adalah mesra yang kau bagi

      
Dalam lintasan segala bisa terjadi

Biduanita, engkau telah menjadi

pribadi yang sesungguhnya menanti

Kejujuran terungkap lewat jati diri

Tak kutemukan lagi senandung rindu

Karena memang tak pernah ada itu rindu

Selain sekedar caramu untuk membuka jalan

Menjaring jiwa jiwa gelisah 

dengan perangkap lembutmu

Dan telah kau dapat semua itu

       
Tak ada yang salah, tak ada yang gagal

Ini semua teramat baik adanya

Tidak ada yang buruk, jika engkau jujur

Dan disekitarmu adalah pembawa pesona

Pelontar bunga-bunga api

Pengemas dan penentu penampilanmu

yang berhasil mewujudkan

Mimpi-mimpi indahmu, Biduanita

    
Kubuka mata yang terpejam

Melihat tajuk cerita di atas karyamu

Dan kusampaikan dengan jujur

bahwa indah itu masih ada

hanya saja sudah tidak kutemukan yang dulu ada

Tak ada cinta

Tak ada rindu

Hanya sendu

Menerjemahkan tatap matamu

yang bersembunyi di balik kacamata bundarmu

     
Kupejamkan mata

Kembali

Berusaha menerjemahkan

Dirimu yang baru

Playlist Kacau Balau

Playlist Kacau Balau

Bagi beberapa teman yang mengenalku hanya sejauh sebagai karyawan yang kerja di perusahaan tambang, mereka biasa menebak aku kerja di lapangan, tiada pernah mereka tahu bahwa aku bekerja di belakang meja dalam divisi finance & accounting. Gaya berpakaianku tak sedikitpun mencerminkan hal itu. Tak bisa kusalahkan mereka, karena hanya aku satu-satunya di dalam divisi itu yang setiap hari memakai celana jeans, chino pants, skate shoes, rambut acak-acakan, brewok yang digaya-gayain dan 4 dari 5 hari kerja selalu memakai kemeja kotak-kotak yang bukan kotak-kotak formal, tapi keluaran skate/surf shop atau flanel, kuberi 1 hari saja untuk batik lengan pendek dan itu bukan di hari Jumat. 

Bagi mereka yang sudah mengenalku lebih lama pasti memaklumi dan bisa mengerti mengapa gayaku seperti itu, karena – katanya – aku adalah anak metal. Hehehehehee… Tidak sepenuhnya salah karena aku memang suka memainkan musik metal dengan teman-teman bandku, malah dulu aku suka mainin grindcore, hardcore dan death metal. Sekarang udah tua jadi mending balik ke musik cadas yang agak pelan ajah, biar ga ngos-ngosan pas main. Hihihihi. Kusebut tak sepenuhnya salah karena memang tidak sepenuhnya benar. Aku memang suka main musik tapi aku ga terima kalo disebut sebagai anak metal, itu namanya sudah membatasi kesukaanku dalam menikmati dan bermain musik karena pada kenyataanny tak melulu metal yang kudengar, melainkan lintas genre. Lihat sajalah telepon genggamku, akan kalian temukan lagu Kahitna sampai Siksakubur, Billie Holiday sampai Dying Fetus, Penny Tai sampai Stone Temple Pilots, dan tentunya Deftones dan masih banyak lagi yang lainnya. Random? Ah itu kan hanya menurut mereka yang hidupnya selalu rela untuk dikotak-kotakkan… kalo aku mah bebas, yang penting nikmati hidup… (apa coba…)!

Seperti malam ini, kususun playlist baru yang berisikan lagu-lagu yang menurut kebanyakan temanku adalah haram untuk seorang “musisi cadas”. Hey, cadas itu kan hanya sebatas penampilan, kalo hati mah harus tetap lemah lembut, ye gaaa???? Bahkan beberapa teman yang bukan musisi juga ikut-ikutan menertawakan pilihanku untuk memasukkan Mantan Terindah-nya Kahitna dan lagu Ni Yao Te Ai (entah bener ato engga tulisannya) milik Penny Tai yang merupakan soundtrack serial Meteor Garden dengan F4 sebagai bintangnya. Heeeei itu semua lagu bagus koooq… Pas aku protes atas tawa itu, mereka bilang,”lo kacau banget, pasti gara-gara cinta deh, malu dong ama jambang…”. Bah, sejak kapan jambang itu dijadikan patokan dalam suatu perjalanan cinta?

Namun kuhormati pendapat mereka dengan cara menamakan playlist ini sebagai “Playlist Kacau Balau”. Tak ada yang terlalu aneh dalam hidup ini, tak ada yang terlalu manis, tak ada yang terlalu pahit. Hanya saja semua itu suka tercampur dengan takaran yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan selera pribadi makanya kita anggap sebagai kacau balau. 

Entah apa maksud dan tujuanku menuliskan hal ini. Oh iya, kalimat yang ada di dalam featured picture itu saya foto dari buku Record Of A Night Too Brief karya Hiromi Kawakami. Sekian dam selamat malam mingguan (jika kalian bacanya tepat di malam saya menulis ini).